Senin, 12 Agustus 2013

Benang Kusut

Gulungan benang kusut ini harus segera diluruskan. Besok pagi urusan benang ini harus beres atau masalah-masalah baru akan menyusul. Tapi tidak mungkin selesai dalam satu malam. Saya lelah dan mulai putus asa. Gunting! Ya, saya butuh gunting. Kepala saya sakit dan hati saya sesak. Lebih baik saya gunting saja benang kusut ini. Saya cari-cari berkeliling kamar. Saya bongkar lemari, rak buku, kotak tempat jepit rambut, dan seluruh isi tas. Tidak ada! Gunting saya hilang! Saya lelah sekali, tapi benang kusut ini harus segera diluruskan.

Saya membaringkan diri di atas ranjang. Menutup mata dan mengatur pernafasan.  Membayangkan diri saya berbaring di dalam sebuah kapal besar. Kapal ini sedang melaju ke suatu pulau terpencil. Saya membayangkan saya berbaring dan digoyang oleh ombak lautan. Saya harap ketika membuka mata, kapal sudah berlabuh entah di pulau mana yang jauh dari keramaian kota. Suatu pulau baru. Dengan kehidupan baru. Dimana benang kusut tidak akan jadi masalah lagi. Saya akan duduk di pinggir pantai sambil menikmati alam dengan tenang dan menghirup udara segar. Melamunkan memori-memori indah dan perlahan merelakannya untuk hanya menjadi suatu kenangan belaka, tidak untuk diulang, tidak untuk ditangisi.
Saya semakin jatuh ke dalam khayalan. Semakin dalam bermimpi.

Hari sudah pagi. Sungguh tidak terasa. Terdengar keributan yang akrab di telinga saya. Saya membuka mata dan menarik nafas panjang. Saya lihat sekeliling dan saya temukan lagi, si benang kusut. Masih tetap dengan bentuknya yang tak teratur. Dan membuat kepala saya berdenyut-denyut.


Selamat pagi Lory! 
Ini hari baru! Kenyataan menyambutmu. Untuk dihadapi. Bukan untuk dielakan. 
Selamat menjalankan aktivitas-mu! 
Hadapi tanggung jawabmu yang tidak seberapa dibanding dengan kekuatan yang sudah diberikan oleh Tuhan.