Berdoa adalah komunikasi kepada Tuhan. Menyampaikan semua keluh kesah kita, semua ucapan sykur kita kepada yang empunya kehidupan ini.
Buat saya pribadi, berdoa adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Apakah teman-teman
juga berpendapat yang sama? Ketika saya sedang menghadapi tekanan atau masalah
berat, adakalanya waktu satu jam sepertinya tidak cukup buat saya untuk menyampaikan semua isi hati saya. Tiba – tiba sudah satu jam saja. Saya sering melanjutkannya di malam hari. Bahkan saat berada dikantor, ketika saya dirundung masalah yang sangat-sangat berat, pastinya akan sangat mengganggu fokus kerja saya karena hati ini serasa tidak memiliki damai sejahtera, maka kamar mandi atau toilet adalah tempat yang paling nyaman buat saya untuk datang pada-Nya. Saya sadar itu adalah tempat yang tidak layak, tetapi saya percaya Tuhan lebih melihat hati saya. Dia mengerti kondisi saya saat itu.
Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya TUHAN, pada
waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku
dengan pertolongan-Mu yang setia!
(Mazmur 69:13)
Buat saya berdoa sama saja dengan saya curhat pada Tuhan. Dan kadang topik doanya pun sama dengan atau topik doa yang kemaren. Kadang saya berfikir jangan-jangan Tuhan sudah bosan dengan doa-doa saya. Yang pasti saya betah kalau curhat sama Tuhan. Karena saya tahu
Tuhan maha mendengar, memperhatikan setiap kata yang saya ucapkan, mengerti serta memahami perasaan
saya dengan sangat baik. Tidak ada yang sebaik Dia dalam hal memahami perasaan
seseorang. Tahu persis apa yang menjadi ketakutan – ketakutan saya. Apa yang
membuat saya khawatir. Dan bagaimana cara menanganinya. Dan tidak pernah
menganggap saya sebagai pengganggu meskipun setiap hari setiap saat saya selalu
mengganggu Dia. Selain itu selalu melihat saya sebagai seseorang yang sangat
penting bagiNya sehingga tidak dibiarkan apapun mengalihkan perhatianNya saat
saya sedang berbicara. Tidak pernah ada kata sibuk untuk saya. Selalu punya
waktu setiap kali saya datang kepadaNya.
"Ketika saya berdoa, saya bisa berbicara tentang apa saja kepada Allah"
Saya bisa menyampaikan apa saja sama Tuhan. Sepuasnya! Mulai dari urusan
pekerjaan, keluarga, sampai percintaan. Mulai dari hal – hal yang kecil sampai yang besar.
Mulai dari hal-hal yang terdengar ‘konyol‘ sampai yang serius.
Mulai dari hal – hal yang biasa sampai hal-hal yang luar biasa. Tidak ada
batasan.
Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa
kepada-Ku,
maka Aku akan mendengarkan kamu;
(Yeremia 29:12)
Dan,” Saya tidak perlu menyembunyikan apapun “
Saya tidak perlu menyembunyikan apapun dariNya. Apa saja yang
saya ingin katakan, saya bisa katakan. Saya tidak perlu takut Tuhan akan
membongkar rahasia saya. Bahkan rahasia saya yang paling terdalam sekalipun.
Saya bisa dengan bebas menceritakannya kepada Tuhan.
Lalu,
” Saya bisa menjadi diri saya sendiri “
Ini yang paling penting. Saya bisa menjadi diri saya sendiri di hadapan
Tuhan. Tidak perlu jaim (Jaga Image). Saya tidak harus membuat kata – kata
saya terdengar smart atau indah. Tidak perlu merasa malu
jika saya salah bicara. Tidak perlu takut jika Tuhan menemukan kejelekan-kejelekan dalam pikiran saya saat saya berdoa. Tidak perlu berpura-pura kuat
atau tegar padahal saya sesungguhnya rapuh. Atau berpura-pura bahagia saat
yang saya inginkan adalah menangis. Atau sok bersikap tenang padahal saya takut
atau khawatir. Saya tidak perlu menjadi orang lain yang bukan diri saya saat
saya bersama Dia.
