Jumat, 15 November 2013

Menikah atau Tidak Menikah





Menurut saya,

Tidak! Bukan keharusan. Bagi saya menikah adalah sebuah pilihan. Pendapat masyarakat-lah yang membuat menikah seakan-akan sebuah keharusan. Tujuan akhir hidup seseorang. Dengan kata lain, kalau menikah, hidup yang dijalani sudah sempurna!  Padahal bukan. Sekali lagi, BUKAN! Menikah bukan tujuan akhir hidup manusia. Dan sempurnanya hidup seseorang tidak ditentukan dari apakah dia menikah atau tidak. Kalau memang itu ukurannya, kasihan sekali para biarawan dan biarawati, biksu, atau orang–orang yang memilih untuk mengabdikan hidupnya bagi Tuhan dengan tidak menikah.

Setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihannya. Termasuk pilihan untuk menikah atau tidak menikah. Dan seharusnya orang lain tidak berhak menghakimi. Terlebih lagi jika pilihan yang dibuat tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Melainkan belajar untuk tetap menghormati orang tersebut atas pilihan-pilihan yang sudah dibuatnya. Jadi, jangan marah, kesal atau sejenisnya.

Memang, tidak bisa dipungkiri orang lain juga akan merasakan sedikit atau banyak dampak yang dibawa dari pilihan tersebut. Misalnya keluarga. Khususnya orang tua. Kalau dalam keluarga saya, ada pendapat yang mengatakan bahwa orang tua sepertinya belum sempurna menjalankan tanggung jawabnya sebagai orang tua jika belum menikahkan semua anaknya. Tapi bagaimana jika memang pilihannya jatuh untuk tidak menikah? Apakah lantas si anak harus dipaksa menikah supaya orang tua bisa tenang karena pada akhirnya sudah menjalankan tugasnya dengan sempurna? Waduh, kasihan sekali si anak kalau begitu.
Kalau ternyata dia bahagia atau lebih berbahagia dengan memilih tidak menikah, bukankah kita harus mendukungnya? Karena yang terpenting sesungguhnya adalah orang tersebut bahagia dengan pilihan yang diambilnya. Bukankah menjadi bahagia adalah impian semua orang? Dan melarang seseorang untuk menjalani apa yang menjadi pilihannya, bukankah sama saja dengan menghalangi orang tersebut untuk berbahagia? Jahat dong kita . Lagipula, definisi setiap orang tentang bahagia itu tidak sama. Jadi jangan pukul rata bahwa dengan menikah seseorang sudah pasti bahagia. Belum tentu.

Bagaimana jika seseorang memutuskan untuk tidak menikah?
Menurut saya, sah-sah saja. Silakan dilakukan jika memang sudah siap menjalani hidup tanpa pasangan (suami / istri). Tapi sekali lagi, motivasi yang mendasari keputusan untuk tidak menikah haruslah benar. Maksudnya, bukan karena alasan-alasan pribadi atau alasan lain yang tidak masuk akal.
Kalau memang hal itu adalah sebuah panggilan, memang bagian dari rencana Tuhan, “dikhususkan“ untuk sebuah pelayanan, bukankah memang harus dilakukan? Tidak menikah dalam kasus ini sudah menjadi sebuah keharusan. Tapi kalaupun memang memilih untuk tetap tidak menikah, untuk alasan apapun juga, itupun harus seijin Tuhan. Tidak bisa ‘asal‘ memutuskan. Karena, bagaimana jika Tuhan sebenarnya merencanakan pernikahan dalam kehidupan kita namun kita menolaknya meskipun alasannya sangat agamis? Bukankah itu sama artinya dengan  menentang kehendak Tuhan? Dan pada saat kita melawan apa yang menjadi kehendak-Nya, sudah pasti bukan kebahagiaan yang didapatkan. Tapi kebalikannya. Benar kan?

Jadi, sebaiknya menikah atau tidak?
Tergantung! Tergantung apa? Kalau saya, tergantung Tuhan ngomong apa . Jadi kesimpulannya, tanya Tuhan deh ya. Hehehe

Trus, kenapa saya tiba – tiba menulis tentang ini? Tidak tahu juga. Mungkin efek dari undangan pernikahan yang saya terima beberapa bulan terakhir ini dari beberapa  family, sahabat, tetangga  dan rekan kerja saya.
Jadi kepikiran, lalu mulai bertanya-tanya. Menikah itu harus apa tidak ya?