Kamis, 02 Oktober 2014

Stop And Look Around Once In A While

 ” Life moves pretty fast. If you don’t stop and look around once in a while, you could miss it “


Saya harus setuju dengan kutipan yang satu ini. Buktinya saya tidak sadar kalau rumah (rumah kerabat kakak saya) yang saya tinggali untuk beberapa saat ini tumbuh bunga secantik ini.  Wah …



Sebenarnya kalau dilihat jenis bunganya bukan bunga yang masuk kategori langka dan mahal. Karena bunga jenis ini banyak saya lihat di pekarangan-pekarangan rumah orang maupun perkantoran. Dan mama saya pun menanam bunga jenis ini di rumah. Jadi   kalau mau dibilang bunga ini sangat pasaran untuk di temui.

Kesibukan yang kita jalani setiap hari, yang menguras waktu, tenaga, pikiran bahkan menyita perhatian kita, seringkali membuat kita melewati hal – hal kecil yang kelihatannya memang tidak penting. Tapi ternyata, seperti bunga yang saya lewati ini, efek yang diberikan saat saya berhenti sejenak dan menikmati ciptaan Tuhan yang satu ini sungguh luar biasa. Saya sampai terkagum – kagum pada Tuhan saat memperhatikan warna bunga, daun dan permukaan bunga yang bisa tetap bersih, licin, padahal tinggal di luar dan bersentuhan dengan debu setiap hari. Kok bisa?!

Kalau disiram tiap hari, mungkin saya tidak akan heran mengapa permukaan bunga bisa tetap bersih dan licin. Masalahnya setahu saya, selama hampir dua minggu saya menginap di sini, saya perhatikan bunga ini jarang di jamah (baca:disiram) oleh  penghuni rumah ini. Tapi kenapa tetap bersih ?!
Dan sedang tidak musim hujan. Jadi tidak ada tetesan air yang jatuh ke permukaan bunga untuk membersihkan. Bagaimana hal itu terjadi, hanya Tuhan yang tahu. Yang pasti saya bersyukur atas kesempatan memperhatikan bunga ini dan atas kesadaran bahwa ternyata Tuhan juga peduli dengan ciptaannya yang kecil – kecil dan sering dianggap tidak ada ini. Buktinya dibersihin. Entah bagaimana caranya. Supaya keindahannya tetap terpelihara.


Jangan sampai terlewat hal – hal kecil yang ternyata menarik untuk dinikmati. Seperti yang saya alami pagi ini. Dalam hidup pastinya banyak hal – hal yang sering kita lewati. Sinar matahari pagi yang cerah sehabis hujan. Langit biru setelah beberapa hari mendung. Kicau burung yang menyemarakkan pagi. Bintang – bintang yang memenuhi langit di malam hari. Atau bunga – bunga yang mempercantik pekarangan rumah setiap hari. Dan masih banyak lagi kalau mau dicermati.

Kita butuh waktu untuk berhenti sejenak. Bukan hanya untuk meninjau kembali fokus hidup kita, target – target yang harus dicapai dan sejenisnya yang melulu tentang KITA. Tapi juga untuk menghargai hidup itu sendiri. Hidup yang Tuhan anugerahkan dan sekaligus menghargai karya – karya Tuhan yang sering terlewatkan. Seperti bunga yang saya lihat hari ini. Bahkan untuk mensyukuri keberadan Tuhan sendiri. Dalam hidup dan atas semesta ini. Sesuatu yang pastinya sangat jarang kita lakukan.

Sudahkah anda berhenti sejenak hari ini ?!



Sabtu, 23 Agustus 2014

I'm So Sorry :(

[Taken from google]

