Senin, 16 September 2013

Dan Ternyata Laki-laki Itu Adalah Rio

Siang ini  saya mempunyai keperluan di salah satu Bank Swasta dan  mengharuskan saya mengantri untuk beberapa menit  lamanya.  Setelah mengambil nomor antrian saya pun segera mencari posisi untuk duduk. Wah cukup banyak juga nasabah yang datang pada saat itu. Dan membuat saya sedikit kesulitan untuk mencari kursi buat duduk. Dan akhirnya saya memilih posisi paling depan, karena memang di kursi itu yang terlihat agak longgar. Sebenarnya ada juga di bagian tengah yang masih kosong tetapi saya sengaja memilih kursi paling depan dengan pertimbangan bahwa saya tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk sampai ke tellernya.

Sebelum duduk:

         Saya:  permisiii...(dengan sedikit senyuman)

Sadar bahwa di samping kursi saya adalah seorang laki-laki yang cukup membuat saya  bakal  betah duduk berlama-lama sambil menunggu nomor antrian saya (Hehehe)

         Laki-laki itu: (dengan senyuman juga) Silahkannn...
         
Ohh so sweettt...  (^_*)

Saya-pun duduk tepat di samping laki-laki itu. Sadar bahwa menunggu itu adalah pekerjaan yang paling membosankan, maka saya-pun segera mengeluarkan ponsel saya untuk main game. (Biasanya pilihan main game atau memgajak chatting teman-teman saya yang ada di media sosial ketika saya berada dalam kondisi seperti ini)  Saat sedang asik dengan game saya, tiba-tiba laki-laki di samping saya ini mengajak saya berbicara: 

          Laki-laki itu : Maaf nona, boleh saya bertanya?
          Saya:   Ohh iya. boleh.. Mau nanya apa?

Laki-laki  itu: Punya bolpen? saya pinjam sebentar..
saya-pun segera mengeluarkan bolpen dari dalam tas saya..

          Saya:  Ini...(menyodorkan bolpen sambil semyum)
          Laki-laki itu: Maaf pinjam sebentar ya..

          Saya: Ohh iya, boleh2.. pakai saja ( dalam hati: jd milik jg saya rela kok :D )
 
Sempat melirik, laki-laki ini sedang menulis sesuatu di buku kecilnya. Entah apa yang di tulisnya.

           Laki-laki itu : Terima kasih (menyodorkan kembali bolpen saya sambil senyum)
           Saya : Iyaa..(membalas dengan senyuman saya yang paling manis, semanis gula jawa) 

Kembali melanjutkan game saya...

2 Menit kemudian...

           Laki-laki itu: Maaf nona apa ibu  ya...??

Gubrakkkkkkkk.. Ibu??? Emangnya tampang dan body saya mirip ibu2? Enak ajaa...

          Saya: Nona... (Kali ini menjawab tanpa senyum)
          Laki-laki itu:  Ohh maaf yaa..
          Saya: Iya gak apa-apa. (padahal dalam hati kesel juga..)

Belom setengah menit dia kembali bertanya..

          Laki-laki itu: Nona kerja ya?

Dalam hati saya berguman; apa pentingnya menjawab pertanyaannya, toh saya tidak kenal sama sekali dengan laki-laki itu. Walaupun ada sedikit pengecualian karna facenya yang rada2 mirip Brad Pitt bukan berarti bisa seenaknya dia bisa menanyakan hal-hal pribadi seperti itu. Didepan umum pula.. Saya mulai ilfeel dengan laki-laki itu.

          Saya  :  Iyaa 
          Laki-laki itu: kerja dimana?

Ihhh nih orang mau tau aja nih urusan pribadi orang..(Petugas sensus ya??)

          Saya: hanya tersenyum dan memilih tidak menjawab..
          Laki-laki itu: Maaf nona namanya lory ya?

Haahhh?? Kagett kok bisa laki-laki ini tau nama saya...

          Saya: Iyaa.. Loh kok kamu tau nama saya.. (dengan tampang yang heran, kaget, plus bloon)
          Laki-laki itu: Wahh ternyata benar kamu...

Saya makin penasaran dengan laki-laki ini..Dia-pun menyalami saya..

          Laki-laki itu: Saya Rio.. Teman satu kelas waktu SD dulu... Inget gak?
          Saya:  Riooo???? (berfikir sejenak) dan kemudian..
                     Ohh Iyaaa.. Inget2.. Ya ampunn Ini kamu ya?

Dan ternyata laki-laki itu adalah teman satu kelas waktu kami sama-sama duduk di bangku SD. Tepatnya 20 tahun yang lalu..Cerita Rio meminjam bolpen itu ternyata hanya alasan dia saja. Dia hanya ingin memastikan apakah itu benar-benar saya. Ternyata sejak awal saya masuk dia sudah memperhatikan saya dan yang membuat saya terharu adalah dia masih hafal dengan wajah saya yang imut-imut ini. Kok bisa ya.. Sedangkan saya benar-benar sudah lupa tampangnya dia yang bulat, dengan tahi lalat kecil mirip Rano Karno. Sekarang muncul di hadapan saya dengan tampang bak Brad Pitt. Hehehe..

Kami-pun saling menyalami dan terlibat dalam perbincangan yang cukup seru tanpa peduli dengan keadaan di sekitar kami. Orang-orang yang ada di dekat kami hanya memandang dengan berbagai tanda tanya.. Hehehee.. Who care???

