Hari Sabtu kemarin (2 November 2013), Gereja saya diundang untuk mengikuti rapat Pengurus salah satu Yayasan Pemberi
Bantuan untuk anak-anak kurang mampu, dimana Gereja saya merupakan salah satu anggota
pengurus di dalamnya. Sehari sebelumnya, saya di telpon oleh salah satu teman gereja saya, yang kebetulan dialah yang dipilih menjadi pengurus kegiatan tersebut. Dalam kegiatan ini saya bertemu dengan seorang wanita yang cukup menarik.
Wanita itu berumur sekitar 50an tahun. Ia seorang pendiri beberapa
Yayasan-yayasan Sosial. Pertama-kali ia menyapa, saya dapat merasakan
aura yang berbeda dari cara –nya melihat. Serasa ada suatu kehangatan dan penerimaan yang tulus dari seseorang yang baru dikenal.
Dalam diskusi, dia lebih diam dan memperhatikan teman-teman lain berbicara dan sepertinya sedang menganalisa lebih dalam
berdasarkan pernyataan dan ide-ide yang diutarakan teman-teman yg lain. Sewaktu saya dan teman-teman lain berbincang-bincang dengan-nya tentang sepak terjangnya yang
sudah tidak terhitung lagi dalam semangat kepedulian terhadap
permasalahan sosial. Yah, saya cepat sekali kagum dengan orang-orang
seperti ini. Orang-orang yang secara alami merespon dengan tepat kebutuhan terdalam dari beberapa kelompok-kelompok orang yang diabaikan.
Wanita ini melakukan hal-hal sederhana dengan kepekaan dan pemaknaan yang sangat mendalam. Dia bukan seorang Miss.Universe yang ketika mengunjungi penderita HIV/AIDS akan dikelilingi oleh beberapa kamera di tiga angle berbeda untuk mendapatkan gambar terbaik yang memperlihatkan ekspresi wajah yang tepat. Dia juga bukan seorang politisi,
yang pergi mengunjungi warga kurang mampu dan membagikan sembako sambil
memberi keterangan kepada pers tentang kebesaran hati yang sedang
dilakonkan di depan media. Dia juga bukan seorang tokoh agama yang radikal, yang sedang memberitakan pesan humanis dan kasih kepada khalayak umum. Dia hanyalah seorang wanita sederhana, seorang istri dan seorang ibu rumah tangga yang menemukan arti hidupnya.
Ketika
saya mendengarnya bercerita tentang bagaimana ia terlibat dalam suatu
Yayasan Transformasi Lepra dan menyuarakan agar kaum penderita Lepra
jangan didiskriminasikan lagi oleh masyarakat, saya sangat tersentuh.
Saya teringat minggu yang lalu (24-10-2013), saya menerima SMS
dari teman saya. SMS itu berbunyi seperti ini :
Matius 8:1-4
Orang yang tidak layak untuk disentuh oleh manusia, dipandang layak untuk disentuh oleh Allah
Terlintas
dengan cepat di dalam benak, film pendek tentang Tuhan Yesus yang
menghabiskan waktu dan pelayanannya untuk kaum yang termarjinalkan..
Orang kusta dijamah, disentuh oleh-Nya tanpa ada interval waktu berpikir untuk mengolah pemandangan yang menjijikkan tentang si Kusta.. Tidak memikirkan apa kata orang banyak
yang melihatNya menyentuh si Kusta yang dalam pengajaran saat itu
merupakan orang-orang yang dikutuk karena banyak dosa. Tidak
menghiraukan bahkan mengabaikan
jika orang lain akan menjauhiNya karena sentuhanNya terhadap si Kusta.
TindakanNya hanya digerakkan oleh satu alasan karena di dalam hatiNya
tiba-tiba muncul suatu aliran luapan KASIH yang
tak dapat tertahankan. Dalam cerita Tuhan menyembuhkan orang Kusta,
sentuhan yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap penderita kusta tersebut
bukanlah sentuhan yang penuh ketakutan tapi tindakan responsif seseorang yang ingin menaruh belas kasihan yang sangat besar sehingga tidak mempunyai ruang kosong untuk mempertimbangkan hal lain.
Dalam pikiran saya tiba-tiba muncul suatu frame memory yang mengingatkan saya kejadian di bulan Februari 2013
yang lalu. Waktu itu gereja saya, mengadakan Kunjungan Kasih ke salah satu TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di salah satu daerah pinggiran di kota Kupang. Di tempat itu hidup beberapa KK yang terdiri dari komunitas anak-anak dari bayi sampai remaja, orang tua yang bahkan sudah lansia-pun tinggal di situ. Cukup memprihatinkan keadaan mereka, dengan keterbatasan sarana-prasarana, fasilitas umum, makanan, tempat tinggal, belum lagi aroma yang sangat tidak sedap yang kami hirup dari tumpukan-tumpukan sampah yang berada di sekitar mereka, tetapi saya melihat semangat hidup mereka yang begitu besar. Wajah anak-anak yang begitu ceria ketika kami tiba. Kami melakukan
beberapa pelayanan seperti pelayanan anak, memberi sedikit bantuan yang bisa kami berikan, dan juga pelayanan kesehatan. Masih jelas dalam ingatan saya, waktu itu saya sempat bertemu dengan seorang anak yang
sedang menderita sejenis penyakit kulit seperti borok dan sudah berair
seperti nanah di sekeliling telinganya. Dengan cepat, saya mengalihkan
perhatian saya dari pandangan mengerikan tersebut kepada kerumunan
anak-anak yang lain agar pandangan saya tidak tertuju pada daerah bagian
telinga anak itu.. Saya sangat malu, sedih dan menyesal.. Mengapa
perasaan seperti itu masih betah di dalam diri saya yang mengakunya
seorang “wanita Kristiani’.. Wanita yang tahu hati Tuan-nya.. Saya
membayangkan seandainya saja saya hidup pada saat Tuhan Yesus yang
menghabiskan waktu pelayananNya bersama orang MISKIN dan orang SAKIT,
saya akan menjadi orang yang menjauh dariNya, menjadi orang berusaha
menghindari orang-orang yang dikasihi-Nya.. Dan yang pasti saya tidak
akan tahan mengikutiNya kemana pun Dia pergi.. Karena dari kesaksian
Alkitab, kita dapat mengetahui bahwa Tuhan Yesus banyak menghabiskan
waktu pelayanan-Nya justru dekat dan bersama orang-orang seperti itu..
Yah.. Lagi-lagi menjadi pendengar memang MUDAH tetapi menjadi pelaku, itu yang SULIT..
Ketika kita mengaku bahwa kita adalah pengikut-Nya, murid-Nya, anak-Nya,,
Cara hidup dari Tuhan Yesus yang seperti apa yang telah menjadi bagian dalam hidup kita??
Ajaran dari Tuhan Yesus yang manakah yang telah kita usahakan untuk dilakukan dalam keseharian kita??
Sifat dan karakter apakah yang menandakan bahwa Ia adalah Bapa kita dan kita adalah anak-Nya??
Pertanyaan-pertanyaan
ini yang harus selalu kita refleksikan sepanjang perjalanan kehidupan
kita.. Agar suatu saat ketika waktu itu tiba, Ia mendapati kita menjadi
hamba yang setia.. Dan layak untuk masuk dalam Perjamuan Besar Kerajaan
Sorga..