Menurut saya,
Tidak! Bukan keharusan. Bagi saya menikah adalah sebuah pilihan. Pendapat
masyarakat-lah yang membuat menikah seakan-akan sebuah keharusan. Tujuan akhir
hidup seseorang. Dengan kata lain, kalau menikah, hidup yang dijalani sudah
sempurna! Padahal bukan. Sekali lagi, BUKAN!
Menikah bukan tujuan akhir hidup manusia. Dan sempurnanya hidup seseorang tidak
ditentukan dari apakah dia menikah atau tidak. Kalau memang itu ukurannya,
kasihan sekali para biarawan dan biarawati, biksu, atau orang–orang yang memilih untuk
mengabdikan hidupnya bagi Tuhan dengan tidak menikah.
Setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihannya. Termasuk pilihan untuk
menikah atau tidak menikah. Dan seharusnya orang lain tidak berhak menghakimi.
Terlebih lagi jika pilihan yang dibuat tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
Melainkan belajar untuk tetap menghormati orang tersebut atas pilihan-pilihan
yang sudah dibuatnya. Jadi, jangan marah, kesal atau sejenisnya.
Memang, tidak bisa dipungkiri orang lain juga akan merasakan sedikit atau
banyak dampak yang dibawa dari pilihan tersebut. Misalnya keluarga. Khususnya
orang tua. Kalau dalam keluarga saya, ada pendapat yang mengatakan bahwa orang
tua sepertinya belum sempurna menjalankan tanggung jawabnya sebagai orang tua
jika belum menikahkan semua anaknya. Tapi bagaimana jika memang pilihannya jatuh
untuk tidak menikah? Apakah lantas si anak harus dipaksa menikah supaya orang
tua bisa tenang karena pada akhirnya sudah menjalankan tugasnya dengan sempurna? Waduh, kasihan sekali si anak kalau begitu.
Kalau ternyata dia bahagia atau lebih berbahagia dengan memilih tidak
menikah, bukankah kita harus mendukungnya? Karena yang terpenting sesungguhnya
adalah orang tersebut bahagia dengan pilihan yang diambilnya. Bukankah menjadi
bahagia adalah impian semua orang? Dan melarang seseorang untuk menjalani apa
yang menjadi pilihannya, bukankah sama saja dengan menghalangi orang tersebut
untuk berbahagia? Jahat dong kita .
Lagipula, definisi setiap orang tentang bahagia itu tidak sama. Jadi jangan
pukul rata bahwa dengan menikah seseorang sudah pasti bahagia. Belum tentu.
Bagaimana jika seseorang memutuskan untuk tidak menikah?
Menurut saya, sah-sah saja. Silakan dilakukan jika memang sudah siap
menjalani hidup tanpa pasangan (suami / istri). Tapi sekali lagi, motivasi
yang mendasari keputusan untuk tidak menikah haruslah benar. Maksudnya, bukan
karena alasan-alasan pribadi atau alasan lain yang tidak masuk akal.
Kalau memang hal itu adalah sebuah panggilan, memang bagian dari rencana
Tuhan, “dikhususkan“ untuk sebuah pelayanan, bukankah memang harus dilakukan?
Tidak menikah dalam kasus ini sudah menjadi sebuah keharusan. Tapi kalaupun
memang memilih untuk tetap tidak menikah, untuk alasan apapun juga, itupun harus
seijin Tuhan. Tidak bisa ‘asal‘ memutuskan. Karena, bagaimana jika Tuhan
sebenarnya merencanakan pernikahan dalam kehidupan kita namun kita menolaknya
meskipun alasannya sangat agamis? Bukankah itu sama artinya dengan menentang
kehendak Tuhan? Dan pada saat kita melawan apa yang menjadi kehendak-Nya, sudah
pasti bukan kebahagiaan yang didapatkan. Tapi kebalikannya. Benar kan?
Jadi, sebaiknya menikah atau tidak?
Tergantung! Tergantung apa? Kalau saya, tergantung Tuhan ngomong apa . Jadi kesimpulannya, tanya Tuhan deh ya. Hehehe
Trus, kenapa saya tiba – tiba menulis tentang ini? Tidak tahu juga. Mungkin efek dari undangan pernikahan yang saya terima beberapa bulan terakhir ini dari beberapa family, sahabat, tetangga dan rekan kerja saya.
Jadi kepikiran, lalu mulai bertanya-tanya. Menikah itu harus apa tidak ya?