Saling bercerita hal-hal yang gila ketika kami masih sama-sama dulu, membuat kami berdua tertawa terbahak-bahak. Dalam waktu hampir 40 menit kami bercerita banyak hal. Menceritakan pengalaman masing-masing. Menanyakan keberadaan teman-teman lain yang entah dimana mereka sekarang. Yang pasti saya sangat bahagia dan terharu Tuhan mempertemukan saya dengan Rio lewat kejadian lucu. Usut punya usut ternayata Rio sudah menikah dan dikaruniai satu orang putri yang cantik. Kedatangan Dia ke Kupang karena ada sesuatu urusan bisnis. Ini adalah hari terakhir Rio di Kupang, karena besok dia harus kembali ke Batam. Karena memang sekarang dia stay di Batam. Niatnya untuk beberapa saat  menetap di Kupang  gagal karena adanya beberapa kendala.

Saatnya  Berpisah 



Sampai tiba giliran nomor antriannya di panggil. Segera Rio menuju teller dan setelah urusannya selesai dia balik ke tempat duduknya semula. Bukan untuk melanjutkan obrolan kami tetapi mengucapkan salam perpisahan kepada saya karena dia harus segera pergi karena masih ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan. Sebelum pergi Rio meminta nomor ponsel saya. Maka kami-pun saling bertukar nomor ponsel.

      Rio:  Saya pamit ya lory.. Kapan-kapan kita ngobrol di tlp.
      Saya: Oke.. Sampai ketemu lagi. Salam keluarga-mu.

      ” Good luck with your bisnis! “

      Rio: Ok lory, terima kasih buat bolpennya..
      Saya: Hahaha, iya.. Ini buat-mu saja..

      Rio mengambil bolpen itu dan pergi..

Sebenarnya tidak ada yang terlalu special dari pertemuan itu, hingga saya harus membuat tulisan ini.  Saya-pun pernah beberapa kali bertemu dengan teman lama saya, tanpa di rencanakan. Tiba-tiba saja bertemu pada sauatu kesempatan dan sikon yang tidak kami duga-duga. Tetapi tidak dengan pertemuan kali ini. Ada sesuatu hal yang membuat saya cukup berkesan. Seperti perasaan tidak iklas saat melihatnya berpamitan tadi, yang sempat terbesit di hati. Cieee. Tolong  Jangan berfikir yang aneh-aneh ya.. Dia kan sudah menikah :D  (Dilarang menganggu rumah tangga orang) Dosa loh.. dosaaa...!!!

Rio adalah seorang business man. Di batam dia mempunyai bisnis yang dirintis bersama teman-temannya. Dan terbilang bisnis mereka sukses. Kedatangan dia ke Kupang untuk merintis bisnis dia sendiri tetapi harus gagal dan dia harus kembali ke batam untuk merintis bisnisnya itu.  Keinginan dia untuk BERDIKARI ” berdiri di atas kaki sendiri “ (selama ini pinjem kaki orang maksudnya) patut diacungin jempol. Karena saya tau bahwa itu bisnis yang tidak gampang.

Dari Rio, ternyata saya belajar beberapa hal yang menurut saya patut dikagumi. Salah satunya mengenai kerendahan hati. Mengetahui ayahnya seorang dokter ahli, saat ditanya mengapa dia tidak memilih jadi dokter saja,  tetapi memilih menjadi pe-bisnis, jawabannya cukup mengejutkan :
Rio :  Karena saya tahu saya tidak pintar. Dan untuk menjadi dokter harus pintar. Saya tidak pintar. Jadi saya memilih menjadi pe-bisnis. Yang saya bisa.
Dalam hati saya mengangkat 4 jempol untuk kejujuran dia. Tidak malu sama sekali. Tidak menutup-nutupi kelemahannya. Tidak berusaha membuat saya atau mungkin orang lain terkesan dengannya. Karena banyak orang akan memberi kesan bahwa dia adalah sosok yang hebat dan layak dikagumi. Tapi tidak dengan dia.
Saya : Menjadi  Business-man tidak sulit? 
Rio :  Paling tidak, tidak sesulit jadi dokter.
"Dalam bisnis kamu harus tahu keseluruhannya.  Saya meneliti strukturnya, sistemnya, manajemennya dan hal lainnya yang semuanya terkait dalam sebuah bisnis. Business is whole! (membuat lingkaran besar dengan tangan)  Saya harus menguasai sepenuhnya. Untuk bisnis apapun itu yang akan saya bangun nanti “
Saya :  Iya juga sih
Tapi dibilang tidak pintar, saya rasa tidak benar juga. Karena tentunya dia tidak akan memberikan jawaban seperti ini jika dia tidak ‘berotak‘ . Ini menurut saya loh …

Ting nong! 
Sesuatu yang baru buat orang seperti saya. Khususnya yang tidak pernah berpikir atau bermimpi untuk menjadi seorang pelaku bisnis. Dan hal itu yang membuat saya kagum.
Saya :  Bisnis apa yang mau kamu bangun nanti?
Rio :   Oil and gas
Saya : Ada banyak perusahaan oil and gas di Indonesia. Apa kelebihan perusahaanmu nanti?
Rio :   Saya tahu! Saya ingin membuat perusahaan saya menjadi yang dominan. Karena saya   ingin membuat pembangkit listrik tenaga gas untuk di rumah-rumah juga
Wahh! Bagaimana caranya? We’ll see
Saya tidak mengatakan bahwa perkataannya mengubah pandangan saya lalu membuat saya memutuskan untuk banting steer, berhenti dari pekerjaan saya yang sekarang untuk kemudian memilih menjadi business woman. Tidak sampai seperti itu. Tetapi mendapatkan pemahaman mengenai bisnis meskipun saya tidak tertarik (belum!) untuk terjun ke dalamnya tetap memberi sesuatu yang berarti untuk wawasan saya.


Rio...Rio..  kenapa kita baru ketemu sekarang ya??? :D