Rabu, 20 November 2013

------->

Apakah mungkin membangun pernikahan yang sehat di dunia yang secara kultural sedang sakit parah ini??

Apakah mengembangkan, memperkuat, dan mempertahankan komitmen yang menyenangkan Tuhan masih mungkin untuk diusahakan di tengah kemerosotan nilai di tengah dunia ini??

Apakah masih ada kemungkinan untuk mengalami sebuah hubungan yang menjadi sumber cinta, pemenuhan dan pertumbuhan??


Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengusik pikiran saya beberapa minggu terakhir ini. Well bukan tanpa alasan, melihat dan merasakan langsung kondisi-kondisi sulit yang membuat saya harus berhenti sejenak  untuk berfikir, merenung kembali pesan apa yang ingin Tuhan sampaikan kepada saya lewat curhat beberapa teman-teman dekat saya.
Teman saya curhat kalau pacarnya [cowoknya] berselingkuh [memiliki WIL]. Saya sudah bisa merasakan bagaimana perasaan sahabat saya saat itu, ketika dia mendengar pengakuan dari mulut pacarnya sendiri  kalau ternyata pacarnya mempunyai hubungan dengan wanita lain. Sudah tentu sakit.  Bagaimana tidak; ketika seseorang sudah dengan iklas menyerahkan hatinya untuk dicintai dan berharap mendapat balasan yang sama, tetapi malah penghianatan yang didapat.  Bahkan ada teman saya yang sudah memiliki ikatan pernikahan tetapi masih juga memiliki WIL. (Hebat yaa teman saya yg satu ini..)

Memang saya belum merasakan menjalani hubungan pernikahan seperti apa, tetapi merasakan hubungan pacaran pernah saya alami.  Bahkan kondisi  sulit seperti itu pernah saya alami. Yahh mengakui kebenaran memang sulit. Sangat sulit. Tetapi menerima kebenaran jauh lebih sulit. Saya belajar berbulan-bulan untuk mengampuni dan memberi kesempatan kedua, ketiga. Berusaha dan berusaha lagi, sampai pada akhirnya saya harus meyelamatkan diri saya sendiri dari bahaya yang lebih besar lagi. Yaa.. Saya harus berhenti!!!
BERHENTI! MENYERAH! Adalah kata-kata yang tidak ingin saya koleksi dalam kamus kehidupan saya. Namun, saat itu, saya harus benar-benar berhenti.
Saat menjalani, saya menangis. Namun, saat berhentipun sakitnya semakin menjadi-jadi. Sakit yang paling sakit, tapi menjadi sakit hati yang terakhir. Pada akhirnya, saya mengerti, bahwa kegagalan relasi itu bukan untuk disesali tapi diterima dan disyukuri. Dengan berkata 'tidak', saya memberi penghargaan pada diri saya untuk memilih apa yang saya hargai. Dengan berkata 'berhenti', saya memberi pelajaran bagi diri saya tentang apa arti memperjuangkan perjuangan yang baik dan menghentikan perjuangan yang tidak seharusnya diperjuangkan.

Kesembuhan itu pekerjaan Tuhan dalam dimensi waktu Ilahi yang tak terbatas. Saya tidak menyesal, karena pelajaran kehidupan yang berat selalu melalui kesulitan. Dan Tuhan mengobrak-abrik karakter, prinsip, perspektif saya dalam bagian ini.

Seorang lelaki tidak akan berubah untuk wanitanya.
Dia HANYA dan HARUS berubah untuk dirinya sendiri.
Ada saatnya saya merasa, mereka akan berubah, dan itu hanyalah masalah waktu.
Namun, waktu itu tak ada yang tahu. Mungkin waktu itu, ketika dia masih ada di samping kita atau justru waktu itu tiba saat mereka ada di samping orang lain.
Tapi Tuhan tidak pernah salah memimpin ataupun mengarahkan.
Kitalah yang salah mengartikan atau mempersepsikan hal itu..  
Dan saya memutuskan untuk menutup bagian itu dengan syukur.

Saya menikmati kehadiran-Nya dalam setiap bentuk proses hidup. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat saya berbahagia berada di titik ini.


-Keep running my daughter, I'm (Jesus) with you (lory)-