” The Right Chemistry ” bukan hanya dibutuhkan saat mencari pasangan
saja. Dalam bekerja-pun faktor yang satu ini tidak boleh
diabaikan. Karena inilah yang akan menolong kita apakah kita nyaman atau tidak dalam bekerja. Baik itu dengan atasan, ataupun dengan teman-teman sekantor.
Saya tidak tahu bagaimana dengan anda, tetapi sebagai seorang
karyawati (bawahan) , saya belajar bahwa “ merasa cocok “ dengan (calon) atasan
adalah sebuah keharusan dalam menentukan apakah saya akan memutuskan (tetap)
bekerja di perusahaan tersebut atau tidak.
Ini penting buat saya. Karena sehari – hari saya akan berhadapan
dengan orang-orang tersebut. Jika saya tidak merasa cocok dengan (contohnya) atasan saya,
saya akan sulit bekerja sama tentunya. Saya tidak akan bisa mengerti
dia. Dia juga tidak akan bisa memahami saya. Komunikasi kami tidak akan
berjalan dengan lancar. Dan itu akan mempengaruhi banyak hal dalam
hubungan saya dengan atasan, baik secara profesional maupun pribadi.
Ceritanya minggu lalu boss ke-2 saya (sebut saja namanya Mr.A) mengajukan resign dari jabatannya. Dan beliau sempat curhat ke saya alasan sampai beliau mengajukan resign. Kalau ada boss ke-2 berarti ada boss ke-1. Betul sodara-sodara?
Jadi begini; perusahaan saya berkantor pusat di Surabaya dan boss ke-1 (sebut saja namanya Mr.J) saya berkantor disana. Mr.A bercerita kepada saya kalau beliau selalu "disemprot" oleh Mr.J. Tiada hari tanpa marah-marah ; begitu kata beliau. Entah itu lewat telepon atau SMS. Intinya apa yang selalu dikerjakan oleh Mr A selalu salah dimata Mr. J. Mengapa begitu? Saya juga tidak tahu persis alasan yang melatarbelakangi Mr.J memarahi Mr.A. Karena kalau mau dilihat, dengan bawahan lain (selain Mr.A) Mr.J tidak pernah terlihat atau terdengar marah-marah entah untuk alasan yang masuk akal ataupun tidak. Tapi sama Mr.A urusan kena "semprot'' sudah jadi makanan sehari-hari beliau. Pernah Mr.A bercerita kepada saya kalau diantara beliau dan Mr.J seperti tidak ada chemistry. Apapun alasan yang melatar belakangi Mr.J "doyan" marah-marah dengan Mr. A saya tidak perlu mengintervensi terlalu jauh. Dan cerita Mr.A dan Mr.J mengingatkan saya akan pengalaman saya beberapa tahun yang lalu ketika masih bekerja dikantor saya yang lama.
Ceritanya suatu hari perusahaan tempat saya bekerja saat itu memanggil
saya untuk interview dengan user atau calon atasan saya yang baru. Kita
panggil saja si user ini dengan Mr. G. Setelah berkenalan, proses
interview dibuka dengan.
“ Ok, sekarang coba ceritakan tentang diri kamu, ‘lory“
Berhubung saya sudah beberapa kali menjalani interview, permintaan semacam ini sudah biasa untuk saya. Malah, bisa dibilang saya sudah menghafal ( meskipun tidak sampai hafal mati) jawaban saya.
Dan mulailah saya menjelaskan siapa diri saya.
” I’m … bla … ble … bli … blo … blu “
Hal – hal seperti latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman kerja, kesukaan serta kekuatan dan kelemahan yang saya punya (ketahui ), saya beberkan (setelah disensor terlebih dahulu yang pasti) di hadapan beliau.
Saya tidak terlalu ingat apa saja yang ditanyakan, tapi ada satu saat
dalam interview yang terakhir tersebut dimana saya diminta menjelaskan apa yang saya
harapkan dari hubungan kerja sama yang akan berlangsung nanti, antara
saya dengan Mr. G.
Jawaban saya waktu itu kurang lebih seperti ini,
“ Buat saya seorang admin harus memiliki cemistry dengan atasannya, karena .... “
Tiba – tiba,
“ Oh, Saya merasa memiliki chemistry dengan-mu lory ! “
Yaelahh, belom kelar kali gue ngomongnye bro’. Heheheh...
Saya bermaksud menjelaskan bahwa saya harus menemukan chemistry
dengan atasan saya karena itulah yang memungkinkan saya bisa bekerja
dengan maksimal. Bisa memenuhi apa yang diharapkan seorang atasan kepada
bawahannya tanpa atasan harus mengatakannya atau tanpa saya harus
menanyakannya.
“ Oh. terima kasih pak “
Balas saya tanpa berminat untuk meneruskan lagi perkataan saya yang terputus karena respon sang user.
“ bagaiman apakah kamu betah bekerja disini ‘lory? “
“ sejauh ini betah pak “
“ Syukurlah “
“ Ya sudah, kamu bisa kembali bekerja. Semoga kamu bisa lebih betah lagi ya lory “
“ Baik pak “
Dan saya-pun meninggalkan ruang meeting yang besar, redup dan dingin itu.
