Senin, 15 Juli 2013

Pasangan hidup yang SEPADAN


Postingan ini bermula dari perbincangan saya dengan teman saya semalam via telpon. Seperi biasanya waktunya kami 'Kuliah Malam'. Yah, istilah yang kami pakai untuk setiap obrolan kami dimalam hari. Sesi dimana kami memperbincangan banyak hal. Kami larut dalam perbincangan dengan waktu yang cukup lama. Sebuah pertanyaan yang sedikit membuat saya tersentak. Sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban bahkan pernyataan saya saat itu. Jawaban yang membutuhkan pemahaman saya secara dewasa dalam Iman Percaya saya. Pandangan saya tentang hubungan Beda Keyakinan.

Well, Hubungan beda keyakinan (apapun agama itu) saya percaya bahwa setiap orang pasti tidak mau dihadapkan dalam setuasi seperti itu. Jika dikasi pilihan oleh  sang Khalik pasti mereka memilih hubungan dengan orang yang seiman. Mereka boleh terbebas dari berbagai resiko yang akan menjadi penghalang hubungan mereka. Tetapi bagaimana jika saya dihadapkan dalam posisi seperti itu?
  
Buat saya mencari orang seiman dan sepadan tidaklah mudah. Kadang  menemukan yang seiman namun tidak sepadan, kadang menemukan yang sepadan tetapi tidak seiman. Apakah yang mesti saya lakukan dalam kondisi seperti ini? Will see..

Kita tidak boleh berkompromi dalam hal yang paling penting yakni mencari yang pasangan seiman. Kita mungkin sepadan alias cocok namun bila tidak seiman, pernikahan kita tidaklah berkenan di hadapan Tuhan.

 
". .. ia bebas menikah dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya."
(1 Korintus 7:39)  

Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang
dengan orang-orang yang tidak percaya
(2 Korintus 6:14)



Saya tidak mau berkompromi dalam hal yang paling penting lainnya yakni mencari pasangan yang sepadan. Buat saya pernikahan tidak dibangun di atas kesamaan iman saja tetapi juga di atas kecocokan atau kesepadanan, mempunyai kesamaan visi dan misi. Janganlah menggampangkan dengan berkata bahwa selama seiman, maka segala masalah akan dapat diselesaikan. Mungkin saja akan dapat diselesaikan namun ketidaksepadanan tetap akan menyulitkan penyesuaian. 

Bila dua prasyarat ini terpenuhi, faktor lainnya dapat dikompromikan. Misalnya kriteria seberapa cantik dan tampan pasangan saya, tingkat pendidikannya, suku, kemapanan ekonomi, warna kulit dan penampilan fisik lainnya, semua ini adalah faktor yang terbuka untuk dipertimbangkan ulang. Meskipun semua ini dapat dipertimbangkan ulang, tetap satu pertanyaan yang mesti diajukan kepada diri sendiri adalah, "Dapatkah saya tinggal bersamanya dan terus menghormati serta mencintainya seumur hidup?" Dengan kata lain, sekali saya menerimanya, saya tidak boleh lagi membangkit-bangkitkan faktor yang tidak ada pada dirinya itu. Buat saya menerima berarti tidak menuntutnya lagi.

Hidup tidak hanya terdiri dari pernikahan dan prinsipnya saya tidak hidup hanya untuk menikah saja. Firman Tuhan mengingatkan saya;

"Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup,
tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi Untuk Dia,
yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka ."
(2 Korintus 5:15)

Saya hidup untuk Kristus; untuk orang-orang yang saya kasihi maupun mengasihi saya, dan yang terpenting buat saya saat ini  adalah melakukan pekerjaan-Nya selama kita hidup dan bisa menjadi berkat buat orang-orang disekeliling saya. Saya percaya jodoh sudah diatur Tuhan. Sebagai manusia saya hanya bisa berdoa dan berusaha; membuka hati, mengenali dan menjalani proses penyesuaian pribadi masing-masing. Dan pada akhirnya Tuhanlah yang menetukan hasilnya.