Hari Kamis kemarin ( 24 October ) saya dikejutkan dengan berita kematian kerabat kami. Akibat stroke yang dideritanya. Hampir 5 tahun dia menderita sroke. Dan tepat hari itu Tuhan memanggilnya kembali.
Dua hari kemudain. tepatnya kemarin malam saya mendengar kabar buruk dari adik sepupu
saya. Dia menelpon saya dan curhat kepada saya bahwa dia dipecat dari tempatnya mengajar. Yep. Dipecat!
Untuk alasan apa? Lagi – lagi tidak tahu. Karena sewaktu adik sepupu saya dipanggil
menghadap pimpinan, wakil pimpinan hanya mengatakan
:
“ Besok kamu tidak usah datang lagi karena kamu tidak bisa diajak bekerja sama “
Begitulah kurang lebih bahasanya. Saya juga tidak
mengerti. Tapi menurut saya, pemecatan itu pasti ada kaitannya dengan
masalah liburan mereka ( adik sepupu saya dan rekan – rekan kerjanya ).
Begini ceritanya …
Minggu lalu mereka mengadakan acara kebersamaan di Bali. Saat mereka di sana
ternyata ada sedikit masalah mengenai attitude rekan – rekan adik sepupu saya
yang tidak proper menurut dia. Juga ada masalah kecil lainnya yang
menurut pandangan saya seharusnya tidak perlu dibesar – besarkan. Cukup
dikomunikasikan baik – baik untuk menyelesaikannya. Adik sepupu saya tidak tahu kalau
masalah tersebut menjadi pembahasan khusus sepulangnya mereka dari Bali. Jadi
mereka mengadakan meeting untuk membicarakannya.
Setelah meeting, adik sepupu saya pikir masalah itu sudah selesai. Ternyata belum.
Setibanya di sekolah tempat dia mengajar keesokan harinya, tiba – tiba dia
dipanggil ke ruang pimpinan dan … JGER ! She was fired !
Menurut adik sepupu saya, mungkin untuk alasan itulah dia dipecat. Karena dalam hal
pekerjaan, adik sepupu saya yakin bahwa dia tidak memiliki masalah apapun. Dia bisa
memastikan bahwa dia melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik dan tidak pernah
ada keluhan atasnya. Jadi, satu – satunya alasan yang bisa dia pikirkan sebagai
alasan pemecatannya adalah masalah liburan kemarin.
Wah, picik sekali ya. Hanya karena masalah sepele, urusannya sampai ke PHK.
Syukurlah sekolah tempat dia mengajar bukan sebuah sekolah yang besar dan
ternama. Sekolah itu baru dirintis. Muridnya saja masih 10 orang. (Banyak sekali
yaaaa..:)
Jadi tidak terlalu rugi juga meninggalkannya. Malah dipikir – pikir ada baiknya
juga dia meninggalkan tempat itu. Selain masih belum jelas status akreditasinya, adik sepupu saya ternyata pernah beberapa kali mendapati gajinya tidak dibayar
on-time dan itu pun nyicil ! Jiaaahhh, gaji dicicil ! Emang panci
dicicil. Hahaha …
Mungkin anda bertanya – tanya kenapa adik sepupu saya mau bekerja di tempat itu.
Pertama, adik sepupu saya memang membutuhkan pekerjaan. Sebenarnya setelah
resign dari kantornya yang lama, dia sudah mendapatkan pekerjaan yang
baru. Tapi dia memilih untuk menjadi part timer dulu karena masih harus
menjalani pekerjaan sampingan dia yang lainnya (mengajar juga).
Kedua, wakil pimpinan yang memecat kakak saya itu terus
menghubungi adik sepupu saya dan meminta dia untuk melamar ke sekolah tempat mereka
mengajar tersebut. Karena menurut adik sepupu saya waktunya masih bisa diatur, dia pun
menyanggupinya. Tapi baru berjalan selama 3 bulan … dipecat ! Ya, sudah. Mau
bagaimana lagi ? Bukan kami yang punya otoritas dalam hal ini. Meskipun
menyakitkan mendengarnya, dia dan keluarga hanya bisa menerima dengan pasrah.
Puji Tuhan adik sepupu saya masih memiliki pekerjaan lain. Kiranya dalam waktu dekat
Tuhan berkenan memberikan pekerjaan baru kepadanya.
Nah, hari ini saya mendengar kabar buruk juga. Ayah salah seorang rekan di
kantor meninggal dunia. Padahal yang sakit ibunya. Tapi yang meninggal ayahnya.
Memang sih tidak jarang yang seperti ini. Siapa yang sakit, siapa yang
meninggal. Tapi tetap saja mengundang pertanyaan. Namun, itulah hidup. Umur
adalah rahasia Tuhan. Tuhan yang merencanakan jalan hidup seseorang. Bukan soal
penyakit atau kesehatan prima yang menentukan berapa lama kita bisa hidup di
dunia. Tapi kehendak Tuhan lah yang mengatur itu semua.
Yang pasti saya cukup terkejut mendapatkan kabar buruk beberapa hari ini.
Tidak menyangka bahwa akan mendengarnya dalam waktu yang berdekatan seperti ini.
Jujur saya bertanya – tanya dalam hati apa yang mau Tuhan sampaikan melalui
semua peristiwa itu. Selain bahwa tidak ada yang permanen di dunia ini. Hidup,
karir atau pekerjaan seseorang, semuanya bersifat sementara. Seberapa keras pun
usaha kita untuk mempertahankannya, kalau Tuhan mau ambil, siapa yang bisa
menghalanginya?
Namun satu hal yang bisa disyukuri, bahwa semua ada dalam rencana dan
kendaliNya. Sehingga tidak mungkin Dia tidak menyediakan pekerjaan pengganti
dalam kasus adik sepupu saya, misalnya. Tuhan sudah memperhitungkan segalanya. Bagian
kita adalah tetap percaya bahwa apa yang diijinkanNya terjadi dalam kehidupan
adalah yang terbaik untuk kita.
Saya hanya berharap saya tidak harus mendengar berita buruk lagi beberapa
hari ke depan. Semoga …