Berjalan saambil memikirkan apa yang dikatakan Mr. G tadi mengenai chemistry.
Saya percaya bahwa mendapatkan chemistry yang tepat saat pertama kali
bertemu bukanlah sesuatu yang aneh. Saya pernah mengalaminya dengan
mantan boss saya sebelum Mr.G (sebut saya namanya Mr. B) yang saat pertama kali
bertemu sudah langsung merasa cocok dengannya. Hanya perasaan – perasaan
yang baik saja yang timbul saat saya melihatnya.
Dan saya juga percaya bahwa chemistry itu harus 2 arah. Jadi bukan
hanya saya saja yang perlu merasa klop. Sang atasan pun harus merasakan
hal yang sama. Karena kalau hanya salah satu saja yang merasakannya,
pasti bermasalah. Yah, sama lah dengan pacaran. Dua – duanya harus
memiliki perasaan yang sama. Kalau tidak, mana jalan. Yang sama – sama
punya chemistry saja sering bermasalah, apalagi yang tidak punya atau
hanya salah satu saja.
Ini benar loh! Serius!
Sepanjang saya menjadi adminnya Mr. B, tidak
pernah saya mendapati hal – hal yang membuat saya tidak suka, baik
dengan atasan saya tersebut maupun dengan pekerjaan saya. Efek yang
dibawa chemistry ini malah sangat amat dahsyat! Selalu ada semangat
untuk pergi ke kantor setiap hari meskipun Mr. B tidak ada karena harus
melakukan meeting dikantor pusat atau saat sedang cuti.
Dan membuat saya ingin senantiasa berusaha, semaksimal mungkin,
memberikan yang terbaik untuk atasan saya ini. Ada kerinduan untuk
membuktikan kepada beliau bahwa tidak percuma beliau merekrut saya
menjadi adminnya. Bisa dikatakan saya menikmati betul masa – masa saya
menjadi bawahannya.
Tapi dengan Mr. G …
Resiko jika tidak memiliki chemistry yang sama, seperti yang saya
bilang di atas, pasti hubungan jadi bermasalah. Dan benar saja. Baru
sebulan menjadi admin Mr. G sudah banyak benturan yang saya hadapi
dengan beliau. Sepanjang sejarah saya menjabat sebagai admin tidak pernah sekalipun saya dibentak – bentak oleh
atasan saya. Tapi dengan orang ini, saya pernah kena ‘ semprot ‘
beberapa kali. Dan anehnya, itu untuk sesuatu yang tidak masuk akal sama
sekali.
Contoh kasus. Suatu hari saya sedang ke toilet. Namanya juga ke
toilet, jadi saya tidak membawa handphone saya. Ngapain juga ?! Toh
signal di toilet kantor saya juga tidak bagus. Jadi handphone saya
tinggal di meja. Dan saya juga hanya buang air kecil. Yang pastinya
tidak akan memakan waktu lama. Jadi bisa langsung segera balik ke dalam
ruangan.
Ternyata Mr. G menghubungi saya selama saya di toilet. Dan, mungkin
karena sudah terbiasa dengan atasan saya sebelumnya, yang setiap kali
menelepon tetapi tidak setiap kali itu juga saya angkat, entah karena
saya tidak bersama dengan ha-pe saya atau tidak mendengar ringtone
khususnya, saya menghubungi Mr. G balik.
Dan hal ini menurut saya sudah seharusnya saya lakukan. Tidak hanya
mengingat saya adalah satu-satunya admin saat itu, yang harus tahu apa yang terjadi
dengan atasannya, tetapi juga karena ada orang yang saya kenal
menghubungi saya. Masa iya saya tidak menghubungi kembali ?! Siapa tahu
ada hal-hal penting yang ingin disampaikan. Dan saya yakin tidak ada
yang salah dalam hal tersebut.
” Bapak tadi telepon aku? Kenapa pak? “
Lalu dari seberang sana menjawab,
“ Kamu ngapain telepon aku?! Malah telepon aku lagi !! Kamu nggak usah telepon aku !! ‘Gimana sih ?! “
Sembur Mr. G.
Lha, trus?! Maksud loe gue musti diemin loe gitu ?! Nggak perlu gue tanya loe telepon gue untuk apa ?!
” Oh, maaf pak “
Balas saya lalu memutuskan sambungan telepon.
Parahnya, setiap hal yang saya kerjakan selalu saja salah di matanya.
Tidak tahu kenapa. Akibatnya, lama kelamaan saya muak ” melayani ”
beliau. Saya merasa saya tidak akan pernah dapat memuaskan Mr. G.
Seberapa pun besar dan kerasnya usaha yang saya kerahkan, saya akan
selalu gagal. Keinginan untuk memberikan lebih atau yang terbaik dari
dalam diri ini NIL. Tidak ada ! Bagaimana mau memberikan yang terbaik
atau lebih kalau begini salah, begitu salah.
