Teman : “ Lory, gue tuh sebel deh sama mantan gue. Gue tuh benci sama dia. Baru kali ini gue benci sama orang sampe segitunya.. Tapi setiap gue buka email, die selalu kirim email-email kayak ‘gini “
Dia menunjukan hampir sebagian isi email mantannya. Hanya berisi kutipan – kutipan tentang
FORGIVENESS dalam bahasa Inggris yang diambil dari internet (soalnya pake
ditulis segala nama yang buat kutipannya :D). Kesimpulan saya, mungkin si pria sedang berusaha meminta maaf kepada teman
saya ini. Berharap dengan mengirimkan kata – kata bijak tersebut, hati teman
saya melunak kemudian mau memaafkan dirinya. Dan siapa tahu bisa ‘ balikan ‘
lagi.Ya, namanya juga pernah ada ” kisah “.
Tapi, apa masalah sebenarnya sampai dia mengirimkan email seperti itu?
Setelah membaca …
Saya : “ Emang kenape kamu benci dia? “
Teman : “ Dia tuh udah nyakitin hati gue ‘lory! Sakit hati gue! “
Saya : “ Memang kamu diapain sama dia? “
Mulutnya terbuka seperti mau cerita, tapi tertutup lagi. Lalu dia menunduk sambil mengutak-atik hand phonenya, dan membaca email
yang lain. Kelihatan sekali enggan menceritakannya. Mungkin memalukan. Atau
terlalu sakit untuk dikemukakan. Tapi saya tidak menyerah. Bukannya ‘kepo‘
atau mau tahu urusan orang, tapi tidak lucu juga sih karna curhatnya belum kelar :)
Saya : “ Kamu diselingkuhin ya? “Saya mencoba menebak.
Teman : “ Iyaaaa !!! “
Ternyata benar!
Dia kembali menghadap saya dan bercerita dengan ” semangatnya “.
Teman : “ Gue tuh benci banget sama dia! Gue nggak tau kenapa ya, nggak bisa maafin dia. Rasanya sakit banget kalau inget – inget apa yang dia lakuin! Kalau sama mantan yang lain gue bisa dengan mudahnya maafin. Tapi kalau sama mantan gue ini, gue nggak bisa! Gue pengen ngelupain dia. Capek gue! Tapi nggak bisa! ‘Gimana ya lory? “
Saya berusaha mencerna kata – katanya dengan baik sambil, of course,
berpikir kira – kira jawaban apa yang bisa saya berikan kepada teman saya
ini.
Sebenarnya teman saya ini jarang bercerita tentang kehidupan
percintaannya kepada saya. Tapi entah kenapa pagi ini tiba – tiba dia menceritakan masalahnya pada saya. Mungkin karena saat itu dia memang sedang ingin menumpahkan
uneg – unegnya‘ dan butuh seseorang untuk mendengarkan masalahnya. Saya sih senang – senang saja. Bukannya karena saya pada akhirnya tahu
bagaimana kisah cintanya. Tapi lebih karena saya dinilai dapat dipercaya untuk
mendengarkan isi hatinya.
Setelah berpikir cukup keras selama beberapa menit, akhirnya saya menjawab …
Saya : “ Kamu harus bisa memafkannya terlebih dahulu, sebelum kamu bisa melupakannya.“
Mengapa saya katakan bahwa dengan memaafkan pada akhirnya bisa melupakan?
Menurut saya, karena jika kita belum bisa memaafkan, kita akan terus teringat
akan sakit hati atau kepahitan yang ditimbulkan sehingga yang muncul ke
permukaan adalah perasaan dendam. Bukankah kecenderungan manusia pada saat dia
disakiti, dia akan menyakiti kembali? Itu sifat alami kita. Dan jika perasaan
ini sudah menguasai hati kita, bagaimana mungkin kita bisa melupakan orang dan
apa yang telah dilakukannya terhadap kita? Dengan memaafkan kita bisa
melepaskan kekuatan yang ditimbulkan oleh perasaan dendam tersebut sehingga kita
bisa melupakan apa yang telah diperbuat orang – orang yang telah memperlakukan
kita dengan buruk.
