Apa itu Egois??
Egois adalah sikap mementingkan diri
di atas kepentingan orang lain tanpa batas. Artinya tidak mengenal kondisi,
dalam pengertian dengan siapakah kita bersama, pokoknya kita yang harus
mendapatkan prioritas yang utama. Pada dasarnya orang yang egois memiliki sifat
serakah meskipun tidak selalu nampak serakah. Orang egois sebetulnya menyimpan
ketakutan, kekhawatiran. Apa yang dia khawatirkan? Dia takut kehilangan apa yang
menjadi miliknya atau haknya maka itulah dia tidak rela kehilangan sedikitpun
apa yang sudah menjadi miliknya. Dia takut sekali, maka dikatakan orang yang egois
sebetulnya mempunyai kebutuhan yang besar akan ketenteraman atau keamanan.
Penyebab orang memiliki sikap egois yang besar
Sikap egois ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah
diterimanya selama ini. Misalnya sejak kecil ia dijunjung dan diutamakan, ia
tidak pernah disalahkan dan senantiasa dibenarkan, orang seperti ini sewaktu dia
dewasa, dia menuntut perlakuan yang sama dari semua orang. Dan dia akan gagal
mengembangkan satu keterampilan yang sangat penting, yakni berempati yang
artinya adalah menempatkan diri pada posisi orang lain, melihat sesuatu dari
sudut pandang orang lain, merasakan sesuatu dari perasaan orang lain.
Sikap egois timbul dari kelaparan; kelaparan emosional,
kelaparan finansial atau kelaparan jasmaniah. Artinya anak-anak ini bertumbuh
dalam lingkungan yang minus, kurang mendapatkan gizi-gizi emosional, perhatian,
kasih sayang dari orangtuanya atau hidupnya susah sekali secara finansial atau
jasmaniah. Meskipun tidak selalu, anak-anak yang dibesarkan dalam kekurangan
yang begitu besar kalau nggak hati-hati akan menjadi orang dewasa yang sangat
haus atau lapar akan pemenuhan. Sehingga waktu dia menerima, waktu dia mencicipi
dia tidak bisa melepaskan. Ini berlaku untuk segelintir orang.
Cara memerangi sikap egois yang memang sudah mendarah daging:
Kita mesti memahami sumber sikap egois kita, apakah sumbernya
adalah karena kelebihan, kita terlalu banyak menerima sehingga kita menuntut
orang memberikan yang sama. Bertanya, jika orang berada pada posisi saya, apa yang akan
mereka lakukan. Atau bagaimana jika saya berada pada posisi orang tersebut? Pertanyaan ini bertujuan
untuk menempatkan diri pada posisi orang, melihat dari kaca mata orang,
merasakan dari perasaan orang. Berimanlah pada Tuhan yang memelihara hidup kita, selalu saya
mau tekankan bahwa masih ada Tuhan dalam hidup ini dan Tuhan yang memelihara
kehidupan kita, Dia tidak meninggalkan kita. Jadi jangan takut kehilangan, waktu
kita melepaskan hak jangan takut rugi waktu kita berkorban, ada Tuhan yang
melihat, ada Tuhan yang memberi berkat, ada Tuhan yang mencatat perbuatan
manusia. Ambillah secukupnya, ambil yang menjadi milik kita, ambil
secukupnya jangan berlebihan dan langkah yang kedua bagilah meskipun sedikit.
Jadi orang yang egois perlu belajar mengambil tapi secukupnya, perlu belajar
membagi meskipun sedikit, itu awalnya.
"Janganlah menahan kebaikan dari pada
orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."
(Amsal 3:27)
Ayat ini memang sulit dikerjakan oleh orang yang egois, tetapi Tuhan meminta kita jangan menahan kebaikan, jangan menahan kebaikan padahal kita mampu memberikan kebaikan itu.