Sabtu, 19 April 2014

Missing Piece

 
 
 
Hal itu yang hilang. Saat dia tidak perlu sungkan datang atau berpikir dua kali untuk "menghampiri" saya. Baik untuk bercerita atau hanya duduk diam di samping saya. Karena satu alasan saja. Dia menemukan kenyamanannya bersama dengan saya. Di dalam diri saya. Dan itu sudah cukup membuatnya tenang dan bahagia.
 
 
Tapi karena kebodohan yang saya lakukan, semuanya rusak. Tidak lagi seperti sedia kala. Meskipun segalanya sudah diperbaiki dengan segala daya dan upaya. Untuk bisa tampak seperti semula. Namun tetap hati ini tidak bisa berpura – pura. Ada sesuatu yang sirna. Yang saat direnungkan kembali, sesungguhnya itulah yang terutama. Yang paling bernilai dan bermakna.
 
 
Seandainya waktu bisa diputar ulang. Sehingga tidak ada yang hilang. Tidak ada yang berubah. Semuanya tetap sama. Dan saya tidak perlu menanti – nantikan saat dimana dia dapat kembali bersikap apa adanya. Di hadapan saya. Atau saat bersama saya.
 
 
Namun yang terjadi, terjadi. Yang bisa dilakukan kini hanya merendahkan diri. Memohon kepada Tuhan yang empunya kuasa. Berkenan mengubahkan atau mengembalikan semuanya. Ke awal lagi. Demi kerinduan yang saya miliki. Yang saya harapkan sesuai dengan yang DIA kehendaki. Sehingga hati yang merana ini dapat terobati. Dan bisa bersukacita kembali.
 
[ Ini hanya suara hati. Tidak perlu ditanggapi :) ]