Jujur, saya selalu merasa bahwa tempat dimana saya bekerja saat ini bukanlah tempat dimana seharusnya saya berada. Dibandingkan dengan kantor saya sebelumnya, tempat ini bisa dikatakan tidak memberikan apapun yang saya cari. Sebenarnya saya punya alasan kenapa sampai saya memilih bekerja disini. Yaa, untuk "sesuatu" alasan pribadi yang belum bisa (saat ini) saya ceritakan. Mengapa saya bilang memilih? karena memang sebelum saya memutuskan untuk menerima tawaran bekerja disini, saya mempunya beberapa pilihan kerja yang cukup menjanjikan masa depan saya. Tetapi lagi-lagi karena "sesuatu" itu, mau tidak mau, suka tidak suka akhirnya saya memutuskan untuk bekerja disini.
Saya tidak bicara soal materi. Tetapi pengembangan diri. Pengalaman
yang lebih lagi. Pembelajaran yang baru. Tantangan yang lebih berarti.
Saya tidak menemukannya sesering dan sebanyak saat saya bekerja di
kantor yang lama. Pertumbuhan saya kentara sekali. Ketika megetahui hasil evaluasi kerja saya yang mengalami peningkatan, rasanya senang sekali, sampai-sampai jika
saya mengenang kembali apa yang saya alami dulu, apa yang saya
pelajari, apa yang saya peroleh, saya tidak habis pikir kalau saya bisa
mendapatkan sebanyak itu. Sekali lagi, saya tidak bicara soal uang.
Di sini, di tempat ini, saya hanya mempelajari sedikit sekali. Bahkan
ilmu yang saya peroleh di kantor lama, tidak semua bisa saya terapkan
di kantor ini. Sehingga saya cenderung merasa saya tidak diberdayakan
sama sekali. Padahal saya masih mau berkarya lebih lagi. Namun lingkup
yang saya miliki kecil sekali. Seperti ditempatkan dalam sebuah kotak
kecil. Tidak memiliki ruang gerak lebih. Yang bisa dilakukan hanya diam
dan menyesuaikan diri. Bukankah hal itu menyesakkan?
Malam ini Dia menyatakan maksudnya menempatkan saya di tempat dimana saya berada sekarang ini.
” Jangan sekali – kali mempertimbangkan apakah anda berguna atau tidak, tetapi pertimbangkanlah selalu bahwa kamu bukan milik kamu sendiri. (1 Kor 6 : 19) Anda adalah milik-Nya”
Dengan kata lain, memikirkan apakah saya
akan berguna di satu tempat bukanlah urusan saya. Itu urusan Tuhan. Tapi
dimanapun ditempatkan, rasanya tidak mungkin Tuhan tidak membuat kita
berguna. Bukankah begitu?
Apakah saya sombong? Umm, sepertinya iya
. Merasa diri lebih, atau layak memperoleh yang lebih lagi. Meskipun
untuk alasan terpuji. Ingin kembali mempelajari banyak hal lagi. Namun
Tuhan sepertinya ingin saya mensyukuri keberadaan saya saat ini, di
tempat ini. Suatu hari nanti saya akan di sadarkan, mengapa saya ditempatkan disini. Di kantor ini. Memang tidak banyak yang bisa saya pelajari dari pekerjaan
saya yang sekarang ini. Tuhan juga tahu itu. Tapi bukan berarti tidak
ada sesuatu yang bisa digali, yang cukup bernilai untuk dipelajari.
Pasti ada. Saya hanya perlu membuka hati.
Hari ini ego saya ‘disentil‘ Tuhan. Tapi rasanya menyenangkan
sekali. Karena pada akhirnya saya mengerti bahwa diri ini bukan saya
yang memiliki. Diri ini milik Tuhan. Dan Tuhan bisa sebebas mungkin
memakai diri ini untuk melakukan apapun yang Tuhan kehendaki. Dan
disitulah letak diri seseorang itu berguna atau tidak. Saat dia
menyerahkannya untuk maksud dan kepentingan Tuhan.
Selamat mengalami kehancuran ego dan selamat memberikan diri untuk Tuhan :)