Kamis, 25 Juli 2013

The Bucket List





It's difficult to understand the sum of a person's life
Some poeple will tell you that it measured by the ones left behind
Some believe it can be measured in faith
Some say by love
Other folks say life has no meaning at all
Me?
I believe that you measure yourself by the people who measured themselves by you
What i can tell you for sure
Is that, by any measure
Edward Cole lived more in his last days on Earth than most people managed to wring out of a lifetime
I know that when he died his eyes were closed and his heart was open
(opening monolouge in The Bucket List Movie/picts taken from google.com)




Itu adalah monolog yang membuka film "the bucket list"
Temen-temen, boleh tidak saya sedikit subjektif? Saya harus bilang film ini  Sangat bagus!!
Hal yang jadi poin utama waktu nonton film ini, "Apa  yang ingin saya lakukan sebelum saya mati?"

Pernah tidak kita memikirkan hal ini? Film ini membuat saya benar-benar berfikir. Bukan sekedar terlintas di pikiran. Menurut saya ketika kita benar-benar berpikir mengenai hal ini, kita akan tahu apa yang  ingin kita lakukan  sepanjang sisa hidup kita.
Jangan sampai malah kita menjadi orang yang hanya sekedar hidup  tanpa arah, tanpa suatu dampak, atau tanpa melakukan hal-hal yang seharusnya bisa kita lakukan. Yaaah...saya tahu ini susah. Tapi setidaknya mari kita mencoba...

Ceritanya...
Alkisah ada dua orang tua yang sama-sama kena kanker.
Mereka sekamar.
Uniknya, mereka berdua adalah orang yang berbeda dalam segala hal.

Carter adalah seorang afro american, bekerja di bengkel, pernah kuliah sejarah tapi putus tengah jalan karena pacar yang menjadi istrinya hamil, orang yang memiliki iman kuat, sangat mencintai istri dan keluarganya serta orang yang pandai bergaul.

Edward adalah seorang amerika (white), billionare alias konglomerat ( RS tempat dia dirawat adalah punya Edward), merintis bisnis dari nol sejak usia 16 tahun, selalu gagal dalam pernikahan, tidak percaya Tuhan, hidup sendiri hanya ditemani seorang asisten yang setia.
Pertemuan mereka ini lucu sekali. karena,  Edward orangnya tidak bisa gaul. Terlalu selfish. Waktu berlalu dan  Edward sama  Carter akhirnya mulai akrab. Film ini membuat saya tertawa geli saat melihat dua orang tua sekarat ini menghabiskan waktu bersama. Adegan awal mereka akrab menurut saya cukup kocak.

.....
Pada suatu pagi,  Edward menemukan secarik kertas kuning di lantai. Ternyata kertas itu punya  Carter yang dia bunag dilantai, sudah kusut kertasnya. waktu Edward lagi asik-asik membaca isi tulisan di kertas itu, tiba-tiba muncul Carter dan bilang ke Edward kalau kertas itu punya dia dan si Carter meinta kembali kertas itu. Tetapi Edward ngotot tidak mau mengembalikan kertas itu dengan dalih bahwa kertas itu di temukan dilantai dalam keadaan remek atau kusut. Akhirnya Carter menyerah juga membiarkan kertas itu diambil Edward
Ternyata kertas itu yang namanya bucket list. Daftar hal-hal yang mau dilakukan  Carter sebelum meninggal.
Melihat daftar itu,  Edward tertarik. Muncul  ide gila di kepalanya dan bilang ke Edward untuk  melakukan hal-hal di kertas itu, juga menambah beberapa hal yang menurut dia bagus juga buat dilakukan. Awalnya Carter menolak. Tapi setelah dibujuk sama  Edward, akhirnya Carter   mau juga. Hehehe...

Disinilah serunya film ini, saat ke dua orang tua yang sudah tua ini melakukan smua hal gila dalam list itu.Saya tidak ingin menguraikan satu per satu hal-hal gila yang dilakukan Carter di tulisan ini, sebaiknya teman-teman menonton saja. Karena akan lebih seru tentunya. Hehehe

Nilai yang bisa saya pelajari dari The Bucket List ini yaitu, pertemuan mereka berdua, waktu hidup yang singkat, the bucket list, arti hidup, ukuran seberapa berharganya hidup seseorang, persahabatan, hal gila, semuanya mengarah ke satu hal: 


"Find the joy of your life! Be someone who can change at least one person's life"


Selamat menonton...