Mungkin anda pernah membaca tulisan saya yang ini. Tuhan tahu betapa bergumulnya saya akan hubungan kami. Impian-impian yang telah dan akan kami bangun bersama. Saya berharap bahwa dia adalah laki-laki yang akan mendampingin saya seumur hidup saya. Tapi rupanya DIA berkehendak lain.
Dan bukan hanya itu,.. Saya mecoba flash back lagi kehidupan saya beberapa tahun yang lalu, bukannya mau mengungkit-ungkit kesalahan orang lain terhadap saya, tetapi saya sadar bahwa ketika saya mengalami hal-hal yang menyakitkan itu (dimaki, di ancam, di fitnah, dikhianati, dibenci, dan sejuta hal-hal buruk lainnya), sebenarnya saya sudah dimampukan Tuhan untuk menghadapi hal-hal buruk itu. Tuhan tau saya punya segudang kata maaf untuk orang-orang itu. Hehehe..
Memang butuh waktu yang cukup lama untuk saya bisa benar – benar menerima kenyataan
yang ada dan mengerti maksud Tuhan serta memaafkan apa yang telah dilakukan mereka terhadap saya. Tapi setelah saya dimampukan Tuhan untuk memaafkan semua, saya bisa untuk tidak mengingat – ingat lagi hal – hal buruk
yang pernah saya alami dulu.
Melupakan sampai tidak ingat sama sekali memang tidak akan pernah mungkin
terjadi. Dan melupakan di sini bukan berarti secara harfiah kita lupa what
was done to us. Whoa, mana mungkin! Kita tidak akan pernah bisa melupakan kenyataan-kenyataan pahit yang pernah kita alami. Biar bagaimanapun itu adalah bagian dari
memori yang “ berkesan “ meskipun kemasannya menyakitkan. After all, we
cannot selectively ” delete ” events from our memory. Benar kan? Jadi saya
tidak akan pernah mungkin lupa. Tapi paling tidak saya tidak perlu mengingat –
ingat lagi. Karena saya telah memilih untuk melepaskan orang yang menyakiti saya
tersebut dari sakit hati yang saya rasakan. Sehingga dia dan segala perbuatannya
tidak harus menghantui saya setiap hari.
Oh ya, apa yang terjadi pada saya dulu sempat menguasai saya sedemikian rupa
sampai – sampai saya tidak bisa ( mau ) melihat pembelajaran berharga apa
sesungguhnya yang sedang Tuhan ajarkan atau pembentukan karakter apa yang sedang DIA
kerjakan dalam diri saya melalui peristiwa tersebut. Tapi syukurlah saya tidak
dibiarkan dalam kondisi itu terus menerus. Tuhan masih mengasihani saya.
” Thank you, Lord ! “
Anyway, itulah tips yang bisa saya berikan ke teman saya. Berdasarkan
pengalaman saya sendiri. Apakah berhasil juga buat dia, kita tunggu saja. Tapi
sekali lagi, jangan lakukan dengan usaha sendiri. Karena kita tidak akan mungkin
bisa memaafkan orang yang kita benci. Terlebih lagi yang sudah menyakiti hati
kita atau menghancurkan perasaan kita habis – habisan. Hanya Tuhan yang dapat
memungkinkan hal itu terjadi.
Teman : ” Jadi gue harus ngedoain dia? Gue benci sama dia lory! ‘Gimana mungkin gue bisa ngedoain dia? “
Saya : ” Justru karena tidak bisa makanya harus berdoa. Minta Tuhan menolong. Kamu pasti bisa maafin dia dan pada akhirnya tidak perlu ingat – ingat dia lagi. Kamu harus berdamai dengan perasaan kamu dulu untuk bisa melupakan sakit hati kamu. Baru setelah itu kamu bisa melupakan dia “
Teman : ” Gitu ya? Ya udah deh. Gue harus coba.. Doain gue ya lory “
* * * * *
- Forgiving people who have hurt you is your gift to them. Forgetting people who have hurt you is your gift to you -