Hal itu yang hilang. Saat dia tidak perlu sungkan datang atau
berpikir dua kali untuk "menghampiri" saya. Baik untuk bercerita atau
hanya duduk diam di samping saya. Karena satu alasan saja. Dia menemukan
kenyamanannya bersama dengan saya. Di dalam diri saya. Dan itu sudah
cukup membuatnya tenang dan bahagia.
Tapi karena kebodohan yang saya lakukan, semuanya rusak. Tidak lagi
seperti sedia kala. Meskipun segalanya sudah diperbaiki dengan segala
daya dan upaya. Untuk bisa tampak seperti semula. Namun tetap hati ini
tidak bisa berpura – pura. Ada sesuatu yang sirna. Yang saat direnungkan
kembali, sesungguhnya itulah yang terutama. Yang paling bernilai dan
bermakna.
Seandainya waktu bisa diputar ulang. Sehingga tidak ada yang hilang.
Tidak ada yang berubah. Semuanya tetap sama. Dan saya tidak perlu
menanti – nantikan saat dimana dia dapat kembali bersikap apa adanya. Di
hadapan saya. Atau saat bersama saya.
Namun yang terjadi, terjadi. Yang bisa dilakukan kini hanya
merendahkan diri. Memohon kepada Tuhan yang empunya kuasa. Berkenan
mengubahkan atau mengembalikan semuanya. Ke awal lagi. Demi kerinduan
yang saya miliki. Yang saya harapkan sesuai dengan yang DIA kehendaki.
Sehingga hati yang merana ini dapat terobati. Dan bisa bersukacita
kembali.
[ Ini hanya suara hati. Tidak perlu ditanggapi :) ]