Rasanya menyesakkan mengetahui tidak dapat melakukan sesuatu yang lebih untuk menolong orang – orang yang sedang dalam kesusahan. Terlebih lagi orang – orang yang dikasihi. Bukannya mau sok pahlawan, tapi seakan – akan diri ini tidak berguna sama sekali karena tidak bisa melakukan sesuatu untuk mereka dalam mengatasi masalahnya. Useless! Percuma hidup kalau kehadiran kita seperti tidak memiliki faedah atau arti dalam kehidupan mereka. Ngomong mengasihi, tapi kok tidak bisa bantu sama sekali. Menyedihkan sekali kan ?!
Belum lama ini seorang teman baik saya menelpon dan menceritakan masalahnya kepada saya. Hubungan saya dengan dia bisa dibilang dekat karena tidak jarang kami saling curhat tentang masalah yang kami hadapi. Entah masalah pribadi atau masalah dengan keluarganya. Saya tahu Dia benar-benar membutuhkan bantuan saya. Berharap walaupun sedikit dari yang mau dipinjamkan.  Rp 10 juta.
Untuk yang pertama, jujur untuk jumlah yang diminta, saya tidak bisa memenuhi. Dan meminjamkan sedikit rasanya kok tidak akan berarti sama sekali ya?! Jadi bantuan yang bisa saya berikan adalah menghubungi beberapa teman yang kami tahu berpenghasilan tinggi atau cukup ”makmur”  karena tidak memiliki tanggungan sana – sini (atau tanggungannya hanya sedikit ), berteman cukup dekat dengan kami plus berkenan untuk dipinjami dan dibayar dengan cara mencicil 10 kali. Dengan kata lain, menjembatani teman saya yang berhutang ini dengan teman kami yang kami pikir punya potensi untuk dipiutangi.
Kenapa dia tidak melakukannya sendiri ?!
Malu !

Beberapa orang sudah saya hubungi. Sayang sekali mereka menolak meminjamkan uang. Alasannya ada yang sama seperti saya. Apalah arti meminjamkan jumlah yang sedikit padahal yang dibutuhkan besar sekali. Alasan lainnya mereka takut teman kami yang berhutang ini tidak bisa membayar secara rutin. Yang lainnya lagi, punya pertimbangan sendiri yang tidak bisa dikemukakan.
Intinya, untuk beberapa orang yang sudah saya hubungi, semuanya tidak bersedia. Well, semuanya bisa dimengerti. Lagipula jumlahnya juga tidak sedikit. Akan sulit pastinya meminjamkan uang meskipun kepada teman. Terlebih lagi saat mengetahui bahwa dia tidak memiliki penghasilan lain selain gajinya setiap bulan. Meskipun saya berjanji bahwa saya akan membantu menagihkan supaya yang dikhawatirkan mereka tidak terjadi sehingga teman kami ini bisa keluar dari masalahnya, tetap saja tidak berhasil.
“ Maaf ya, si A tidak bisa meminjamkan. Gimana nih ?! “
Kata saya memberi kabar melalui BBM tentang penolakan seorang teman yang kami kenal cukup bermurah hati dalam soal meminjamkan uang.

“ Gak papa ‘lory. Mungkin emang belom rejeki gue “
“ Maaf ya nggak bisa bantu banyak. Loe ada temen, sodara, kenalan untuk minjemin gak ?! “
“ Gak ada ‘lory. Bantu doa aja ya 'lory. Thanks ya ‘lory “

Terima kasih ?! Saya tidak melakukan apapun yang membuat saya layak menerima ucapan terima kasih. Saya gagal membantu teman saya ini … :(
Aaaarrrrrrggggghhhhh … *jambak – jambak rambut *

Dan yang kedua, salah seorang adik (sepupu) saya beberapa hari yang lalu chatting dengan saya, dia menceritakan kepada saya kalau dia sedih karena masalah keluarga. Saya tidak bisa melakukan apa – apa juga untuk meringankan bebannya.
Ampun deh … buat apa gue hidup ya ?! Adik sendiri aja nggak bisa ditolong!
Untuk hal yang satu ini saya sadar saya tidak akan bisa melakukan apapun karena memang hal tersebut di luar kuasa saya. Ini masalah keluarga. Saya orang luar. Tapi tetap saja rasanya menyesakkan mengetahui bahwa saya tidak dapat berbuat sesuatu untuk dia. Terlebih lagi mengingat dia bukan orang biasa dalam kehidupan saya. Seseorang yang saya kasihi. Yang dekat dengan saya.

“ Ada yang bisa kakak lakukan untuk meringankan bebanmu ?! Apa ?! “
Harusnya saya bisa memberikan semacam jalan keluar. Ini ?!
Ah! Menyebalkan!

Untuk mereka yang saya kasihi, saya tidak bisa melakukan banyak. Salah! Bukan banyak. Saya malah tidak bisa melakukan apa – apa! Hanya bisa berdoa. Saya percaya doa itu sangat besar kuasanya!  Tapi kok rasanya tidak cukup ya hanya berdoa?! Ingin sekali melakukan sesuatu yang nyata sehingga mereka bisa lepas atau keluar dari beban mereka masing – masing. Tapi apa ?! Bagaimana ?!


