Minggu ini saya kembali menonton beberapa film pilihan saya.
Never Been Kissed. Ini adalah film lama (Tahun 1999) yang saya tonton hari minggu kemarin. Ini yang ke dua kalinya saya menonton film ini. Seingat saya pertama kali menonton film ini waktu masih kuliah, dan tidak sampai selesai karena mati lampu. Hahaha. Jadi saya belum tau endingnya seperti apa. Penasaran dan dan akhirnya saya memutuskan untuk menontonnya kembali. Ceritanya tentang seorang copy editor, Josie Geller (Drew Barrymore), yang menyamar menjadi anak SMA (high school) untuk mencari berita tentang kehidupan anak remaja yang harus menjadi perhatian orang tua. Masalah timbul saat Josie diminta meliput tentang gurunya, Sam Coulson (Michael Vartan) yang belakangan diketahui ternyata diam – diam ‘naksir‘ dia.
Never Been Kissed. Ini adalah film lama (Tahun 1999) yang saya tonton hari minggu kemarin. Ini yang ke dua kalinya saya menonton film ini. Seingat saya pertama kali menonton film ini waktu masih kuliah, dan tidak sampai selesai karena mati lampu. Hahaha. Jadi saya belum tau endingnya seperti apa. Penasaran dan dan akhirnya saya memutuskan untuk menontonnya kembali. Ceritanya tentang seorang copy editor, Josie Geller (Drew Barrymore), yang menyamar menjadi anak SMA (high school) untuk mencari berita tentang kehidupan anak remaja yang harus menjadi perhatian orang tua. Masalah timbul saat Josie diminta meliput tentang gurunya, Sam Coulson (Michael Vartan) yang belakangan diketahui ternyata diam – diam ‘naksir‘ dia.
Ow … ow … ow …
Singkat cerita, penyamarannya akhirnya terbongkar juga. Josie mengakui siapa dirinya. Harusnya bagus, karena si guru akhirnya jatuh cinta pada wanita yang sebaya dengan dia. Bukan anak SMA (anak kecil) yang jauh dibawah umurnya. Sayangnya si guru sudah sakit hati. Tidak hanya karena merasa ditipu, mengetahui bahwa ternyata Josie adalah wanita dewasa, tetapi juga karena dirinya dijadikan berita.
……….
Josie : ” So … surprise ! “
Sam : ” Surprise! you were doing a story on me ?! “
Josie : ” No, surprise, I thought you’d be … “
Sam : ” What ? Happy ? Why ? Because it turns out all along that I was allowed to be attracted to you ? “
Josie : ” You were attracted to me ? “
Sam : ” Goddamnit, Josie ! Drop the act. Do you have any idea what I went through every night because of you ?! I was attracted to a 17 year old ! When I wasn’t taking cold showers, I was trying to figure out what the hell I was going to do when I couldn’t teach anymore! I thought I was the one being unethical “
Josie : ” Wait, I was going to tell you … “
Sam : ” You set me up. For a story “
……….
Kalau menurut saya sih, film ini ingin memberitahukan bahwa di satu sisi tidak masalah jika kita tidak cantik, tidak tenar, tidak terkenal asalkan kita bahagia menjadi diri kita sendiri. Sayangnya jarang ada yang bisa berbahagia dengan kondisi ini ya?! Semua orang ingin cantik / tampan. Ingin ternama dan dikenal banyak orang. Tapi realita adakalanya berbicara lain.
Dan di sisi lain, jangan terlalu bangga juga dengan apa yang kita miliki atau capai saat ini. Bahwa kecantikan, kekayaan, kepopuleran itu tidak ada artinya sama sekali. Semua sifatnya sementara. Dan tidak akan pernah bisa mendefinisikan siapa kita yang sesungguhnya.
Tetapi apa yang kita lakukan, yang memberi arti untuk diri kita, orang lain bahkan dunia itulah yang akan menjelaskan siapa kita sebenarnya. Yang kita kerjakan atau hasilkan dari usaha kita sendiri. Prestasi yang kita raih dengan jerih lelah kita. Pencapaian yang kita dapatkan. Nilai-nilai moral yang kita bawa atau bahkan ciptakan yang dapat dijadikan teladan. Itulah seharusnya yang membuat kita bangga menjadi siapa kita.
Lalu, apa hubungannya dengan judul film-nya?
Yaa, silahkan ditonton dan dicari hubungannya. Kalau sudah ketemu, info ya :)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Film ke dua yang saya tonton adalah Eve's Christmas
Meskipun ada kata "Christmas" , film ini sebenarnya bukan film tentang natal.
