Sejak kecil kita diajarkan oleh orang tua untuk menjadi anak yang cerdas dan
berprestasi. Entah dengan meraih ranking tiga besar di kelas, juara menyanyi di
tingkat kabupaten, sampai juara menghafal ayat Alkitab di sekolah minggu.
Sejak kecil kita diajar untuk mengejar pencapaian-pencapaian dengan
gelar-gelar sederhana untuk membuktikan kecerdasan di beberapa bidang dan
kemampuan intelektual yang tinggi.
Hal tersebut terus berakar di dalam diri dan mengendalikan perjalanan hidup
untuk mengejar pencapaian-pencapaian dan gelar yang lebih hebat lagi, karena
memang setiap manusia perlu untuk mengaktualisasikan dirinya. Akhirnya kita akan
merasa puas, ketika ada puluhan piala, sertifikat pengakuan dan trofi-trofi yang
diukirkan dengan cantik atas nama diri kita sendiri, di saat ajal menjemput. Ya,
dunia telah memperoleh bukti atas kecerdasan kita yang spektakuler.
Tapi apakah ada orang tua yang mengajarkan anak-anaknya sedari kecil bahwa
kecerdasan pada dasarnya merupakan kemampuan dalam mengendalikan diri sendiri.
Bahwa kemenangan tidak melulu adalah suatu pencapaian yang diperoleh ketika
telah berhasil menaklukkan orang lain yang menjadi lawan atau musuh kita. Bahwa
pada dasarnya diri sendirilah yang paling sulit ditaklukan bahkan oleh orang
yang dikenal piawai sekalipun.
Bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk mengalahkan ego dan pemikiran tentang
AKU yang adalah pusat dari segala sesuatu. Tentang AKU yang berhak atas
kebahagiaan dan kenyamanan itu. Tentang AKU yang layak menerima semua hormat dan
keramahan itu. Bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk memindahkan fokus hidup
tentang memikirkan (lagi-lagi) diri sendiri menjadi berfokus pada kondisi orang
lain.
Kecerdasan adalah tindakan berani yang kita ambil ketika memberikan hasil
tabungan untuk membeli Handphone baru kepada seorang tetangga yang sakit tapi
tidak bisa berobat karena tidak punya biaya. Kecerdasan dalam wujud kemurahan
hati.
Kecerdasan adalah kemampuan untuk tetap memegang prinsip tidak terlibat
korupsi dan tindakan kecurangan sedikit pun di saat lingkungan ingin menggiring
kepada gaya hidup yang licik dan menggerogoti rakyat. Kecerdasan dalam wujud
keteguhan.
Kecerdasan adalah kemampuan menyesuaikan diri di lingkungan kantor sehingga
bisa diterima, disenangi, dan diandalkan walau harus dengan pedih bersedia
mengikis kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah berubah menjadi karakter selama
bertahun-tahun. Kecerdasan dalam wujud kerendahan hati.
Kecerdasan adalah bangkit dari kegagalan dan rasa duka yang besar untuk tetap
mampu menjalani hari-hari dengan riang dan optimis. Kecerdasan dalam wujud
kebesaran jiwa.
Kecerdasan adalah mampu bertahan hidup di dalam kondisi yang tidak nyaman,
tanpa mengeluh. Kecerdasan dalam wujud kesabaran.
Kecerdasan adalah memaafkan dan memaafkan lagi hingga sampai tujuh puluh kali
tujuh kali.
Kecerdasan adalah sabar, murah hati, tidak iri dengki, tidak memegahkan diri,
tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri
sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita
karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Kecerdasan adalah kemampuan untuk mengasihi. Tropinya adalah kebahagiaan dan
wajah-wajah penuh sukacita di sekitar kita. Sayapun sedang belajar di tahap ini. Bagaimana menjadi manusia yang benar-benar 'CERDAS" di hadapan-Nya.
"Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu,
mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir;
mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir;
bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna"
(1 Korintus 13:7-9)