------
” Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah ! “
------

Menanti Tuhan bekerja mengatasi masalah mereka tanpa turut campur tangan saya. Allah ingin menyelesaikannya sendiri menurut cara dan waktuNya.
Mungkin …

Jumat, 22 Agustus 2014

I'm Gonna Be Okay

[Taken from google]
 
Today I prayed
A chance to see you is a wish I said
Don’t ask why I asked for this
‘Coz I also don’t know what the answer is
It’s just a wish
A longing only
Came in the morning
And spoken just like that
In a prayer
Plan-less
But expected
Crystallize and become a good memory
And you know what
A miracle happened
It was granted
A gift of God, I called it
A prayer answered
Yet it’s not perfectly as desired
Still, it was answered
A happy smile I gave hold your step
You stayed a while to wait me out
To see me, just to see me
Even if only for a moment
Before you go
Before we say goodbye in hearts
That only the two of us knew
For a second you seemed don’t care
What’s all around
What will happen
You keep your eyes on me
And that’s what matters
I love the way you looked at me
The way you smile
Pleased my heart
And colored the day
My day, my beautiful day
Something warm suddenly comes
Covered my soul
Cheered my spirit up
Then with confident
Your words came
Sounded friendly and care
It was just a greeting, I know
But somehow brighten up my day
I could smile all day
I’m sure !
Yes, smiling all day

And although we have to be parted this way
It’s not a poor thing I say
Given your smile that only a glance
Allowed me to see that my life today
It’s gonna be okay
Without you here
Where I can see you
Every time I want
Every time I need
I think I’m gonna be okay
Yes, I’m gonna be okay



[........]



Selasa, 06 Mei 2014

100.000





Saat sedang berbelanja di salah satu supermarket  kemarin siang, saya menemukan uang Rp 100.000 tergeletak di lantai.  Uang lembaran merah itu dilipat 4. Anehnya, tidak ada yang sadar kalau ada uang jatuh. Tidak jauh dari tempat uang itu jatuh, saya melihat dua laki-laki  sedang mencari-cari barang kebutuhan mereka. Dalam pikiran saya, apakah kedua orang itu menyadarinya atau mungkin saja mereka berpura-pura tidak melihat uang tersebut. Atau, mungkin mereka menyadarinya. Tapi terlalu gengsi untuk mengambilnya. Atau bisa jadi mereka berpikir bahwa ada yang sengaja menjatuhkan uang itu di lantai. Dan berniat mengerjai. Sehinga mereka ragu untuk mengambilnya. Takut kalau-kalau ternyata ada candid camera. Tiba-tiba masuk TV dan ditonton jutaan umat di Indonesia. Lalu dihina-hina,
” iiiihhhh ... mata duitan banget ya tuh orang! Uang cuma Rp 100.000 aja dikejar-kejar! Nggak malu apa tuh ?! “
Ya eyalah dikejar. Rp 100.000 gitu! Kalau cuma  500 perak juga pasti didiemin. Eh tapi kalau Rp 500-nya bertebaran di mana – mana, lain lagi  perkaranya :mrgreen: 

