"Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukan jariku ke dalam lambungNya, sekali-sekali aku tidak akan percaya"
Masih ingat statement ini? Perkataan ini dilontarkan oleh Tomas (Yohanis 20:25) salah satu murid
Yesus. Ceritanya waktu itu murid -murid lain sedang memberitahukan kepada Tomas
bahwa mereka sudah melihat Yesus yang bangkit. Tomas sedang tidak ada di 'TKP"
saat itu. Memperhatikan kalimat yang diucapkan, jelas sekali bahwa Tomas tidak
percaya dengan apa yang dikatakan teman-temannya. Atau dengan kata lain, dia
tidak percaya akan kebangkitan Tuhan atau Tuhan Yesus yang bangkit. Saking tidak
percayanya, Tomas sampai menuntut bukti terlebih dahulu untuk bisa meyakinkan
dirinya bahwa Yesus benar-benar hidup. Tanpa bukti, apa yang dikatakan murid-murid lain adalah kebohongan belaka! Omong kosong! Tidak bisa dipercaya.
Sebenarnya cukup aneh juga kalau Tomas meragukan perihal kebangkitan Tuhan
Yesus. Kenapa? Karena murid-murid yang lain sudah melihatNya. Dan tidak
mungkin mereka membohongi Tomas tentang hal itu. Atau sekedar bercanda. Logikanya, kalaupun dia tidak melihat Yesus menampakkan diri, paling tidak Tomas
bisa mempercayai apa yang dikatakan "teman-temannya". Kalau tidak percaya 100%, ya paling
tidak percaya 90%. Jadi tidak perlu menuntut bukti-bukti. Dan statement-nya mungkin
akan berbunyi :
” Sungguh? Kalian melihat Guru bangkit? Sayang sekali aku tidak ada bersama-sama dengan kalian saat Dia menampakkan diri. Tapi tidak apa-apa, yang penting aku tahu sekarang bahwa Guru ternyata tidak mati! Dia benar bangkit! Hidup! ”
Tapi kalau begini ceritanya, tidak ada pembelajaran sepertinya. Justru di sinilah letak keunikan Tomas sampai harus ada sebuah cerita untuk
dia. (Itu menurut saya)
Lagipula, waktu Tuhan Yesus memilih Tomas sebagai murid pasti ada alasannya. Dan
alasan inilah yang harus dicari. Diselidiki. Untuk kemudian dipelajari maksud
yang melatarbelakangi terpilihnya Tomas untuk masuk dalam jajaran murid
Yesus.
Apa alasannya? Nah, ini yang sedang saya coba gali. Kalau beda dengan
pandangan anda, maaf yaa. Tapi inilah yang saya pelajari.
Will see.. Tomas tetap tidak percaya meskipun teman-temannya sendiri yang
bicara. Mengapa? Alasannya mungkin karena, jangankan jaman dulu, jaman sekarang
orang bisa bangkit dari kematian adalah sesuatu yang mustahil. Tidak mungkin
terjadi. Tidak bakal ada. Kalau sudah mati ya mati. Dan hal itulah yang bisa
jadi ada dalam pikiran Tomas mengenai Tuhan Yesus. Tidak mungkin Tuhan Yesus
bangkit. Hidup kembali. Setelah jelas-jelas Tomas melihat dengan mata kepala
sendiri bagaimana Yesus disiksa habis-habisan, disalib, ditikam dan dinyatakan
mati lalu dikubur.
Lalu bagaimana dengan peristiwa Lazarus yang dibangkitkan sebelum peristiwa
penyaliban Yesus? Peristiwa itu seharusnya bisa menjadi bukti yang cukup bahwa
manusia bisa bangkit dari kematian, bukan?
Iya, memang. Masalahnya, bagi murid-murid Tuhan Yesus bukan hanya manusia
biasa. Meskipun bukan Superman juga waktu itu. Namun yang pasti, di mata mereka
Tuhan Yesus punya kekuatan ekstra yang tidak dimiliki manusia lainnya. Jadi
bukan sesuatu yang aneh jika Lazarus yang hanya manusia biasa dibangkitkan oleh
Yesus yang bukan manusia biasa. Tapi ceritanya berbeda karena yang mati adalah
Yesus sendiri. Yang membangkitkan!
Jadi bagi Tomas, Tuhan Yesus yang hebat itu sudah mati. Tidak ada istilah
bangkit. Karena siapa yang bisa membangkitkan orang yang dapat
membangkitkan orang? Jaman Yesus dulu, hanya Yesus yang memiliki kemampuan
membangkitkan orang. Tidak ada yang lain. So, pada saat Yesus
dinyatakan mati, Dia mati. Dan memang Tuhan Yesus mati. Bagi Tomas kehidupan
Yesus sudah berhenti sampai di situ. The End ! Tapi dia tidak tahu kalau
ternyata masih … to be continued.
