Setiap orang saya rasa harus belajar menghargai kehadiran atau keberadaan
orang lain dalam kehidupannya. Terlebih lagi orang-orang yang peduli dengan
kita. Yang memberikan diri mereka untuk memperhatikan kita. Yang menunjukkan
kasihnya kepada kita. Karena tanpa mereka sesungguhnya kita hampa. Tanpa mereka kehidupan kita tidak ada
artinya.
Permasalahannya, bagaimana cara kita menghargai mereka? Tentunya tidak
dengan memberikan bunga, kue, coklat, permen atau apapun setiap hari (saat)
hanya untuk menunjukkan bahwa kita menghargai mereka. Melakukan
hal-hal sederhana seperti mengucapkan ” Terima Kasih “, memberikan respon atau
tanggapan saat mereka menunjukkan perhatian mereka, jadi tidak diam saja, dapat
menjadi bentuk penghargaan kita terhadap kehadiran mereka. Tidak perlu sampai
mengeluarkan biaya. Setuju? Itu sudah membuat mereka senang pastinya. Saya sering mengalami hal ini. Saya sering dimintai tolong sama boss saya baik untuk urusan pekerjaan di kantor, bahkan untuk urusan pribadipun saya sering dimintai tolong. dan beliau
tidak pernah lupa untuk mengatakan,
” Terima kasih Lory “
Tidak ada coklat. Tidak ada kue. Tidak ada bunga.. Tapi ucapan
yang singkat itu, membuat saya merasa begitu dihargai.
– Happiness is when you find yourself appreciated not with the flowers, cake, chocolates or anything with prices, but with the smallest and simplest thing like a word of ‘ thanks ‘ or a reply of SMS from the one you love and care. For the attention given –
Belum lama ini saya mengirim SMS ke teman saya untuk menanyakan
kabarnya. Menanyakan pasca kepindahan dia ke Jakarta mengikuti suaminya yang pindah ke sana. Saya rasa wajar kalau saya mengharapkan balasan dari dia.
Saya bertanya. Berarti saya menantikan jawaban. Tapi apa yang saya peroleh?
TIDAK ADA! Bukannya saya mengharapkan pamrih atau tidak tulus dalam memberikan perhatian
saya kepada dia, tapi … tidak bisakah dia menunjukkan sedikit penghargaannya
kepada saya? Sulitkah membalas message saya? Sesibuk itukah dia? Kok tega yaa …
Yang semakin membuat saya sedih dan kecewa adalah, beberapa jam setelah saya
mengirim message, dia
meng-update status Twitter dan Facebook-nya. Bahkan
meng-upload foto terbarunya.
Sempet yaaaa …
Rupanya dia punya waktu untuk itu semua namun tidak untuk membalas message saya.
Apakah dia membenci saya? Saya tidak tahu. Tapi saya rasa tidak. Dia tidak
membenci saya. Hubungan kami baik-baik saja. Tidak ada masalah. Dan kalau pun
ada, dia bukan orang yang suka menyimpannya. Dia pasti membicarakannya. Kami
cukup terbuka jika memang ada masalah. Apakah saya berlebihan dalam menunjukkan
perhatian saya? Apakah mengirim SMS itu berlebihan?
Pilihan dia untuk tidak me-reply SMS saya itu adalah haknya. Buat saya, mengatakan, I’m fine atau Thanks atau hanya mereply dengan mengirim emoticon sepertinya sudah
cukup. Tidak ada pulsa? Rasanya tidak mungkin. Dan terlalu mengada-ngada.
Namun hal ini mengajarkan saya satu hal. Bahwa setiap orang sesungguhnya
butuh untuk dihargai. Sekecil apapun penghargaan itu, setiap orang
membutuhkannya. Saya membutuhkannya. Anda juga pasti membutuhkannya. Tidak ada
seorang pun yang tidak mau atau tidak butuh dihargai. Omong kosong kalau ada
yang mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan itu semua. Bahwa dia akan bersikap
biasa saja saat mendapati perhatiannya tidak direspon dengan semestinya.
Mengacuhkan perhatian yang diberikan bukanlah sebuah bentuk penghargaan yang
layak diberikan kepada mereka yang sudah dengan tulus dan berani menunjukkan
kasih dan kepeduliannya terhadap kita dan yang sudah menempatkan kita menjadi
bagian penting dalam hidup mereka.
– Don’t ignore those who care about us.
Those who place us in their heart and make us become the one that matter most in
life. They take great courage to show their love to us. Not to be undervalued.
But appreciated –
Jika kehadiran atau keberadaan kita dinilai penting dalam kehidupan
seseorang, tidakkah seharusnya kita membuat kehadiran atau keberadaan orang
tersebut menjadi sama penting juga dalam kehidupan kita?
