Selasa, 06 Mei 2014

100.000





Saat sedang berbelanja di salah satu supermarket  kemarin siang, saya menemukan uang Rp 100.000 tergeletak di lantai.  Uang lembaran merah itu dilipat 4. Anehnya, tidak ada yang sadar kalau ada uang jatuh. Tidak jauh dari tempat uang itu jatuh, saya melihat dua laki-laki  sedang mencari-cari barang kebutuhan mereka. Dalam pikiran saya, apakah kedua orang itu menyadarinya atau mungkin saja mereka berpura-pura tidak melihat uang tersebut. Atau, mungkin mereka menyadarinya. Tapi terlalu gengsi untuk mengambilnya. Atau bisa jadi mereka berpikir bahwa ada yang sengaja menjatuhkan uang itu di lantai. Dan berniat mengerjai. Sehinga mereka ragu untuk mengambilnya. Takut kalau-kalau ternyata ada candid camera. Tiba-tiba masuk TV dan ditonton jutaan umat di Indonesia. Lalu dihina-hina,
” iiiihhhh ... mata duitan banget ya tuh orang! Uang cuma Rp 100.000 aja dikejar-kejar! Nggak malu apa tuh ?! “
Ya eyalah dikejar. Rp 100.000 gitu! Kalau cuma  500 perak juga pasti didiemin. Eh tapi kalau Rp 500-nya bertebaran di mana – mana, lain lagi  perkaranya :mrgreen: 

Awalnya saya juga berpikir demikian. Takut menemukan kalau ternyata saya dikerjain orang atau stasiun TV. Ada kan stasiun TV yang tidak beradab menayangkan acara seperti ini? Menjadikan orang sebagai bahan tertawaan publik. Yang menurut mereka jenaka, kreatif atau apapun namanya tapi sesungguhnya melecehkan. Tidak lucu kan saat diambil ternyata uangnya jalan sendiri atau terbang ke sana ke mari. Menari -nari di hadapan saya. Lalu saya mengejar-ngejar untuk meraihnya. Yang ada nanti saya malah malu sendiri karena jadi bahan tertawaan orang-orang, paling tidak orang – orang yang sedang berbelanja di situ.
Tapi rasa penasaran saya lebih besar dari pikiran-pikiran tersebut. Dan entah kenapa saya menjadi tidak peduli dengan kekhawatiran – kekhawatiran yang saya rasakan itu. Karena, sekali lagi, ini Rp 100.000 man! Bukan GOCENG. Loe mo bilang gue mata duitan, terserah dagh! Tapi uang sebesar itu tidak mungkin ” ditelantarkan ” begitu saja, bukan? Kalau anda ada di posisi saya, anda pasti akan melakukan hal yang sama.
Wanna bet ?! 
Dan saya pun mengambilnya. Lalu saya memberitahu teman saya yang saat itu juga sedang berbelanja bersama saya.  Saya menunjukkannya dan dia terkejut.
” Duitnya siapa itu lory? Jatuh dimana? “ Jangan-jangan punya orang yang jatuh?
” Bisa jadi “
Bicara soal menemukan uang di jalan, dulu ada yang mengatakan kepada saya agar uang tak bertuan yang kita temukan secara tidak sengaja (khususnya di tempat umum) sebaiknya tidak disimpan atau dijadikan milik pribadi. Tidak dipakai juga untuk kepentingan pribadi. Uang itu harus diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.
Alasannya?
Katanya, kalau uang itu kita simpan atau kita ”makan” sendiri, kemungkinan besar kita akan mengalami hal yang serupa. Serupa maksudnya di sini, kita akan kehilangan uang juga suatu hari nanti. Apakah jumlah yang hilang nanti sama ?! Kalau itu tidak tahu. Namun yang pasti, karena kita sudah mengambil milik orang lain meskipun tidak disengaja dan menggunakannya untuk kepuasan kita sendiri, dalam waktu cepat atau lambat kita juga akan kehilangan milik kita tanpa sengaja.
Well, benar atau tidaknya, saya juga tidak tahu. Karena bisa dibilang saya jarang menemukan uang Rp 100.000 – an di tempat-tempat umum. Kalaupun pernah menemukan, biasanya uang recehan seperti 100-an atau 500-an. Dan, bukannya sombong atau sok kaya, biasanya saya hiraukan. Jujur saja, apalagi kalau bukan karena nominalnya :D . Eh, tapi kalau dikumpul-kumpulin, bisa beli mobil kali ya ?!
:roll: … :roll: … :roll:
Tapi, meskipun saya belum tahu kebenarannya, tetap saya ingin melakukannya. Meneruskan uang itu kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Bukan karena saya sok malaikat atau takut mengalami hal yang sama, kehilangan uang juga. Entah bagaimana saya percaya setiap kita pasti akan mengalami yang namanya kehilangan uang sekali, dua kali atau beberapa kali ( asal tidak setiap saat ) dalam hidup. Prinsipnya, tidak ada manusia yang bisa begitu berhati – hatinya dalam menjaga uangnya.

Loh, Paman Gober bagaimana ?! 
Paman Gober kan bebek. Bukan orang. 
Jadi, maksudnya bebek lebih bisa menjaga uang ?!
Lha, bebek emang butuh uang ?! 
Trus, kenapa Paman Gober punya uang kalau bebek nggak butuh uang ?!
Ini kenapa jadi Gober – Gober- an sih ?!

Ok ! Kembali ke laptop … :)
Akan ada saat dimana kita ceroboh. Tanpa sengaja kita menjatuhkan uang kita atau menghilangkannya. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa dalam hal ini selain memetik pelajaran untuk lebih berhati – hati di kemudian hari. Saya pernah beberapa kali mengalaminya. Jadi, lebih karena uang itu bukan milik saya dan, kecuali saya tidak mampu, pengemis atau orang lain yang lebih membutuhkan, saya harus meneruskannya.
Pagi ini dalam perjalanan dari rumah menuju kantor, saat saya harus berhenti di lampu merah,  Saya melihat seorang ibu  yang sedang mengumpulkan plastik-plastik bekas di jalan.Saat melihat beliau, saya buru – buru mencari dompet saya di dalam tas. Sayangnya, belum sempat membuka dompet, lampu hijau menyala dan kendaraan yang  saya tumpangi harus segera melaju, jadilah saya gagal memberikan uang tersebut.
Bisa saja sih saya lempar. Tapi saya takut beliau tidak ‘ ngeh ‘ kalau itu uang. Jadinya saya berniat memberikan kepada seorang pengemis yang biasa meminta-minta di perempatan lampu merah. Kakinya lumpuh. Dan saya sudah berencana untuk memberikan uang itu ke anak tersebut. Tapi dalam perjalanan pulang  ke rumah, saya tidak melihat  anak itu. Jadi uang itu masih ada di saya.
Pagi ini saya melapor kepada Tuhan kalau saya menemukan uang kemarin dan meminta Dia untuk menunjukkan kepada siapa uang ini mau Dia berikan. Dan saya masih menunggu jawabanNya.

Eh, anda butuh uang ?! :)