"Bahkan ketika saya kecewa dengan Tuhan, saya dapat bebas mengekspresikan itu di hadapan-Nya"
Kepada siapa kita bisa bersikap terang-terangan seperti ini? Bahkan kepada
pasangan atau sahabat terdekat sekali pun kita tidak bisa vulgar atau seenaknya
mengungkapkan rasa kesal, kecewa atau sakit hati kita oleh karena pertimbangan
perasaan-perasaan atau sikap-sikap mereka nantinya. Tapi kepada Tuhan,
berbeda. Dengan bebas saya bisa mengungkapkan kekecewaan saya terhadap
diriNya.
Saya pernah kecewa pada Tuhan. Apakah teman-teman juga?
Pastinya sekali, dua kali atau beberapa kali kita pernah merasa kecewa
terhadapNya. Tidak jarang Tuhan membuat saya kecewa. Sampai saya 'bete'
seharian atau berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lamanya. Apalagi kalau bukan
karena hal yang saya minta namun tidak dikabulkan atau keputusan-keputusanNya
yang terkadang tidak seperti yang diperkirakan.
Namun uniknya,"Daripada dihakimi setelah melakukannya, saya dibuat sadar bahwa segala sesuatu harus sesuai dengan kehendak Allah"
Ini yang sama sekali tidak bisa dimengerti. Seringkali kita (saya
persisnya) menyalahkan Tuhan atas rasa kesal, sedih atau kecewa yang saya alami. Saya
pernah menghina Tuhan dalam doa karena tindakanNya atau kehendakNya yang tidak
bisa saya terima (seriusss). Tapi saat merenungkannya kembali, saya disadarkan mengapa Dia perlu menolak permintaan saya dan mengapa saya
harus tunduk atas setiap hal yang menjadi keputusanNya.
Bahkan dimampukan untuk menerima kehendakNya meskipun butuh beberapa waktu
lamanya.
Tuhan begitu baik dan kasihNya benar-benar luar biasa. Seharusnya saya
sudah dihukum dan dihajar habis-habisan. Atau kalau Tuhan mau, Dia bisa
memutus nyawa saya saat itu juga dan melempar saya ke dalam neraka tanpa perlu
berpikir panjang karena saya sudah bersikap tidak tahu diri di hadapan Tuhan.
Saya layak untuk itu semua. Tapi kenyataannya,
Dia malah memaafkan. Memberi saya kesempatan untuk mengaku dosa. Bertobat! Itulah Tuhan.
"Dan tidak hanya itu. Meskipun saya tidak punya jawaban atas doa saya, saya bahagia karena saya bisa mengatakan kepada-Nya apa yang saya inginkan, apa yang saya harapkan "
Menariknya, meskipun permintaan saya belum dijawab Tuhan, bahkan belum tahu
apa jawabanNya, ” IYA ” atau ” TIDAK ” atau ” NANTI DULU “, saya puas dan
bahagia. Puas karena saya sudah mengungkapkan segala keinginan saya. Kerinduan
saya. Harapan – harapan saya. Bahagia karena saya percaya Tuhan memperhatikan
semuanya dan akan memberikan HANYA yang terbaik kepada saya.
"Dan ketika saya tidak tahu bagaimana untuk menempatkan keinginan saya dengan kata-kata, Dia tahu persis apa itu"
Pernah mengalami hal ini? Punya keinginan tapi susah diungkapkan dengan kata-kata. Saya pernah. Sehingga yang saya lakukan saat saya kesulitan menjelaskan adalah dengan
berkata, tetapi Tuhan tahu maksud saya.
Itulah alasan – alasan mengapa it feels so good to talk to
Him. Karena Dia mendengar. Mengetahui. Mengerti. Memahami. Dan juga
merasakan. Tidak ada hal yang begitu nikmat memiliki sahabat yang begitu dekat
dan mengasihi saya.
No one understand like Jesus. No one is so near, so dear as Jesus.
He is a friend beyond compare
"Tetaplah berdoa"
(1 Tesalonika 5:17)