Saat sedang berbelanja di salah satu supermarket kemarin siang, saya menemukan uang Rp 100.000 tergeletak di lantai. Uang lembaran merah itu dilipat 4. Anehnya, tidak ada yang sadar kalau ada uang jatuh. Tidak jauh dari tempat uang itu jatuh, saya melihat dua laki-laki sedang mencari-cari barang kebutuhan mereka. Dalam pikiran saya, apakah kedua orang itu menyadarinya atau mungkin saja mereka berpura-pura tidak melihat uang tersebut. Atau, mungkin mereka menyadarinya. Tapi terlalu gengsi untuk mengambilnya. Atau bisa jadi mereka berpikir bahwa ada yang sengaja menjatuhkan uang itu di lantai. Dan berniat mengerjai. Sehinga mereka ragu untuk mengambilnya. Takut kalau-kalau ternyata ada candid camera. Tiba-tiba masuk TV dan ditonton jutaan umat di Indonesia. Lalu dihina-hina,
” iiiihhhh ... mata duitan banget ya tuh orang! Uang cuma Rp 100.000 aja dikejar-kejar! Nggak malu apa tuh ?! “
Ya eyalah dikejar. Rp 100.000 gitu! Kalau cuma 500 perak
juga pasti didiemin. Eh tapi kalau Rp 500-nya bertebaran di mana – mana,
lain lagi perkaranya :mrgreen:
Awalnya saya juga berpikir demikian. Takut menemukan kalau ternyata
saya dikerjain orang atau stasiun TV. Ada kan stasiun TV yang tidak
beradab menayangkan acara seperti ini? Menjadikan orang sebagai bahan
tertawaan publik. Yang menurut mereka jenaka, kreatif atau apapun
namanya tapi sesungguhnya melecehkan. Tidak lucu kan saat diambil
ternyata uangnya jalan sendiri atau terbang ke sana ke mari. Menari -nari di hadapan saya. Lalu saya mengejar-ngejar untuk meraihnya. Yang
ada nanti saya malah malu sendiri karena jadi bahan tertawaan orang-orang, paling tidak orang – orang yang sedang berbelanja di situ.
Tapi rasa penasaran saya lebih besar dari pikiran-pikiran tersebut.
Dan entah kenapa saya menjadi tidak peduli dengan kekhawatiran –
kekhawatiran yang saya rasakan itu. Karena, sekali lagi, ini Rp 100.000
man! Bukan GOCENG. Loe mo bilang gue mata duitan, terserah dagh! Tapi
uang sebesar itu tidak mungkin ” ditelantarkan ” begitu saja, bukan?
Kalau anda ada di posisi saya, anda pasti akan melakukan hal yang sama.
Wanna bet ?!
Dan saya pun mengambilnya. Lalu saya memberitahu teman saya yang saat
itu juga sedang berbelanja bersama saya. Saya
menunjukkannya dan dia terkejut.
” Duitnya siapa itu lory? Jatuh dimana? “ Jangan-jangan punya orang yang jatuh?
” Bisa jadi “
Bicara soal menemukan uang di jalan, dulu ada yang mengatakan kepada
saya agar uang tak bertuan yang kita temukan secara tidak sengaja (khususnya di tempat umum) sebaiknya tidak disimpan atau dijadikan milik
pribadi. Tidak dipakai juga untuk kepentingan pribadi. Uang itu harus
diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.
Alasannya?
Katanya, kalau uang itu kita simpan atau kita ”makan” sendiri,
kemungkinan besar kita akan mengalami hal yang serupa. Serupa maksudnya
di sini, kita akan kehilangan uang juga suatu hari nanti. Apakah jumlah
yang hilang nanti sama ?! Kalau itu tidak tahu. Namun yang pasti, karena
kita sudah mengambil milik orang lain meskipun tidak disengaja dan
menggunakannya untuk kepuasan kita sendiri, dalam waktu cepat atau
lambat kita juga akan kehilangan milik kita tanpa sengaja.
Well, benar atau tidaknya, saya juga tidak tahu. Karena bisa dibilang
saya jarang menemukan uang Rp 100.000 – an di tempat-tempat umum. Kalaupun pernah
menemukan, biasanya uang recehan seperti 100-an atau 500-an. Dan,
bukannya sombong atau sok kaya, biasanya saya hiraukan. Jujur saja,
apalagi kalau bukan karena nominalnya :D . Eh, tapi kalau dikumpul-kumpulin, bisa beli mobil kali ya ?!
:roll: … :roll: … :roll:
Tapi, meskipun saya belum tahu kebenarannya, tetap saya ingin
melakukannya. Meneruskan uang itu kepada orang-orang yang lebih
membutuhkan. Bukan karena saya sok malaikat atau takut mengalami hal
yang sama, kehilangan uang juga. Entah bagaimana saya percaya setiap
kita pasti akan mengalami yang namanya kehilangan uang sekali, dua kali
atau beberapa kali ( asal tidak setiap saat ) dalam hidup. Prinsipnya,
tidak ada manusia yang bisa begitu berhati – hatinya dalam menjaga
uangnya.
Loh, Paman Gober bagaimana ?!
Paman Gober kan bebek. Bukan orang.
Jadi, maksudnya bebek lebih bisa menjaga uang ?!
Lha, bebek emang butuh uang ?!
Trus, kenapa Paman Gober punya uang kalau bebek nggak butuh uang ?!
Ini kenapa jadi Gober – Gober- an sih ?!
Ok ! Kembali ke laptop … :)
Akan ada saat dimana kita ceroboh. Tanpa sengaja kita menjatuhkan
uang kita atau menghilangkannya. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa
dalam hal ini selain memetik pelajaran untuk lebih berhati – hati di
kemudian hari. Saya pernah beberapa kali mengalaminya. Jadi, lebih
karena uang itu bukan milik saya dan, kecuali saya tidak mampu,
pengemis atau orang lain yang lebih membutuhkan, saya harus meneruskannya.
Pagi ini dalam perjalanan dari rumah menuju kantor, saat saya harus berhenti di lampu merah,
Saya melihat
seorang ibu yang sedang mengumpulkan plastik-plastik bekas di jalan.Saat melihat beliau,
saya buru – buru mencari dompet saya di dalam tas. Sayangnya, belum
sempat membuka dompet, lampu hijau menyala dan kendaraan yang saya tumpangi harus segera melaju, jadilah saya
gagal memberikan uang tersebut.
Bisa saja sih saya lempar. Tapi saya takut beliau tidak ‘ ngeh ‘
kalau itu uang. Jadinya saya berniat memberikan kepada seorang pengemis yang biasa meminta-minta di perempatan lampu merah. Kakinya lumpuh. Dan saya sudah berencana untuk memberikan uang
itu ke anak tersebut. Tapi dalam perjalanan pulang ke rumah, saya tidak melihat anak itu. Jadi uang itu masih
ada di saya.
Pagi ini saya melapor kepada Tuhan kalau saya menemukan uang kemarin
dan meminta Dia untuk menunjukkan kepada siapa uang ini mau Dia berikan.
Dan saya masih menunggu jawabanNya.
Eh, anda butuh uang ?! :)
