Jumat, 22 November 2013

Cita-cita : Di Depan? Tengah atau Belakang??



Cita – citaku ( cita – citaku )
Kepingin jadi dokter
Cita – citaku ( cita – citaku )
Ingin jadi insinyur
Cita – citaku ( cita – citaku )
Menjadi anak pinter
Cita – citaku ( cita-citaku )
Ingin jadi presiden


[ by : Susan & Ria Enes ]

* * * * * 

Saya kadang iri dengan orang-orang yang sepertinya bisa ” membaca ” masa depannya sendiri dengan jelas. Tahu apa yang diinginkan. Tahu bagaimana mencapainya. Dan luar biasanya, tahu atau yakin bahwa mereka bisa mendapatkan seperti yang mereka mau. Terlepas dari berapa lama waktu yang diperlukan untuk menggapainya dan bagaimana usaha yang dikerahkan untuk meraih keinginan tersebut, intinya saya salut dengan orang-orang ini karena mereka tahu PERSIS ke mana mereka akan pergi. Mereka memiliki tujuan yang jelas. Dan hebatnya lagi keinginan tersebut tidak berubah sedikit pun.


Bukan berarti mereka tidak pernah diperhadapkan dengan beragam pilihan dan bingung memilih mana yang benar-benar mereka inginkan. Sebaliknya, mereka punya banyak hal yang bisa dipilih, namun uniknya mereka bisa fokus dengan satu keinginan saja untuk diraih. Orang-orang seperti ini, menurut saya, layak untuk dikagumi. Karena tidak semua orang saya rasa mampu menetapkan tujuan yang sedemikian jelas untuk dirinya.

Seperti teman  saya yang satu ini. Dari dulu dia sudah bercita-cita untuk sekolah di luar negeri. Berbekal  beasiswa dari pemerintah akhirnya dia bisa melanjutkan studynya di luar negeri. Mendengar ceritanya tentang usaha dia untuk mendapatkan beasiswa tersebut; bukan hal yang mudah. Butuh perjuangan yang cukup ekstra untuk itu.  Saat saya bertanya, mau bekerja dimana nanti setelah lulus? Sebuah nama perusahaan bergengsi dengan lancar keluar dari mulutnya. Masalah apakah dia pada akhirnya bekerja di tempat tersebut atau tidak, itu urusan belakangan. Intinya dia tahu ke mana dia melangkah.
Atau teman saya yang ini.


Berbeda dengan saya. Saya punya banyak sekali keinginan (baca : cita-cita). Tapi tak satupun dari keinginan tersebut terwujud persis atau sesuai dengan yang saya harapkan. Misalnya, semasa kecil ketika ditanya orang tua dan teman-teman; lory apa cita-cita kamu? Pengen menjadi pramugari. Apa yang memotivasi saya, simple saja, keinginan untuk bisa terbang gratis di dalam dan ke luar negri. Whatss??? pramugari lory?? Ngaca dong.. ngacaaa.. Tinggi semampai (semeter tak sampai) kok mau jadi pramugari. Hahaha. Dulu saya juga pernah punya keinginan untuk menjadi dokter. Saya tahu saya tidak punya tampang dokter sedikit pun. Dan saya tau untuk sekolah dokter membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Syukurlah saya tidak jadi dokter, karena ternyata saya takut disuntik dan takut setiap kali melihat mayat manusia. Sadar akan dua hal tersebut maka saya-pun memutuskan untuk kuliah dan berharap setelah selesai saya ingin menjadi dosen sesuai dengan bidang ilmu yang saya pelajari. Tetapi, bukannya menjadi dosen, Yang ada malah bekerja menjadi seorang admin di salah satu perusahaan telekomunikasi.

Kadang-kadang saya bertanya,  cita-cita saya ini sebenarnya apa? Rasanya banyak sekali keinginan, mau jadi ini mau jadi itu, tapi tidak ada yang kesampaian. Saya tidak pernah mengharapkan dan tidak pernah juga diarahkan, baik oleh teman, kenalan, pacar  atau keluarga, untuk mengambil profesi ini sebagai pekerjaan  saya sekarang . Tapi justru bidang inilah yang saya geluti selama 4 tahun.


Lalu, bagaimana? Apakah itu namanya saya tidak punya cita-cita?
Susah menjawabnya. Menurut anda, dari kisah yang saya ceritakan di atas tadi, apakah saya termasuk orang yang tidak punya cita-cita? Atau, haruskah cita-cita itu ditentukan di awal? Bagaimana jika seseorang pada akhirnya menemukan bahwa pekerjaan itulah yang sesungguhnya dia inginkan setelah terjun ke dalamnya?
Maksud saya, bisa saja kan cita-cita itu ditemukan tidak  di awal? Lazimnya sih memang ditentukan di awal. Seperti seseorang yang ingin pergi ke suatu tempat, cita-cita bisa diartikan sebagai tempat yang akan dituju orang tersebut. Kalau orang tersebut tidak tahu kemana dia akan pergi, dia hanya akan berputar-butar tidak jelas.

Tapi bagaimana jika dia memang harus berputar-putar dahulu sebelum pada akhirnya menemukan tempat yang ingin dia tuju? Karena memang begitu jalan hidup yang sudah dirancangkan baginya. Katakan saja, orang tersebut baru menemukan apa yang selama ini diinginkannya hanya saja melalui arah yang berlawanan atau jalur yang tidak biasanya. Apakah itu tidak dapat disebut sebagai cita-cita? Namanya juga orang. Tidak hanya fisik dan karakter saja yang beda. Jalan pikiran, keinginan atau kemauan dan lain sebagainya pasti juga tidak sama. Iya apa iya? 

Saya percaya semua orang pasti punya cita-cita. Karena, kalau balik lagi ke pengertian apa itu cita-cita, yaitu : ( 1 ) keinginan [ kehendak ] yg selalu ada di dalam pikiran  dan ( 2 ) tujuan yg sempurna [ yg akan dicapai atau dilaksanakan ], rasanya setiap orang pasti punya keinginan dan tujuan yang akan dicapai. Tidak mungkin seseorang hidup tanpa keinginan. Tanpa cita-cita. Semalas-malasnya orang, dia pasti punya keinginan untuk  dilakukan. Dia pasti punya cita-cita untuk diraih. Bukan begitu?

Menurut saya, maaf ya jika bertentangan dengan anda, tidak masalah dimana cita-cita itu ditentukan. Di depan, tengah atau belakang. Yang penting adalah bagaimana pada akhirnya kita mengetahui apa yang paling kita inginkan dan tidak berhenti berusaha sebelum mencapainya. Tapi tidak stop di situ saja. Setelah tiba ke tujuan tersebut, pertanyaan selanjutnyan adalah apakah kita menikmatinya? Karena percuma kita memiliki cita-cita, meraih semua mimpi kita, tapi kita sendiri tidak menikmatinya.

Anda punya pendapat yang berbeda?