Dalam beberapa waktu belakangan ini, saya sangat terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran : Bagaimana
menghubungkan hal yang saya sukai dengan peran sosial yang harus saya
ambil di tengah realita masalah sosial yang sangat memprihatinkan
seperti ini?? Darimana saya harus memulainya??
Pertanyaan
ini muncul bukan tanpa alasan.. Pada saat bertemu dengan teman-teman gereja, masing-masing dari kami bercerita tentang mimpi-mimpi ke depan..
Beberapa tahun lagi apa yang ingin kami capai dalam hidup. Hanya sedikit sekali orang-orang yang memikirkan porsi tanggung jawab sosial dalam mimpi-mimpinya.. Banyak
teman yang hanya memikirkan bagaimana ia berlomba dengan kesempatan
bisnis dengan tujuan menumpuk rupiah setinggi mungkin, kesempatan masuk ke panggung politik, kesempatan untuk promosi
jabatan dll... Apa yang salah dengan hal itu?? Yah, memang tidak ada
yang salah dengan hal-hal itu.. Yang menjadi masalah dan mengusik saya adalah, apakah mereka benar-benar tahu mengapa mereka harus mengejar itu?? Apakah
ada alasan yang lebih mendalam daripada hanya sekedar mengejar profil
masa depan dan pengakuan eksistensi oleh banyak orang?
Saya
memikirkannya.. Dan saya menolak profil masa depan yang kelihatannya
menjadi impian banyak orang namun dangkal dalam makna hidup. Hasil yang benderang tapi miskin proses. Pertanyaan-pertanyan
ini muncul dengan sangat kuat sejak beberapa tahun yang lalu.. Beberapa
kali, tapi tidak konsisten dan dengan intensitas perasaan yang semakin
dangkal. Namun, akhir-akhir ini pertanyaan itu kembali menyayat hati dan
saya menemukan diri saya masih terjebak dalam alur teori visi hidup
yang menyesatkan. Merancang banyak hal tentang masa depan. Namun di
saat saya mengevaluasi diri, saya menemukan bahwa saya belum melakukan
apapun untuk orang lain. Saya
belum mengerjakan apa-apa untuk menolong zaman ini. Saya hanyalah
pribadi yang mungkin bermanfaat untuk diri saya sendiri,keluarga dan
mungkin beberapa teman dekat. Selebihnya, kehadiran saya di dalam dunia
dapat dihapuskan dalam sekejap.
Saya
merindukan ingin memakai minat, talenta, spirit yang ada untuk
mengerjakan sesuatu yang berguna untuk menjawab realita masalah sosial.
Dan kemudian saya kembali mengingat suatu perenungan yang pernah
dibawakan oleh seorang kakak rohani beberapa bulan yang lalu. Tentang pemaknaan menjalani profesi yang merupakan kesukaan dan kepekaan terhadap realita kehidupan.
Beberapa minggu yang lalu saya sempat menonton acara di salah satu TV Swasta yang mengupas tentang sebuah foto hasil jepretan si Kevin Carter. Saya sedikit penasaran dan mencari tau kebenaran informasi di internet. Pada bulan
Maret 1993 Kevin Carter memutuskan terbang ke Sudan, untuk mengambil foto
pemberontak disana, namun disaat mendarat di desa Ayod, Carter
memutuskan untuk memotret korban kelaparan, melihat gambaran rakyat
Sudan yang kelaparan hingga mati. Ia berjalan menembus semak belukar, ia
mendengar rintihan pelan, semakin lama semakin tinggi rintihannya. Ia
melihat seorang anak perempuan kecil yang sedang berjuang merangkak
menuju ke pusat makanan. Disaat sang anak membungkuk kelelahan terlihat
seekor burung pemakan bangkai di tampilannya. Ia menunggu tampilan
terbaik dari burung pemakan bangkai, menunggu selama 20 menit, berharap
sang burung melebarkan sayapnya, namun burung tersebut tidak melebarkan
sayapnya, sang anak yang hampir mati kelaparan tersebut masih membungkuk
di tengah jalan. Setelah Carter mengambil gambar, ia mengejar burung
pemakai bangkai tersebut, mengusirnya, dan pergi.