Setting-nya saja yang dibuat saat natal.
Film ini model-model film time traveler. Berkisah tentang seorang wanita bernama Eve (Elisa Donovan) yang sukses dalam karir tapi tidak dalam kehidupan percintaan. Demi karir, Eve rela membatalkan pernikahannya dengan kekasihnya Scott (Sebastian Spence – sumpah ya, cakep banget ciptaan Tuhan yang satu ini…) dan karena karir dia tidak pernah bertemu dengan keluarganya selama 8 tahun.
Suatu hari, saat sedang sedih karena merasa kesepian, Eve membuat permohonan untuk kembali ke masa lalu. Ceritanya dia menyesal. Dan ternyata permohonannya terkabul.
Pagi hari dia bangun, tiba-tiba Eve sudah kembali ke masa dia masih bertunangan dengan Scott.
Oleh bapak peri (the guardian angel), Eve diberi waktu 7 hari untuk memutuskan apa yang akan menjadi pilihannya. Dan setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Apapun yang Eve pilih, Eve harus siap dengan resikonya.
Masalahnya Eve sudah tahu konsekuensi atas pilihannya membatalkan pertunangannya dengan Scott. Itulah kehidupan yang dia jalani sebelum dia membuat permohonan untuk kembali ke masa lalu. Yang tidak dia ketahui ialah cerita hidupnya apabila dia tetap menikah dengan Scott.
Sudah bisa menebak apa yang menjadi pilihan Eve?
Sayangnya, meskipun sudah bisa ditebak apa yang menjadi pilihan Eve, masalah masih tetap ada. Ya, namanya juga film. Berputar-putar dulu sebelum ke intinya.
Bagaimanakah kisah hidup Eve akhirnya ?
Silahkan dibeli DVD-nya teman-teman :D
Pelajaran yang saya dapat setelah menonton film ini adalah bahwa setiap keputusan itu mengandung resiko atau konsekuensi, yang suka atau tidak suka kita harus siap menjalaninya.
Ini karena di film saja makanya ada kesempatan kedua. Dalam kehidupan nyata, saya percaya tidak ada satu pun dari kita yang bisa kembali ke masa lalu kemudian mengubah keputusan yang sudah kita buat dan mendapati kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang seharusnya terjadi. Yang biasanya jauh lebih bahagia. Well, itu sih yang digambarkan di film - film. Iya kan?
Pikir-pikir, pastilah hidup akan terasa lebih enak atau bahagia kalau setiap orang bisa kembali ke masa lalu. Karena setiap keputusan yang salah toh bisa diubah. Setiap kekeliruan bisa diperbaiki. Jadi tidak ada yang namanya penyesalan. Tapi, ya itu … tidak ada penyesalan, tidak ada pembelajaran. Tidak ada kenangan. Dan tidak ada sesuatu yang bisa dibagikan sebagai pengalaman.
Saya bilang begini bukan berarti menyarankan untuk "asal" saja membuat keputusan. Toh kalau salah pun akan ada pembelajaran dan ada pengalaman yang dibagikan. Tidak gitu. Yaa, kalau mau belajar. Kalau tidak?
Pada dasarnya, setiap kita akan selalu diperhadapkan pada pilihan-pilihan. Yaa, namanya juga hidup adakalanya kita salah dalam menentukan pilihan. Dan tidak selalu kita bisa mengubahnya. Karena tidak bisa mengubahnya, kita harus berhati-hati dalam menentukan apa yang kita pilih atau putuskan. Dengan kata lain, penting bagi kita untuk bersikap bijak dalam menentukan apa yang paling kita inginkan atau butuhkan dalam hidup sehingga bukan penyesalan yang kita dapatkan nantinya tetapi kebahagiaan.
Nah, bagaimana supaya kita bijak sehingga tidak salah memilih? Menurut saya, kenali apa yang paling kita butuhkan. Karena kalau bicara soal keinginan, kita pasti punya banyak sekali keinginan. Tapi kalau mengacu kepada kebutuhan, saya rasa kita akan lebih spesifik dalam menentukannya.
So, pilihlah pilihan yang benar-benar bisa membuat kita bahagia. Bahagia yang sesungguhnya. Bukan yang "tampaknya "atau" kelihatannya" dapat membuat kita bahagia. Tapi ternyata tidak. Dan yang kita butuhkan biasanya yang paling membuat kita bahagia. Kita kadang tidak menyadarinya saja. Karena … menjadi bahagia itu … penting, sodara - sodara :)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Film ke dua yang saya tonton adalah Eve's Christmas
Meskipun ada kata "Christmas" , film ini sebenarnya bukan film tentang natal.
