Jumat, 02 Agustus 2013

To Love & To Be Loved

Saya tidak tahu apakah anda pernah mendengarnya. Atau teman anda pernah mengatakannya. Tapi inilah statement yang pernah saya dengar dari beberapa teman wanita saya beberapa waktu kemarin:
” Lebih baik  dicintai (laki – laki) daripada  mencintai “
Wanita dilarang memberikan cintanya 100% kepada pria, entah itu kekasihnya atau suaminya. Begitulah penafsiran kalimat di atas. Maaf kalau saya salah . Mengapa? Semata-mata untuk menjaga perasaan wanita yang dikenal sangat rapuh, terlebih lagi dalam urusan cinta.

Mungkin statement ini diberikan untuk maksud yang baik. Meskipun dilandasi oleh perasaan sakit hati atau benci. Agar wanita lebih berhati-hati dengan perasaannya. Berhati-hati dalam memberikan perhatian kepada pasangannya. Tidak berlebihan. Sehingga jika hubungan itu harus berakhir dengan kata "putus" atau "cerai", wanita tidak sampai harus menyesalinya. Karena toh perasaan yang hancur itu hanya 50%, 60% atau 70% saja. Sisanya yang 50%, 40% atau 30% bahkan mungkin 10% masih ada untuk bangkit dan menyadari siapa kaum pria itu sebenarnya. Mahluk yang suka melukai hati wanita. Kasihan bener  ya para pria …Hehehe
Tapi tenang saja. Tidak semua wanita memiliki anggapan yang sama. Untuk kaum Adam, kalian bisa kembali bernafas lega. Hehehe..

Saya tidak ingin menyalahkan mereka. Mereka berhak atas opini mereka sendiri. Mereka berhak untuk membuat statement apapun. Karena setiap orang bertanggunng jawab atas perasaannya dan penilaiannya terhadap perasaannya tersebut. Dan saya juga tidak mengingkari bahwa mencintai seseorang dan mengetahui bahwa orang itu tidak mengasihi kita sungguh-sungguh adalah sesuatu yang menyakitkan. Namun, apakah benar setelah itu adalah lebih baik untuk tidak mencintai dan lebih penting dicintai hanya supaya luka yang tertinggal tidak lebih dalam atau supaya tidak terluka lagi?

Saya pernah merasakan yang namanya mencintai dan dicintai  seorang pria yang ternyata di kemudian hari mendapati bahwa dia bukan pria seperti yang saya pikirkan (baca : harapkan) untuk mendampingi hidup saya selamanya.  Merasa sakit hati, kecewa, hingga pernah terbersit di pkiran saya  untuk tidak  mau merasakan yang namanya  mencintai dan dicintai lagi karena efek sakit hati itu. Saya sadar bahwa itu pemikiran yang salah , dan sangat terlihat bodoh dimata orang-orang dan lebih penting lagi di hadapan Tuhan. Apakah saya segitu traumanya?

Untuk beberapa waktu lamanya, saya pernah sependapat dengan pernyataan tersebut. Tapi saya sadar kalau itu hanyalah perkataan dari orang-orang yang terluka, yang telah salah menilai apa yang sudah dialami.

Keputusan itu berubah saat saya menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang salah dalam mencintai seseorang. Yang salah adalah bagaimana saya meresponi kekecewaan saya terhadap perasaan saya yang terluka. 

Jadi, apakah benar lebih baik dicintai daripada mencintai ?
Menurut saya, tidak ada yang lebih baik. Dicintai tanpa mencintai atau hanya sedikit mencintai akan membawa kita kepada sikap tidak peduli (dan sejuta sikap lain). Kita tidak didorong untuk memberikan yang terbaik kepada pasangan kita oleh karena kurang kasih kita kepadanya. Mencintai tanpa dicintai atau hanya sedikit dicintai pun juga tidak benar. Karena itu akan membawa kita kepada kesedihan yang berkepanjangan. Kita akan berusaha mati-matian memberikan yang terbaik kepada pasangan kita, tapi semua yang terbaik itu ditanggapi alakadarnya saja. Bukankah hal itu menyakitkan?
Secara pribadi, saya butuh untuk DICINTAI dan saya perlu MENCINTAI. Dan semuanya, saya percaya, harus dalam porsi yang sama. Yang satu tidak boleh lebih dari yang lain. Saya membutuhkan keduanya. Karena itu yang menandakan saya menghargai orang yang Tuhan berikan kepada saya (pasangan) dengan cara mencintai dia dan saya menghormati diri saya juga dengan cara membiarkan diri saya dicintai oleh orang itu.
 
So, which one is better for you … to love or to be loved ?
I hope, BOTH ! 
 
-There is only one happiness in life, to love and be loved-

 Selamat mencintai (kembali) dan memberikan diri untuk dicintai