Beberapa
hari setelahnya, New York Times membeli foto tersebut, gambar tersebut
langsung menjadi icon kesedihan Afrika. Ratusan orang menanyakan kabar
anak perempuan kecil tersebut, namun New York Times tidak dapat
menjawabnya, karena tidak ada laporan, apakah anak tersebut berhasil
sampai ke pusat makanan. Foto ini pun memenangkan penghargaan Pulitzer,
penghargaan fotografi tertinggi di dunia. Foto ini menggugah nurani
seluruh masyarakat dunia, membuka mata manusia akan kelaparan yang
terjadi di Afrika. Kalimat di atas menunjukkan bahwa, fotografi mampu
masuk ke dalam ranah sosial, menunjukkan pada dunia tentang realita
sosial yang tertutupi, menampilkan sebuah karya seni yang memiliki
nilai, karya seni yang menggetarkan emosi.
Namun
dibalik kesuksesan Kevin Carter itu, tidak banyak yang tahu
kehidupannya setelah peristiwa tersebut. Carter mendapat tekanan yang
cukup besar, karena dianggap hanya sibuk membidik kamera tanpa
mengindahkan nasib anak yang bersangkutan. Sayangnya, besarnya tekanan
ini membuat Carter, tidak kuat hati. Pada Juli 1994, ia memutuskan untuk
mengakhiri hidupnya sendiri dengan menghirup asap karbonmonoksida.
Kondisi sang fotografer fenomenal ini sangat tragis. Di dekat mayatnya,
terdapat secarik catatan yang berbunyi:
"I am depressed . without phone . money for rent . money for child support ... money for debts . money!!! . I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain . of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners."
“Saya depresi. tanpa telepon.. tanpa uang untuk membayar sewa.. tanpa uang untuk menolong anak-anak.. tanpa uang untuk membayar hutang.. Uang!! Saya dihantui memori yang menakutkan tentang pembunuhan, bangkai, kemarahan, kesakitan, kelaparan atau luka yang dialami para anak-anak”
Yah
begitulah akhir kisah hidup Kevin, sang fotografer yang berhasil
membuat karya fenomenal. Kalau saja, setelah ia mengambil gambar
tersebut dan segera menolong anak kecil tersebut untuk mencapai tempat
tersedianya makanan, mungkin ia tidak akan hidup dalam rasa bersalah
yang mencekam seperti itu. Menunggu
waktu yang tepat untuk mengambil sebuah gambar prestisius namun
kehilangan rasa iba terhadap anak kecil yang sedang memperjuangkan
kehidupannya.
Bagaimana dengan kita?
Hobby/interest, ambisi, mimpi bisa membutakan
kita terhadap setiap peristiwa memilukan yang sedang terjadi di sekitar
kita. Ruangan hati kita terlalu banyak dipenuhi oleh keinginan untuk
memuaskan kebutuhan diri sendiri tanpa sedikit pun ruang yang tersisa
untuk berempati pada orang lain yang tidak mempunyai ikatan fungsional
dengan keberadaan kita. Untuk apa semua yang kita kejar? Kalau hanya kehampaan yang akan ditemukan. Kehampaan karena tidak ada kasih di dalamnya.. Kehampaan karena tidak menemukan makna di dalamnya.. Kehampaan karena tidak bersama Tuhan..
Semoga
kutipan refleksi yang saya kutip ini, menjadi bahan perenungan untuk
teman-teman dan juga saya. Yang sedang menata masa depan, yang sedang
mempertanyakan panggilan hidup, yang sedang mempertanyakan makna kehidupan, yang sedang berusaha menjadi atau mengejar sesuatu.