Dengan begitu, tidaklah heran jika saat murid-murid mengatakan :
” Kami telah melihat Tuhan! “
Tomas tidak percaya sebelum dia menyaksikannya sendiri.
Bisa dikatakan reaksi Tomas adalah reaksi yang sangat umum. Wajar! Dengan
kata lain, siapa pun yang ditempatkan dalam posisi Tomas, pasti akan memberikan
respon yang kurang lebih sama. Akan mempertanyakan kebenarannya.
Nah, apa yang bisa dipetik dari murid Tuhan yang satu ini?
Inilah hasil perenungan saya. Menyadari bahwa Tomas sesungguhnya adalah
gambaran kita yang seringkali meragukan Tuhan. Entah itu mengenai keberadaanNya
atau kemampuan-kemampuanNya. Terlebih lagi saat kita menghadapi berbagai macam masalah. Kita berdoa. Memohon pertolonganNya. Meminta keterlibatanNya. Namun bukannya
jalan keluar yang diperoleh, kita malah mendapati Tuhan seakan-akan diam "seribu bahasa". Dimanakah Tuhan? Adakah Dia? Jika memang benar Dia ada,
mampukah Tuhan menyelesaikan masalah saya? Sanggupkah Dia mengeluarkan saya
dari pergumulan ini?
Atau mungkin kita tidak mempertanyakan hal-hal itu. Kita percaya Tuhan ada. kita meyakini Tuhan mampu mengatasi masalah kita. Tidak ada keraguan sedikit pun
tentang itu semua. Kita percaya akan kuasaNya. KehebatanNya yang luar biasa.
Namun di saat yang bersamaan kita mempertanyakan kasihNya. Bukankah Engkau Allah
yang mengasihi? Buktikanlah kasih itu kepada saya saat ini kalau memang Engkau
benar seperti yang Engkau katakan sendiri, Engkau adalah Allah pengasih. Allah
yang peduli. Selesaikanlah masalah saya!
Kita menuntut Allah membuktikan keberadaanNya,
kemampuanNya, kasihNya. Kita pasti pernah, sadar atau tidak, bersikap seperti
Tomas. Tanpa bukti, kita tidak akan percaya. Tanpa bukti, semua tentang Tuhan
tidak layak dipercaya. Padahal, berbicara soal bukti, saya percaya Allah tidak pernah
berhenti untuk terus "membuktikan" diriNya. Tidak hanya membuktikan bahwa
diriNya ada, tapi juga berkuasa dan mengasihi kita. Hanya kita saja yang
seringkali tidak sadar bahkan mungkin tidak peduli pada saat Allah menyatakannya. Sibuk dengan diri kita
sendiri atau masalah-masalah kita. Saya percaya Tuhan tidak suka anak-anakNya dilanda keraguan akan siapa diriNya. Atau mempertanyakan apakah Dia
mengasihi mereka atau tidak. Dan untuk itu Dia pasti bekerja sehingga saya dan
anda dapat kembali "melihat" Dia. Mempercayai Dia.
Keraguan adalah bagian yang normal dari kehidupan rohani kita. Adakalanya kita memang sengaja ditempatkan dalam kondisi tersebut
untuk sesuatu yang hanya dimengerti oleh Tuhan. Yang tidak normal adalah ketika kita membiarkan keraguan atau ketidakpercayaan itu menguasai hati kita sehingga kita menjadi ”buta” tentang Allah padahal bukti-buktinya sudah ada di depan
mata. Tomas memilih untuk percaya. Keraguannya tidak "tersimpan" lama. Saat Tuhan
menunjukkan bukti-bukti yang diminta, Tomas berubah menjadi seseorang yang
tidak ragu lagi akan siapa Allah. Inilah yang bisa kita pelajari dari Tomas. Dan
dari situ dia berangkat untuk menjadi pewarta Injil Allah. Berbicara kepada para
doubters bahwa Allah adalah Allah yang layak dipercaya. Dan tidak ada
sesuatu pun yang perlu diragukan tentang Dia.
Anda dan saya memang tidak mengalami apa yang Tomas alami. Tidak melihat
Tuhan menunjukkan semua lukaNya seperti yang Dia perlihatkan pada Tomas. Tapi
sesungguhnya bukti-bukti mengenai diriNya ada. Tuhan menunjukkannya. Dan itu
nyata. Senyata yang Tomas lihat dan alami juga. Baca saja Firman Tuhan. Bukti-bukti yang dibutuhkan semuanya tersedia. Yang diperlukan cukup percaya. Dan kita
akan melihat diriNya HIDUP. Ada! Bukan imajinasi, tapi realita. Dan tidak hanya
itu, Dia bahkan hidup dalam diri kita.
Kiranya keraguan yang Tuhan ijinkan untuk kita alami di saat-saat tertentu
tidak membuat kita menjadi tidak mempercayai Allah. Sebaliknya, bawalah semua
keraguan itu kepada Tuhan sehingga kita bisa kembali mengalami kuasaNya.
"... Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
(Yohanis 20:29b)