Setting-nya saja yang dibuat saat natal.
Film ini model-model film time traveler. Berkisah tentang seorang wanita bernama Eve (Elisa Donovan) yang sukses dalam karir tapi tidak dalam kehidupan percintaan. Demi karir, Eve rela membatalkan pernikahannya dengan kekasihnya Scott (Sebastian Spence – sumpah ya, cakep banget ciptaan Tuhan yang satu ini…) dan karena karir dia tidak pernah bertemu dengan keluarganya selama 8 tahun.
Suatu hari, saat sedang sedih karena merasa kesepian, Eve membuat permohonan untuk kembali ke masa lalu. Ceritanya dia menyesal. Dan ternyata permohonannya terkabul.
Pagi hari dia bangun, tiba-tiba Eve sudah kembali ke masa dia masih bertunangan dengan Scott.
Oleh bapak peri (the guardian angel), Eve diberi waktu 7 hari untuk memutuskan apa yang akan menjadi pilihannya. Dan setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Apapun yang Eve pilih, Eve harus siap dengan resikonya.
Masalahnya Eve sudah tahu konsekuensi atas pilihannya membatalkan pertunangannya dengan Scott. Itulah kehidupan yang dia jalani sebelum dia membuat permohonan untuk kembali ke masa lalu. Yang tidak dia ketahui ialah cerita hidupnya apabila dia tetap menikah dengan Scott.
Sudah bisa menebak apa yang menjadi pilihan Eve?
Sayangnya, meskipun sudah bisa ditebak apa yang menjadi pilihan Eve, masalah masih tetap ada. Ya, namanya juga film. Berputar-putar dulu sebelum ke intinya.
Bagaimanakah kisah hidup Eve akhirnya ?
Silahkan dibeli DVD-nya teman-teman :D
Pelajaran yang saya dapat setelah menonton film ini adalah bahwa setiap keputusan itu mengandung resiko atau konsekuensi, yang suka atau tidak suka kita harus siap menjalaninya.
Ini karena di film saja makanya ada kesempatan kedua. Dalam kehidupan nyata, saya percaya tidak ada satu pun dari kita yang bisa kembali ke masa lalu kemudian mengubah keputusan yang sudah kita buat dan mendapati kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang seharusnya terjadi. Yang biasanya jauh lebih bahagia. Well, itu sih yang digambarkan di film - film. Iya kan?
Pikir-pikir, pastilah hidup akan terasa lebih enak atau bahagia kalau setiap orang bisa kembali ke masa lalu. Karena setiap keputusan yang salah toh bisa diubah. Setiap kekeliruan bisa diperbaiki. Jadi tidak ada yang namanya penyesalan. Tapi, ya itu … tidak ada penyesalan, tidak ada pembelajaran. Tidak ada kenangan. Dan tidak ada sesuatu yang bisa dibagikan sebagai pengalaman.
Saya bilang begini bukan berarti menyarankan untuk "asal" saja membuat keputusan. Toh kalau salah pun akan ada pembelajaran dan ada pengalaman yang dibagikan. Tidak gitu. Yaa, kalau mau belajar. Kalau tidak?
Pada dasarnya, setiap kita akan selalu diperhadapkan pada pilihan-pilihan. Yaa, namanya juga hidup adakalanya kita salah dalam menentukan pilihan. Dan tidak selalu kita bisa mengubahnya. Karena tidak bisa mengubahnya, kita harus berhati-hati dalam menentukan apa yang kita pilih atau putuskan. Dengan kata lain, penting bagi kita untuk bersikap bijak dalam menentukan apa yang paling kita inginkan atau butuhkan dalam hidup sehingga bukan penyesalan yang kita dapatkan nantinya tetapi kebahagiaan.
Nah, bagaimana supaya kita bijak sehingga tidak salah memilih? Menurut saya, kenali apa yang paling kita butuhkan. Karena kalau bicara soal keinginan, kita pasti punya banyak sekali keinginan. Tapi kalau mengacu kepada kebutuhan, saya rasa kita akan lebih spesifik dalam menentukannya.
So, pilihlah pilihan yang benar-benar bisa membuat kita bahagia. Bahagia yang sesungguhnya. Bukan yang "tampaknya "atau" kelihatannya" dapat membuat kita bahagia. Tapi ternyata tidak. Dan yang kita butuhkan biasanya yang paling membuat kita bahagia. Kita kadang tidak menyadarinya saja. Karena … menjadi bahagia itu … penting, sodara - sodara :)