Awalnya saya juga berpikir demikian. Takut menemukan kalau ternyata saya dikerjain orang atau stasiun TV. Ada kan stasiun TV yang tidak beradab menayangkan acara seperti ini? Menjadikan orang sebagai bahan tertawaan publik. Yang menurut mereka jenaka, kreatif atau apapun namanya tapi sesungguhnya melecehkan. Tidak lucu kan saat diambil ternyata uangnya jalan sendiri atau terbang ke sana ke mari. Menari -nari di hadapan saya. Lalu saya mengejar-ngejar untuk meraihnya. Yang ada nanti saya malah malu sendiri karena jadi bahan tertawaan orang-orang, paling tidak orang – orang yang sedang berbelanja di situ.
Tapi rasa penasaran saya lebih besar dari pikiran-pikiran tersebut. Dan entah kenapa saya menjadi tidak peduli dengan kekhawatiran – kekhawatiran yang saya rasakan itu. Karena, sekali lagi, ini Rp 100.000 man! Bukan GOCENG. Loe mo bilang gue mata duitan, terserah dagh! Tapi uang sebesar itu tidak mungkin ” ditelantarkan ” begitu saja, bukan? Kalau anda ada di posisi saya, anda pasti akan melakukan hal yang sama.
Wanna bet ?! 
Dan saya pun mengambilnya. Lalu saya memberitahu teman saya yang saat itu juga sedang berbelanja bersama saya.  Saya menunjukkannya dan dia terkejut.
” Duitnya siapa itu lory? Jatuh dimana? “ Jangan-jangan punya orang yang jatuh?
” Bisa jadi “
Bicara soal menemukan uang di jalan, dulu ada yang mengatakan kepada saya agar uang tak bertuan yang kita temukan secara tidak sengaja (khususnya di tempat umum) sebaiknya tidak disimpan atau dijadikan milik pribadi. Tidak dipakai juga untuk kepentingan pribadi. Uang itu harus diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.
Alasannya?
Katanya, kalau uang itu kita simpan atau kita ”makan” sendiri, kemungkinan besar kita akan mengalami hal yang serupa. Serupa maksudnya di sini, kita akan kehilangan uang juga suatu hari nanti. Apakah jumlah yang hilang nanti sama ?! Kalau itu tidak tahu. Namun yang pasti, karena kita sudah mengambil milik orang lain meskipun tidak disengaja dan menggunakannya untuk kepuasan kita sendiri, dalam waktu cepat atau lambat kita juga akan kehilangan milik kita tanpa sengaja.
Well, benar atau tidaknya, saya juga tidak tahu. Karena bisa dibilang saya jarang menemukan uang Rp 100.000 – an di tempat-tempat umum. Kalaupun pernah menemukan, biasanya uang recehan seperti 100-an atau 500-an. Dan, bukannya sombong atau sok kaya, biasanya saya hiraukan. Jujur saja, apalagi kalau bukan karena nominalnya :D . Eh, tapi kalau dikumpul-kumpulin, bisa beli mobil kali ya ?!
:roll: … :roll: … :roll:
Tapi, meskipun saya belum tahu kebenarannya, tetap saya ingin melakukannya. Meneruskan uang itu kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Bukan karena saya sok malaikat atau takut mengalami hal yang sama, kehilangan uang juga. Entah bagaimana saya percaya setiap kita pasti akan mengalami yang namanya kehilangan uang sekali, dua kali atau beberapa kali ( asal tidak setiap saat ) dalam hidup. Prinsipnya, tidak ada manusia yang bisa begitu berhati – hatinya dalam menjaga uangnya.

Loh, Paman Gober bagaimana ?! 
Paman Gober kan bebek. Bukan orang. 
Jadi, maksudnya bebek lebih bisa menjaga uang ?!
Lha, bebek emang butuh uang ?! 
Trus, kenapa Paman Gober punya uang kalau bebek nggak butuh uang ?!
Ini kenapa jadi Gober – Gober- an sih ?!

Ok ! Kembali ke laptop … :)
Akan ada saat dimana kita ceroboh. Tanpa sengaja kita menjatuhkan uang kita atau menghilangkannya. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa dalam hal ini selain memetik pelajaran untuk lebih berhati – hati di kemudian hari. Saya pernah beberapa kali mengalaminya. Jadi, lebih karena uang itu bukan milik saya dan, kecuali saya tidak mampu, pengemis atau orang lain yang lebih membutuhkan, saya harus meneruskannya.
Pagi ini dalam perjalanan dari rumah menuju kantor, saat saya harus berhenti di lampu merah,  Saya melihat seorang ibu  yang sedang mengumpulkan plastik-plastik bekas di jalan.Saat melihat beliau, saya buru – buru mencari dompet saya di dalam tas. Sayangnya, belum sempat membuka dompet, lampu hijau menyala dan kendaraan yang  saya tumpangi harus segera melaju, jadilah saya gagal memberikan uang tersebut.
Bisa saja sih saya lempar. Tapi saya takut beliau tidak ‘ ngeh ‘ kalau itu uang. Jadinya saya berniat memberikan kepada seorang pengemis yang biasa meminta-minta di perempatan lampu merah. Kakinya lumpuh. Dan saya sudah berencana untuk memberikan uang itu ke anak tersebut. Tapi dalam perjalanan pulang  ke rumah, saya tidak melihat  anak itu. Jadi uang itu masih ada di saya.
Pagi ini saya melapor kepada Tuhan kalau saya menemukan uang kemarin dan meminta Dia untuk menunjukkan kepada siapa uang ini mau Dia berikan. Dan saya masih menunggu jawabanNya.

