Selasa, 06 Agustus 2013

Thomas


"Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukan jariku ke dalam lambungNya, sekali-sekali aku tidak akan percaya"

Masih ingat statement ini? Perkataan ini dilontarkan oleh Tomas (Yohanis 20:25) salah satu murid Yesus. Ceritanya waktu itu murid -murid lain sedang memberitahukan kepada Tomas bahwa mereka sudah melihat Yesus yang bangkit. Tomas sedang tidak ada di  'TKP" saat itu. Memperhatikan kalimat yang diucapkan, jelas sekali bahwa Tomas tidak percaya dengan apa yang dikatakan teman-temannya. Atau dengan kata lain, dia tidak percaya akan kebangkitan Tuhan atau Tuhan Yesus yang bangkit. Saking tidak percayanya, Tomas sampai menuntut bukti terlebih dahulu untuk bisa meyakinkan dirinya bahwa Yesus benar-benar hidup. Tanpa bukti, apa yang dikatakan murid-murid lain adalah kebohongan belaka! Omong kosong! Tidak bisa dipercaya.
Sebenarnya cukup aneh juga kalau Tomas meragukan perihal kebangkitan Tuhan Yesus. Kenapa? Karena murid-murid yang lain sudah melihatNya. Dan tidak mungkin mereka membohongi Tomas tentang hal itu. Atau sekedar bercanda. Logikanya, kalaupun dia tidak melihat Yesus menampakkan diri, paling tidak Tomas bisa mempercayai apa yang dikatakan  "teman-temannya". Kalau tidak percaya 100%, ya paling tidak percaya 90%.  Jadi tidak perlu menuntut bukti-bukti. Dan statement-nya mungkin akan berbunyi :
” Sungguh? Kalian melihat Guru bangkit? Sayang sekali aku tidak ada bersama-sama dengan kalian saat Dia menampakkan diri. Tapi tidak apa-apa, yang penting aku tahu sekarang bahwa Guru ternyata tidak mati! Dia benar bangkit! Hidup! ”

Tapi kalau begini ceritanya, tidak ada pembelajaran sepertinya. Justru di sinilah letak keunikan Tomas sampai harus ada sebuah cerita untuk dia. (Itu menurut saya) Lagipula, waktu Tuhan Yesus memilih Tomas sebagai murid pasti ada alasannya. Dan alasan inilah yang harus dicari. Diselidiki. Untuk kemudian dipelajari maksud yang melatarbelakangi terpilihnya Tomas untuk masuk dalam jajaran murid Yesus.
Apa alasannya? Nah, ini yang sedang saya coba gali. Kalau beda dengan pandangan anda, maaf yaa. Tapi inilah yang saya pelajari.

Will see.. Tomas tetap tidak percaya meskipun teman-temannya sendiri yang bicara. Mengapa? Alasannya mungkin karena, jangankan jaman dulu, jaman sekarang orang bisa bangkit dari kematian adalah sesuatu yang mustahil. Tidak mungkin terjadi. Tidak bakal ada. Kalau sudah mati ya mati. Dan hal itulah yang bisa jadi ada dalam pikiran Tomas mengenai Tuhan Yesus. Tidak mungkin Tuhan Yesus bangkit. Hidup kembali. Setelah jelas-jelas Tomas melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus disiksa habis-habisan, disalib, ditikam dan dinyatakan mati lalu dikubur.
Lalu bagaimana dengan peristiwa Lazarus yang dibangkitkan sebelum peristiwa penyaliban Yesus? Peristiwa itu seharusnya bisa menjadi bukti yang cukup bahwa manusia bisa bangkit dari kematian, bukan?
Iya, memang. Masalahnya, bagi murid-murid Tuhan Yesus bukan hanya manusia biasa. Meskipun bukan Superman juga waktu itu. Namun yang pasti, di mata mereka Tuhan Yesus punya kekuatan ekstra yang tidak dimiliki manusia lainnya. Jadi bukan sesuatu yang aneh jika Lazarus yang hanya manusia biasa dibangkitkan oleh Yesus yang bukan manusia biasa. Tapi ceritanya berbeda karena yang mati adalah Yesus sendiri. Yang membangkitkan!

Jadi bagi Tomas, Tuhan Yesus yang hebat itu sudah mati. Tidak ada istilah bangkit. Karena siapa yang bisa membangkitkan orang yang dapat membangkitkan orang? Jaman Yesus dulu, hanya Yesus yang memiliki kemampuan membangkitkan orang. Tidak ada yang lain. So, pada saat Yesus dinyatakan mati, Dia mati. Dan memang Tuhan Yesus mati. Bagi Tomas kehidupan Yesus sudah berhenti sampai di situ. The End ! Tapi dia tidak tahu kalau ternyata masih … to be continued.

