Rabu, 19 Februari 2014

Ego Saya "Disentil" Tuhan

Jujur, saya selalu merasa bahwa tempat dimana saya bekerja saat ini bukanlah tempat dimana seharusnya saya berada.  Dibandingkan dengan kantor saya sebelumnya, tempat ini bisa dikatakan tidak memberikan apapun yang saya cari. Sebenarnya saya punya alasan kenapa sampai saya memilih bekerja disini. Yaa, untuk "sesuatu" alasan pribadi yang belum bisa (saat ini) saya ceritakan. Mengapa saya bilang memilih? karena memang sebelum saya memutuskan untuk menerima tawaran bekerja disini, saya mempunya beberapa pilihan kerja yang cukup menjanjikan masa depan saya. Tetapi lagi-lagi karena  "sesuatu" itu, mau tidak mau, suka tidak suka akhirnya saya memutuskan untuk bekerja disini.
 
Saya tidak bicara soal materi. Tetapi pengembangan diri. Pengalaman yang lebih lagi. Pembelajaran yang baru. Tantangan yang lebih berarti. Saya tidak menemukannya sesering dan sebanyak saat saya bekerja di kantor yang lama. Pertumbuhan saya kentara sekali. Ketika megetahui hasil evaluasi kerja saya yang mengalami peningkatan, rasanya senang sekali,  sampai-sampai jika saya mengenang kembali apa yang  saya alami dulu, apa yang  saya pelajari, apa yang saya peroleh, saya tidak habis pikir kalau saya bisa mendapatkan sebanyak itu. Sekali lagi, saya tidak bicara soal uang.

Di sini, di tempat ini, saya hanya mempelajari sedikit sekali. Bahkan ilmu yang saya peroleh di kantor lama, tidak semua bisa saya terapkan di kantor ini. Sehingga saya cenderung merasa saya tidak diberdayakan sama sekali. Padahal saya masih mau berkarya lebih lagi. Namun lingkup yang  saya miliki kecil sekali. Seperti ditempatkan dalam sebuah kotak kecil. Tidak memiliki ruang gerak lebih. Yang bisa dilakukan hanya diam dan menyesuaikan diri. Bukankah hal itu menyesakkan? 
 
Malam ini Dia menyatakan maksudnya menempatkan saya di tempat dimana saya berada sekarang ini.

” Jangan sekali – kali mempertimbangkan apakah anda berguna atau tidak, tetapi pertimbangkanlah selalu bahwa kamu bukan milik kamu sendiri. (1 Kor 6 : 19) Anda adalah milik-Nya”


Dengan kata lain, memikirkan apakah saya akan berguna di satu tempat bukanlah urusan saya. Itu urusan Tuhan. Tapi dimanapun ditempatkan, rasanya tidak mungkin Tuhan tidak membuat kita berguna. Bukankah begitu?

Apakah saya sombong? Umm, sepertinya iya . Merasa diri lebih, atau layak memperoleh yang lebih lagi. Meskipun untuk alasan terpuji. Ingin kembali mempelajari banyak hal lagi. Namun Tuhan sepertinya ingin saya mensyukuri keberadaan saya saat ini, di tempat ini. Suatu hari nanti saya akan di sadarkan, mengapa saya ditempatkan disini. Di kantor ini. Memang tidak banyak yang bisa saya pelajari dari pekerjaan saya yang sekarang ini. Tuhan juga tahu itu. Tapi bukan berarti tidak ada sesuatu yang bisa digali, yang cukup bernilai untuk dipelajari. Pasti ada. Saya hanya perlu membuka hati.

Hari ini ego saya ‘disentil‘ Tuhan.  Tapi rasanya menyenangkan sekali. Karena pada akhirnya saya mengerti bahwa diri ini bukan saya yang memiliki. Diri ini milik Tuhan. Dan Tuhan bisa sebebas mungkin memakai diri ini untuk melakukan apapun yang Tuhan kehendaki. Dan disitulah letak diri seseorang itu berguna atau tidak. Saat dia menyerahkannya untuk maksud dan kepentingan Tuhan.

Selamat mengalami kehancuran ego dan selamat memberikan diri untuk Tuhan :)