Hingga suatu hari saya memutuskan, (saya pernah menulis tentang ini; Disini) tepat 1 bulan sebelum masa kontrak saya
berakhir, saya akan mengundurkan diri dari posisi ini. Itu
janji saya. Karena pikir saya, percuma jika saya tetap bertahan. Saya
tidak akan pernah tampak baik di matanya sampai kapanpun juga. Segala
usaha saya akan sia – sia. Suasana akan begitu – begitu saja. Akan sama
setiap harinya. Menyiksa ! Nightmare ! Tidak akan berubah selama saya
tidak menemukan chemistry yang sama juga dalam diri saya.
Iya kan ?
Bagaimanapun juga saya masih mengasihi diri saya. Masih menghormati
perasaan – perasaan saya. Saya tidak akan membiarkan siapapun atau
apapun menekan diri saya sedemikian rupa sampai saya tidak bisa
menikmati hidup saya. Hidup adalah anugerah. Pekerjaan seharusnya
menjadi karunia yang dinikmati. Bukan begitu?
Sadaaaappp … :D
Jadi resign adalah satu – satunya cara untuk menyelamatkan jiwa saya.
Suatu hari, Mr. G memanggil saya ke ruangannya.
“ Duduk ‘lory. Ya, ‘gimana ‘lory kerja dengan kerjaan kamu yang baru ? Lancar? “
karena sejak Mr.G menjadi atasan saya, ada beberapa pekerjaan baru yang ditugaskan ke saya.
Tumben nih orang tanya – tanya.
” Sejauh ini sih … so far so good, pak “
Bo’ong!
Seharusnya, sejauh ini saya sedang merencanakan untuk pindah kerja sesegera mungkin.
” Oh, gitu ya “
Nggak ! Nggak gitu ! Gue tersiksa sama loe ! FYI aje nih.
Lalu,
” Ya, mungkin kamu sudah tahu kalau saya akan dipindahkan “
Apa? Pindah?
Jujur saya tidak tahu. Jadi saya benar – benar terkejut dengan pemberitaan tersebut.
“ Oh ?! Bapak dipindah ? “
Kapan? Kapan? Kapan? *senyum lebar*
” Ya, saya akan dipindahkan bulan Januari tahun depan “
Baguslah ! wkwkwkwk
“ Saya harap kamu baik – baik kerja di sini ya “
Apa ?! Baik – baik ?! Selama ini emang nggak baik kerjaan gue?!
Nggak terima gitu gue. Hahahhahaha
“ Oke pak “
Jawab saya datar.
“ Kalau kamu bisa kerjakan sendiri, ya kerjakan sendiri “
Maksudnye apaan nih ? Sejak kapan gue minta bantuan loe brey’ untuk ngerjain tugas – tugas gue ? Dan lagi, emang siapa yang bantuin gue di sini ? Nggak ada, man! Single fighter gue di sini bro’!
“ Oke pak “
Jawab saya lagi sambil mengangguk sok memahami.
” Ya sudah. Sukses ya ‘lory. Semoga kamu betah di sini “
” Iya pak. Terima kasih “
Saya keluar dari ruangan. Dan merasa … legaaaa …
Jahat banget yaa gue :)
Kalau saya sih, iklas – iklas saja Mr. G pergi. Nothing to lose juga.
Karena prinsip saya, either saya yang hengkang dari perusahaan itu atau nunggu
Mr. G yang dimutasi. Saya sudah siap. Hanya menunggu momen yang tepat
untuk mengatakannya.
Saya sudah berniat untuk mencari pekerjaan yang baru lagi
daripada harus tertekan lahir
batin.
Tapi Tuhan punya rencana yang berbeda rupanya. Sebelum saya sempat menyampaikan niat saya, Mr. G dipindahkan. Ya sudah …
Dan karena Mr. G hanya pindah ke kota lain, jadi
saya masih mendengar kabar tentang beliau. Dengar punya dengar,
adminnya resign karena tidak tahan dengannya.
Padahal baru bekerja selama 1 bulan. Lalu admin penggantinya pun
mengundurkan diri setelah hampir 6 bulan bekerja, dengan alasan yang
sama.
Jadi, siapa yang bermasalah sebenarnya sodara – sodara?!
Silahkan dijawab sendiri .
Pelajaran yang saya dapat, kalau dari awal saya tidak menemukan
chemistry yang saya cari, ya tidak usah memutuskan untuk bekerja di perusahaan itu. Sebesar apapun gaji yang ditawarkan, sebonafit
apapun perusahaan tersebut, seganteng apapun sang atasan, kalau dari
awal sudah merasa tidak cocok, jangan dipaksakan.
Kalau ditanya kenapa saya tetap (kembali) bekerja di perusahann itu (saat itu), ada beberapa
faktor sebenarnya. Pertama, saya merasa saya ini orang kantoran. Yang
hanya betah saat bekerja di kantor. Jadi saat kesempatan itu datang,
tanpa pikir panjang saya terima. Yang kedua, mungkin saya ke-GR-an saat
mendengar Mr. G bilang kalau beliau memiliki chemistry dengan saya.
Sehingga saya mengingkari perasaan saya sendiri.
Demikianlah cerita ini saya buat. Atas perhatiannya saya ucapkan, terima kasih.