Dengan begitu, tidaklah heran jika saat murid-murid mengatakan :
” Kami telah melihat Tuhan! “
Tomas tidak percaya sebelum dia menyaksikannya sendiri.
Bisa dikatakan reaksi Tomas adalah reaksi yang sangat umum. Wajar! Dengan kata lain, siapa pun yang ditempatkan dalam posisi Tomas, pasti akan memberikan respon yang kurang lebih sama. Akan mempertanyakan kebenarannya. 

Nah, apa yang bisa dipetik dari murid Tuhan yang satu ini?
Inilah hasil perenungan saya. Menyadari bahwa Tomas sesungguhnya adalah gambaran kita yang seringkali meragukan Tuhan. Entah itu mengenai keberadaanNya atau kemampuan-kemampuanNya. Terlebih lagi saat kita menghadapi berbagai macam masalah.  Kita berdoa. Memohon pertolonganNya. Meminta keterlibatanNya. Namun bukannya jalan keluar yang diperoleh, kita malah mendapati Tuhan seakan-akan diam "seribu bahasa". Dimanakah Tuhan? Adakah Dia? Jika memang benar Dia ada, mampukah Tuhan menyelesaikan masalah saya? Sanggupkah Dia mengeluarkan saya dari pergumulan ini?
Atau mungkin kita tidak mempertanyakan hal-hal itu. Kita percaya Tuhan ada. kita meyakini Tuhan mampu mengatasi masalah kita. Tidak ada keraguan sedikit pun tentang itu semua. Kita percaya akan kuasaNya. KehebatanNya yang luar biasa. Namun di saat yang bersamaan kita mempertanyakan kasihNya. Bukankah Engkau Allah yang mengasihi? Buktikanlah kasih itu kepada saya saat ini kalau memang Engkau benar seperti yang Engkau katakan sendiri, Engkau adalah Allah pengasih. Allah yang peduli. Selesaikanlah masalah saya!
Kita menuntut Allah membuktikan keberadaanNya, kemampuanNya, kasihNya. Kita pasti pernah, sadar atau tidak, bersikap seperti Tomas. Tanpa bukti, kita tidak akan percaya. Tanpa bukti, semua tentang Tuhan tidak layak dipercaya. Padahal, berbicara soal bukti, saya percaya Allah tidak pernah berhenti untuk terus  "membuktikan" diriNya. Tidak hanya membuktikan bahwa diriNya ada, tapi juga berkuasa dan mengasihi kita. Hanya kita saja yang seringkali tidak sadar bahkan mungkin tidak peduli pada saat Allah menyatakannya. Sibuk dengan diri kita sendiri atau masalah-masalah kita. Saya percaya Tuhan tidak suka anak-anakNya dilanda keraguan akan siapa diriNya. Atau mempertanyakan apakah Dia mengasihi mereka atau tidak. Dan untuk itu Dia pasti bekerja sehingga saya dan anda dapat kembali "melihat" Dia. Mempercayai Dia.

Keraguan adalah bagian yang normal dari kehidupan rohani kita. Adakalanya kita memang sengaja ditempatkan dalam kondisi tersebut untuk sesuatu yang hanya dimengerti oleh Tuhan. Yang tidak normal adalah ketika kita membiarkan keraguan atau ketidakpercayaan itu menguasai hati kita sehingga kita menjadi ”buta” tentang Allah padahal bukti-buktinya sudah ada di depan mata. Tomas memilih untuk percaya. Keraguannya tidak "tersimpan" lama. Saat Tuhan menunjukkan bukti-bukti yang diminta, Tomas berubah menjadi seseorang yang tidak ragu lagi akan siapa Allah. Inilah yang bisa kita pelajari dari Tomas. Dan dari situ dia berangkat untuk menjadi pewarta Injil Allah. Berbicara kepada para doubters bahwa Allah adalah Allah yang layak dipercaya. Dan tidak ada sesuatu pun yang perlu diragukan tentang Dia.

Anda dan saya memang tidak mengalami apa yang Tomas alami. Tidak melihat Tuhan menunjukkan semua lukaNya seperti yang Dia perlihatkan pada Tomas. Tapi sesungguhnya bukti-bukti mengenai diriNya ada. Tuhan menunjukkannya. Dan itu nyata. Senyata yang Tomas lihat dan alami juga. Baca saja Firman Tuhan. Bukti-bukti yang dibutuhkan semuanya tersedia. Yang diperlukan cukup percaya. Dan kita akan melihat diriNya HIDUP. Ada! Bukan imajinasi, tapi realita. Dan tidak hanya itu, Dia bahkan hidup dalam diri kita.
Kiranya keraguan yang Tuhan ijinkan untuk kita alami di saat-saat tertentu tidak membuat kita menjadi tidak mempercayai Allah. Sebaliknya, bawalah semua keraguan itu kepada Tuhan sehingga kita bisa kembali mengalami kuasaNya.


"... Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
(Yohanis 20:29b)