Jumat, 29 November 2013

Ibu Kandung apa Ibu Tiri sih?

Hari ini ada pemandangan tidak enak yang saya lihat, ketika saya dan teman saya berada di mall.  Seorang ibu dengan ” semangat “ memukuli  dengan tangan), mencubit, memarahi anak laki – lakinya (umurnya sekitar 6 atau 7 tahun ) yang menangis entah karena apa.

Anehnya dia tidak malu melakukan hal tersebut di depan orang banyak. [Secara di mall ya pasti ramailah] Sudah putus kali yaa urat malunya? Dan dari gaya memukulnya yang ” fasih “, sepertinya dia sudah biasa melakukan itu kepada anaknya. Saya percaya pastinya beliau juga sudah terbiasa melakukannya di depan publik. Karena dia tidak menghiraukan sedikit pun tatapan orang-orang yang berada di sekitar situ! Dalam hati saya bertanya-tanya; ini ibu kandungnya apa ibu tiri sih?

Terus terang, saya tidak suka melihat anak kecil dipukuli. Meski oleh orang tuanya sendiri. Tidak tega! Selain itu, tidak baik saya pikir jika dia melakukannya di depan orang–orang. Tapi karena saya tidak tahu duduk permasalahannya, mengapa sang ibu memukuli anaknya berkali–kali, saya memilih untuk diam sambil sesekali memperhatikan apakah si anak terluka akibat pukulan tersebut.
Saya tidak tahu persis apa yang membuat si ibu marah sehingga memukuli anaknya demikian di depan kami. Beliau memang mengatakan beberapa kalimat saat sedang melakukan ” aktivitasnya “. Tapi saya tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang dikatakan. Mungkin karena saya lebih memperhatikan gerakan tangan, amarah, tatapan ngeri orang-orang yang ada di sekitar situ, ketimbang kata–kata yang diucapkannya. Tapi apapun masalahnya, yang pasti rasanya tidak etis melakukan hal tersebut di depan publik terlebih lagi terhadap anak sendiri. Bukan begitu? Saya hanya memikirkan perasaan si anak, karena pastinya hal itu akan terekam dengan baik dalam ingatan si anak dan mempengaruhi kondisi psikologisnya di kemudian hari.

Bukannya saya melarang orang tua untuk memarahi anaknya jika memang mereka kedapatan berbuat salah. Silahkan saja lakukan. Itu hak para orang tua. Sah–sah saja asal tidak dalam rangka sengaja menyakiti, menyiksa untuk mencari pelampiasan kemarahan. Jika dilakukan dalam rangka kasih, untuk mengajar, mendidik sehingga si anak tahu bahkan sadar akan kesalahannya dan tidak melakukan lagi, saya malah menyarankan. Karena memang ada beberapa anak yang butuh dididik dengan cara demikian. Bukan kekerasan. Melainkan ketegasan.
Tapi please, jangan ditempat umum. Karena biar bagaimana pun juga, anak–anak punya harga diri. Meskipun mereka belum mengerti apa itu harga diri bukan berarti orang tua bisa seenaknya memperlakukan mereka dengan kasar. Hormatilah harga diri mereka. Dan hormatilah diri anda juga dengan mengendalikan emosi anda di tempat umum.

So for mums, please … jangan lakukan apa yang ibu tersebut lakukan. Saya tidak perlu menjelaskan alasan mengapa hal itu tidak boleh, tidak baik atau tidak etis dilakukan. Anda sendiri, saya yakin, pasti tahu jawabannya. Saya yang tidak mengalami saja sedih melihatnya, apalagi si anak yang menerima perlakuan si ibu. Sakitnya mungkin tidak seberapa, tapi malunya?
Semoga tidak ada lagi ” penglihatan ” semacam itu yang saya temukan baik hari ini maupun di kemudian hari.