Cita – citaku ( cita – citaku )
Kepingin jadi dokter
Cita – citaku ( cita – citaku )
Ingin jadi insinyur
Cita – citaku ( cita – citaku )
Menjadi anak pinter
Cita – citaku ( cita-citaku )
Ingin jadi presiden
Kepingin jadi dokter
Cita – citaku ( cita – citaku )
Ingin jadi insinyur
Cita – citaku ( cita – citaku )
Menjadi anak pinter
Cita – citaku ( cita-citaku )
Ingin jadi presiden
[ by : Susan & Ria Enes ]
* * * * *
Saya kadang iri dengan orang-orang yang sepertinya bisa ” membaca ” masa depannya sendiri dengan jelas. Tahu apa yang diinginkan. Tahu bagaimana mencapainya. Dan luar biasanya, tahu atau yakin bahwa mereka bisa mendapatkan seperti yang mereka mau. Terlepas dari berapa lama waktu yang diperlukan untuk menggapainya dan bagaimana usaha yang dikerahkan untuk meraih keinginan tersebut, intinya saya salut dengan orang-orang ini karena mereka tahu PERSIS ke mana mereka akan pergi. Mereka memiliki tujuan yang jelas. Dan hebatnya lagi keinginan tersebut tidak berubah sedikit pun.
Bukan berarti mereka tidak pernah diperhadapkan dengan beragam
pilihan dan bingung memilih mana yang benar-benar mereka inginkan.
Sebaliknya, mereka punya banyak hal yang bisa dipilih, namun uniknya
mereka bisa fokus dengan satu keinginan saja untuk diraih. Orang-orang
seperti ini, menurut saya, layak untuk dikagumi. Karena tidak semua
orang saya rasa mampu menetapkan tujuan yang sedemikian jelas untuk
dirinya.
Seperti teman saya yang satu ini. Dari dulu dia sudah bercita-cita untuk sekolah di luar negeri. Berbekal beasiswa dari pemerintah akhirnya dia bisa melanjutkan studynya di luar negeri. Mendengar ceritanya tentang usaha dia untuk mendapatkan beasiswa tersebut; bukan hal yang mudah. Butuh perjuangan yang cukup ekstra untuk itu. Saat saya bertanya, mau bekerja dimana nanti setelah lulus? Sebuah nama
perusahaan bergengsi dengan lancar keluar dari mulutnya. Masalah apakah
dia pada akhirnya bekerja di tempat tersebut atau tidak, itu urusan
belakangan. Intinya dia tahu ke mana dia melangkah.
Atau teman saya yang ini.
Berbeda dengan saya. Saya punya banyak sekali keinginan (baca : cita-cita). Tapi tak satupun dari keinginan tersebut terwujud persis atau
sesuai dengan yang saya harapkan. Misalnya, semasa kecil ketika ditanya orang tua dan teman-teman; lory apa cita-cita kamu? Pengen menjadi pramugari. Apa yang memotivasi saya, simple saja,
keinginan untuk bisa terbang gratis di dalam dan ke luar negri. Whatss??? pramugari lory?? Ngaca dong.. ngacaaa.. Tinggi semampai (semeter tak sampai) kok mau jadi pramugari. Hahaha. Dulu saya juga pernah punya keinginan untuk menjadi dokter. Saya tahu saya tidak punya tampang dokter sedikit pun. Dan saya tau untuk sekolah dokter membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Syukurlah saya tidak jadi dokter, karena ternyata saya takut disuntik dan takut setiap kali melihat mayat manusia. Sadar akan dua hal tersebut maka saya-pun memutuskan untuk kuliah dan berharap setelah selesai saya ingin menjadi dosen sesuai dengan bidang ilmu yang saya pelajari. Tetapi, bukannya menjadi dosen, Yang ada malah bekerja menjadi seorang admin di salah satu perusahaan telekomunikasi.
Kadang-kadang saya bertanya, cita-cita saya ini sebenarnya apa? Rasanya banyak sekali keinginan, mau jadi ini mau jadi itu,
tapi tidak ada yang kesampaian. Saya tidak pernah mengharapkan dan tidak pernah juga diarahkan, baik oleh
teman, kenalan, pacar atau keluarga, untuk mengambil profesi
ini sebagai pekerjaan saya sekarang . Tapi justru bidang inilah yang saya geluti selama 4 tahun.
Lalu, bagaimana? Apakah itu namanya saya tidak punya cita-cita?
Susah menjawabnya. Menurut anda, dari kisah yang saya ceritakan di
atas tadi, apakah saya termasuk orang yang tidak punya cita-cita?
Atau, haruskah cita-cita itu ditentukan di awal? Bagaimana jika
seseorang pada akhirnya menemukan bahwa pekerjaan itulah yang
sesungguhnya dia inginkan setelah terjun ke dalamnya?
Maksud saya, bisa saja kan cita-cita itu ditemukan tidak di awal?
Lazimnya sih memang ditentukan di awal. Seperti seseorang yang ingin
pergi ke suatu tempat, cita-cita bisa diartikan sebagai tempat yang
akan dituju orang tersebut. Kalau orang tersebut tidak tahu kemana dia
akan pergi, dia hanya akan berputar-butar tidak jelas.
Tapi bagaimana jika dia memang harus berputar-putar dahulu sebelum
pada akhirnya menemukan tempat yang ingin dia tuju? Karena memang
begitu jalan hidup yang sudah dirancangkan baginya. Katakan saja, orang
tersebut baru menemukan apa yang selama ini diinginkannya hanya saja
melalui arah yang berlawanan atau jalur yang tidak biasanya. Apakah itu
tidak dapat disebut sebagai cita-cita? Namanya juga orang. Tidak
hanya fisik dan karakter saja yang beda. Jalan pikiran, keinginan atau
kemauan dan lain sebagainya pasti juga tidak sama. Iya apa iya?
Saya percaya semua orang pasti punya cita-cita. Karena, kalau balik
lagi ke pengertian apa itu cita-cita, yaitu : ( 1 ) keinginan [
kehendak ] yg selalu ada di dalam pikiran dan ( 2 ) tujuan yg sempurna [
yg akan dicapai atau dilaksanakan ], rasanya setiap orang pasti punya
keinginan dan tujuan yang akan dicapai. Tidak mungkin seseorang hidup
tanpa keinginan. Tanpa cita-cita. Semalas-malasnya orang, dia pasti
punya keinginan untuk dilakukan. Dia pasti punya cita-cita untuk
diraih. Bukan begitu?
Menurut saya, maaf ya jika bertentangan dengan anda, tidak masalah
dimana cita-cita itu ditentukan. Di depan, tengah atau belakang. Yang
penting adalah bagaimana pada akhirnya kita mengetahui apa yang paling
kita inginkan dan tidak berhenti berusaha sebelum mencapainya. Tapi
tidak stop di situ saja. Setelah tiba ke tujuan tersebut, pertanyaan
selanjutnyan adalah apakah kita menikmatinya? Karena percuma kita
memiliki cita-cita, meraih semua mimpi kita, tapi kita sendiri tidak
menikmatinya.
Anda punya pendapat yang berbeda?
