Saya selalu berusaha menyempatkan diri untuk membacanya setiap hari. Terlebih
lagi renungan yang ditulis di hari Minggu. Karena adakalanya isi kotbah yang
dibawakan pendeta tidak semenarik dan sekaya renungan yang saya baca di beberapa artikel, buku-buku rohani yang saya beli, atau group-group rohani yang ada media-media sosial. Jadi apa yang saya
lakukan ini sesungguhnya adalah sebuah usaha ”berjaga-jaga” apabila kotbah
si pendeta tidak banyak ”mengis ” saya. Rasanya menyedihkan jika sudah datang
beribadah tapi kotbah yang didengar disampaikan begitu saja. Tidak ada banyak
pembelajaran yang diperoleh. Sayang! Bukan hanya sayang waktunya, tapi juga
sayang Firman Tuhannya.
Bukannya saya mengecilkan para pendeta dan menghina peranan Roh Kudus yang
sudah menolong mereka mempersiapkan bahan kotbah yang dibawakan, tapi rugi
sekali jika Firman Tuhan yang begitu kaya akan pengetahuan, pengertian, hikmat,
didikan, pengajaran, dan lain sebagainya disampaikan hanya sebatas informasi
belaka. Kebanyakan pendeta, menurut saya, hanya memberi informasi. Sementara
yang jemaat butuhkan lebih dari sekedar itu. Karena, jika memang informasi yang
dibutuhkan, itu bisa dicari dengan membaca Alkitab, buku atau melalui internet
dan media lainnya. Namun bagaimana memahami Firman Tuhan yang dibahas dan
melihatnya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari untuk kemudian tahu apa
yang harus dilakukan setelahnya, itulah yang seringkali kurang dikupas tuntas!
Banyak pendeta yang menurut pengamatan saya mempersiapkan diri hanya
sekedarnya saja. Enggan menggali lebih dalam lagi. Padahal ada banyak hal yang
bisa didapat jika mereka tidak hanya sekedar mempersiapkan kotbah. Atau dengan
kata lain, hanya untuk memenuhi tugas kotbah saja. Darimana saya tahu mereka
hanya memenuhi tugas kotbah saja? Bagi saya, jika apa yang dikotbahkan membawa
saya untuk semakin rindu mengenal Tuhan dengan lebih baik lagi, kotbah tersebut
bukan hanya sekedar kotbah. Kotbah tersebut adalah Firman Tuhan yang
bekerja. Firman yang hidup di dalam saya.
Saya tidak mengatakan bahwa pendeta tersebut tidak diurapi Tuhan oleh karena
hanya memberi sedikit saja kepada saya. Saya mengakui bahwa sedikit atau
banyaknya Firman yang dariNya saya bisa belajar, itu juga tergantung dari
bagaimana sikap saya saat menerima Firman tersebut. Kalau saya menolak atau
mengeraskan hati, sudah pasti tidak banyak (tidak ada malah) yang bisa saya
jadikan pelajaran.
Pernah suatu kali seorang pendeta yang cukup terkenal datang untuk berkotbah
di gereja saya. Saat mendengar kotbahnya, saya menemukan dia hanya mengulang-ngulang perkataan yang sama sampai saya bosan mendengarnya. Dalam hati saya
berpikir :
” Ini pendeta persiapannya segitu saja yaa? Dari tadi hanya itu yang diomongin. Perasaan ayatnya banyak, kenapa cuma ayat itu yang dibahas ya? “
Tuh kan, saya jadi menghakimi!
Bukan cuma sekali saya mendengar teman atau orang atau bahkan pendeta sendiri
mengatakan :
” Jangan datang ke gereja karena pembicara atau pengkotbahnya. Datanglah karena Tuhan ! “
Di satu sisi benar. Datang ke gereja tidak boleh karena
pembicara, pengkotbah atau pendetanya. Beribadah memang harus karena Tuhan.
Dimotivasi karena kerinduan bertemu Tuhan. Bukan yang lainnya. Tapi... menurut saya pendeta juga harus menggali diri! Harus belajar mengembangkan
isi kotbahnya. Menggunakan ilustrasi atau contoh-contoh yang up to date,
misalnya. Yang sesuai jaman Sehingga jemaat
dapat belajar lebih banyak lagi dari Firman Tuhan yang dibawakan. Dan yang
terutama, tidak menyalahkan pendeta jika tidak datang ke gereja.
Seperti yang sudah saya katakan di atas, Firman Tuhan itu kayaaaa … masa
iya yang didapat itu-itu saja. Seakan-akan bisa ditebak mau bicara apa. Saya
saja (bukannya sombong yaa) yang bukan pendeta, tidak pernah masuk STT (
Sekolah Tinggi Teologia ) bisa mendapatkan banyak hal saat menggali Firman
Tuhan. Seharusnya mereka yang pendeta bisa mendapatkan lebih banyak lagi, bukan? Dan saya yakin, Tuhan pasti ingin memberi banyak. Dia tidak pelit! Tidak
mungkin Tuhan tidak "membukakan" jika kita mau terus belajar menggali
FirmanNya. Anda setuju?
Maaf jika post saya ini menyinggung anda yang mungkin berprofesi sebagai
pendeta. Saya tidak ada maksud sama sekali. Tapi inilah ungkapan hati saya.
Kalau anda "kebetulan" membaca dan merasa tersinggung atasnya, percayalah itu
bukan sebuah ” kebetulan “. Itu teguran langsung dari Tuhan ! Hehehe …
*plak!*