Eh, anda butuh uang ?! :)


Sabtu, 19 April 2014

Missing Piece

 
 
 
Hal itu yang hilang. Saat dia tidak perlu sungkan datang atau berpikir dua kali untuk "menghampiri" saya. Baik untuk bercerita atau hanya duduk diam di samping saya. Karena satu alasan saja. Dia menemukan kenyamanannya bersama dengan saya. Di dalam diri saya. Dan itu sudah cukup membuatnya tenang dan bahagia.
 
 
Tapi karena kebodohan yang saya lakukan, semuanya rusak. Tidak lagi seperti sedia kala. Meskipun segalanya sudah diperbaiki dengan segala daya dan upaya. Untuk bisa tampak seperti semula. Namun tetap hati ini tidak bisa berpura – pura. Ada sesuatu yang sirna. Yang saat direnungkan kembali, sesungguhnya itulah yang terutama. Yang paling bernilai dan bermakna.
 
 
Seandainya waktu bisa diputar ulang. Sehingga tidak ada yang hilang. Tidak ada yang berubah. Semuanya tetap sama. Dan saya tidak perlu menanti – nantikan saat dimana dia dapat kembali bersikap apa adanya. Di hadapan saya. Atau saat bersama saya.
 
 
Namun yang terjadi, terjadi. Yang bisa dilakukan kini hanya merendahkan diri. Memohon kepada Tuhan yang empunya kuasa. Berkenan mengubahkan atau mengembalikan semuanya. Ke awal lagi. Demi kerinduan yang saya miliki. Yang saya harapkan sesuai dengan yang DIA kehendaki. Sehingga hati yang merana ini dapat terobati. Dan bisa bersukacita kembali.
 
[ Ini hanya suara hati. Tidak perlu ditanggapi :) ]



 

Jumat, 04 April 2014

Kisah si Gadis Cantik :)

[Taken from Google]

Menilai diri terlalu rendah itu tidak boleh. Karena akan membuat kita minder. Hasilnya sudah pasti merugikan diri sendiri. Kita tidak akan dapat melihat kelebihan lain yang Tuhan karuniakan dalam diri kita. Mungkin secara fisik tidak ada yang bisa dikagumi atau dibanggakan. Meskipun saya sendiri meragukan hal ini. Misalnya tidak cantik, gemuk, pendek, keriting, hitam, tompel-an, bopeng (jangan tersinggung ya :D ) atau lain – lain yang dapat dimasukkan ke kategori kekurangan atau kelemahan. Tapi bagaimana dalam hal karakter, sifat atau kepribadian?
Tidak mungkin tidak ada yang bisa disebut sebagai kelebihan, bukan? Tuhan tidak sejahat itu sampai tidak memberikan kelebihan dalam diri seseorang untuk membuat orang tersebut tetap menarik bagi orang lain atau memiliki kekuatan untuk dikagumi atau membuatnya tetap unik.

Tapi jangan juga menilai diri terlalu tinggi. Sehingga menjadi sombong karena merasa diri lebih. Seperti kisah yang saya baca berikut ini.  Mungkin anda sudah pernah membacanya.

This Pretty Girl Was Seeking A Rich Husband.

I’m going to be honest of what I’m going to say here. I’m 25 this year. I’m very pretty, have style and good taste. I wish to marry a guy with $500k annual salary or above. You might say that I’m greedy, but an annual salary of $1M is considered only as middle class in New York.
My requirement is not high. Is there anyone in this forum who has an income of $500k annual salary ? Are you all married ? I wanted to ask: what should I do to marry rich persons like you ?
Among those I’ve dated, the richest is $250k annual income, and it seems that this is my upper limit.
If someone is going to move into high cost residential area on the west of New York City Garden (?), $250k annual income is not enough.
I’m here humbly to ask a few questions:
1) Where do most rich bachelors hang out ? (Please list down the names and addresses of bars, restaurant, gym)
2) Which age group should I target ?
3) Why most wives of the riches are only average-looking ? I’ve met a few girls who don’t have looks and are not interesting, but they are able to marry rich guys.
4) How do you decide who can be your wife, and who can only be your girlfriend ? ( my target now is to get married)

Ms. Pretty


Bagaimana menurut anda?

