Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus (Lukas 24:13-35)
Pagi ini saat ber-saat teduh saya berbicara mengenai dua orang murid Yesus yang sedang
berjalan menuju sebuah kampung benama Emaus. Dikatakan mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran tentang segala sesuatu yang terjadi (dengan Yesus
yang disalibkan yang kemudian mati). Di perjalanan mereka bertemu dengan Tuhan
Yesus.
Saya tidak akan menjelaskan secara rinci apa yang mereka perbicangkan, tapi
yang paling menarik dari kisah ini adalah bagaimana saat dua murid itu bercakap-cakap dengan Yesus selama perjalanan namun tidak mengenali kalau yang berbicara
dengan mereka adalah Tuhan Yesus sendiri.
Mengapa mereka tidak mengenal Dia?
Di ayat 16 dikatakan,
"Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia"
Mata di sini bukannya mata dalam artian fisik. Karena kalau mata murid-murid terhalang (misalnya ada selaput di mata mereka sehingga penglihatan
mereka terganggu), pastinya mereka tidak akan bercakap-cakap sambil jalan. Mata yang dimaksud dalam Alkitab adalah mata iman.
Saya sempat berandai-andai, bagaimana jika saya salah satu dari kedua murid
tersebut. Saya sedang berhadapan dengan Tuhan. Tidak hanya berhadapan, tetapi berbicara secara langsung. Dan saya tidak mengenal-Nya, meskipun saat berbicara saya merasakan
bahkan mengalami apa yang murid-murid alami.
( ay. 32 ) Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?
Secara logika, seharusnya murid-murid bisa mengenali Guru mereka. Terlebih
lagi dengan perasaan-perasaan tersebut. Siapa yang bisa memberikan perasaan
seperti itu selain Tuhan? Tapi saya percaya itu semua diijinkan Tuhan terjadi
untuk sebuah maksud.
Saya tidak akan membahas apa yang salah dengan para murid. Kenapa mereka
sampai tidak mengenali Tuhan Yesus sendiri. Tapi yang menarik dari kisah ini adalah tentang Tuhan Yesus sendiri.
Dimana menariknya?
Setelah saya merenungkan selama beberapa menit, inilah yang saya temukan tengan
DIA;
Saya percaya waktu yang murid-murid miliki untuk bercakap-cakap dengan Tuhan
pastinya tidak sebentar. Karena Yesus sempat tinggal dan makan bersama kedua
murid tersebut (ay.30). Tapi meskipun waktu yang mereka miliki cukup lama,
murid-murid tetap tidak mengenali Dia. Saya tidak bisa membayangkan apa yang
Yesus rasakan saat melihat kondisi tersebut. Apa yang ada dalam pikiran Tuhan
saat melihat murid-murid mendengarkan Dia dengan sungguh-sungguh namun tetap tidak bisa mengenali Yesus.
Saya terharu saat saya merenungkan bagian Firman Tuhan ini. Saat mengetahui
bagaimana dengan sabar Tuhan Yesus menyikapi kebodohan murid-muridnya. Ya
bodoh. Karena seharusnya murid – murid bisa mengenaliNya kalau mereka percaya
dengan apa yang dikatakan para nabi (ay. 25). Masalahnya mereka tidak percaya.
Selanjutnya, bagaimana dengan sabar Yesus menjelaskan siapa diriNya dan dengan
kasih menolong mereka untuk, PADA AKHIRNYA, bisa mengenali Dia.
"Ketika itu terbukalah mata mereka dan
merekapun mengenal Dia,
tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka "
Menarik bukan? Bagaimana Dia tidak membiarkan murid-muridNya tinggal dalam
kebodohan mereka. Yesus mau membuka mata iman mereka untuk murid-murid bisa
melihat Dia. Dan buat saya pribadi, apa yang dikerjakan Tuhan adalah sesuatu
yang luar biasa.
Saya sempat bertanya, bagaimana jika Tuhan membiarkan kedua murid itu tetap "buta"? Tidak mendekati mereka. Lewat begitu saja. Tidak peduli. Pura-pura
tidak kenal. Tidak mengambil kesempatan untuk menyela pembicaraan mereka. Tidak
duduk makan bersama-sama dengan murid-murid itu. Sehingga tidak ada apapun
yang dijelaskan tentang diriNya.
Kasihan pastinya. Mereka mungkin akan terus bertanya sepanjang hidup mereka.
Tetapi tidak, Tuhan berkenan berhenti meskipun tidak lama. Mencelikkan mata
iman mereka. Menolong mereka untuk menyadari bahwa yang berbincang-bincang
dengan mereka adalah Dia sendiri yang sedang murid-murid percakapkan.
Menunjukkan bahwa diriNya adalah real. Bahwa kebangkitanNya itu nyata!
Dan satu lagi … membuat mereka PERCAYA.
Beranjak dari pemahaman ini, saya melihat, bahwa setiap orang yang punya
kerinduan untuk mengenal siapa Tuhan, orang itu tidak akan pernah dibiarkan
tinggal dalam ketidaktahuannya. Bahwa setiap orang yang tidak mengenali (percaya) siapa diriNya dan pribadi Nya, tidak akan dibiarkan Tuhan tinggal dalam kebodohannya.
Dengan cara apapun Tuhan akan membuat orang itu mengenali diriNya.
Dia akan melakukan apa saja untuk membuat kita bisa "bersentuhan" dengan Dia.
Karena Tuhan terlalu mengasihi manusia (kita). Dan bisa mengenal
diriNya adalah juga kerinduan Allah.
Saya bersyukur saya memiliki Tuhan yang begitu mengasihi saya. Saya tidak
ingat kapan persisnya, tapi saya yakin ada satu masa dalam kehidupan saya dulu
dimana saya mempertanyakan apakah Tuhan ada. Apakah Tuhan nyata. Apakah Tuhan
layak dipercaya. Puji Tuhan, Dia tidak membiarkan saya terus bertanya. Dia tidak
membiarkan saya dalam ketidaktahuan atau kebodohan saya. Dia menyatakan diriNya.
Dia membuat saya melihatNya. Dia membantu saya mengenaliNya. Dan Dia membuat
saya percaya kepadaNya.