VERY ( ini ” VERY ” loh :D ) PRETTY, HAVE STYLE, GOOD TASTE.

Sebenarnya sih sah – sah saja orang mau menilai dirinya seperti apa. Mau serendah atau setinggi apapun, itu urusan masing – masing orang dengan dirinya sendiri dan Tuhan. Tapi sebagai ciptaan ( namanya saja sudah ciptaan, berarti ada yang menciptakan, yang so pasti LEBIH dalam segala hal ), seharusnya kita sadar bahwa kita tidak sempurna.
Bahwa dibalik kelebihan yang dimiliki ada juga kekurangan yang Tuhan lekatkan. Semua itu menyatu dalam diri dan diberikan dengan maksud agar kita dapat selalu ” berkaca ” atau menilai diri kita sendiri dengan bijak sehingga kita tahu bagaimana bersikap, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.
Nah, bagaimana dengan kisah Ms. Pretty ini selanjutnya?
Sebuah jawaban yang mengejutkan (and smart :) ) pun datang,

A philosophical reply from CEO of J.P. Morgan below :

Dear Ms. Pretty, 
I have read your post with great interest. Guess there are lots of girls out there who have similar questions like yours. Please allow me to analyze your situation as a professional investor.
My annual income is more than $500k, which meets your requirement, so I hope everyone believes that I’m not wasting time here.
From the standpoint of a business person, it is a bad decision to marry you. The answer is very simple, so let me explain.
Put the details aside, what you’re trying to do is an exchange of “ beauty ” and “ money ” : Person A provides beauty, and Person B pays for it, fair and square.
However, there’s a deadly problem here, your beauty will fade, but my money will not be gone without any good reason. The fact is, my income might increase from year to year, but you can’t be prettier year after year.
Hence from the viewpoint of economics, I am an appreciation asset, and you are a depreciation asset. It’s not just normal depreciation, but exponential depreciation. If that is your only asset, your value will be much worse 10 years later.
By the terms we use in Wall Street, every trading has a position, dating with you is also a “ trading position ”.
If the trade value dropped we will sell it and it is not a good idea to keep it for long term – same goes with the marriage that you wanted. It might be cruel to say this, but in order to make a wiser decision any assets with great depreciation value will be sold or “ leased ”.
Anyone with over $500k annual income is not a fool; we would only date you, but will not marry you. I would advice that you forget looking for any clues to marry a rich guy. And by the way, you could make yourself to become a rich person with $500k annual income.This has better chance than finding a rich fool.
Hope this reply helps.
signed,

J.P. Morgan CEO


Hahahahah....

Yah, kesimpulannya, berhati – hatilah dalam menilai diri kita. Jangan terlalu berlebihan, baik itu berlebihan dalam melihat kelemahan (kekurangan) yang kita miliki sehingga kita menjadi kurang percaya diri dan merasa tidak layak akan apapun juga atau dalam memperhatikan kekuatan (kelebihan) yang kita punya sehingga kita menjadi terlalu percaya diri dan merasa layak mendapatkan lebih.

Karena,

-----

” Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri ia akan ditinggikan “


[ Matius 23:12 ]

-----

Seperti yang dialami oleh si Ms. Pretty. Direndahkan. Dipermalukan.

Apapun itu, nilailah diri kita sewajarnya. Karena jika berlebihan akan merugikan diri kita sendiri. Tidak mau kan mengalami seperti yang Ms. Pretty alami ?! Lagipula, segala sesuatu yang berlebihan tidak baik bukan ? :)




Senin, 24 Maret 2014

Why Do YOU Still Love Me ?!

Imagining myself having this conversation with my God.

jesus-with-children-2309-234x300Me : ” God, can I ask You something ? “ 
God : ” Sure ! You can ask me anything “ 
Me : ” Why did You die for me ? I mean, You  didn’t have to “ 
God : ” I’ve written it for you there ( pointing the Bible in my hand ) “ 
Me : ” I know ! I just don’t get it. Don’t You know who I am ? “ 
God : ” Oh, I know exactly who you are. And no one knows you better than Me “ 
Me : ” So, why do You still love me ?! “ 
[ silent ... ] 
God : ” You know what … I don’t know. I just love you and it doesn’t need explanation “